TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Dentingan harapan dan semangat pelayanan menggema di tengah kebersamaan para hamba Tuhan dan utusan jemaat yang berkumpul dalam Sidang Klasis VI Gereja Pentakosta di Papua (GPDP) Klasis Mimika, Jumat (19/6/2026). Bukan sekadar agenda organisasi, forum ini menjadi ruang perenungan, evaluasi, sekaligus penentu arah perjalanan gereja untuk lima tahun mendatang.
Di tengah dinamika pembangunan Papua yang terus bergerak, para pelayan gereja hadir membawa satu tekad yang sama: memastikan gereja tetap berdiri teguh, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan umat serta masyarakat di tengah perubahan zaman.
Mengusung tema “Mewujudkan Gereja yang Tangguh, Profesional, dan Relevan dalam Mendukung Pembangunan, Kerohanian, dan Pemberdayaan Masyarakat di Tanah Papua,” sidang tersebut dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Petrus Pali Ambaa, yang hadir mewakili Bupati Mimika.
Suasana pembukaan berlangsung khidmat ketika bunyi tifa menggema memecah keheningan ruangan. Penabuhan tifa dilakukan oleh Ketua Umum Sinode GPDP, Pdt. Dr. Robert R. Marini, M.Th., bersama Ketua Badan Pekerja Daerah GPDP Papua Tengah, Pdt. Yoyada Pambaba, sebagai tanda dimulainya forum tertinggi gereja di tingkat klasis tersebut.
Dalam sambutannya, Pdt. Robert menyampaikan bahwa GPDP saat ini telah berkembang dengan memiliki enam Badan Pekerja Daerah dan 37 klasis yang tersebar di seluruh Tanah Papua. Karena itu, menurutnya, GPDP Klasis Mimika memiliki posisi strategis dalam memperkuat pelayanan gereja sekaligus mendukung pembangunan masyarakat secara luas.
Ia menegaskan bahwa gereja masa kini tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus mampu tumbuh menjadi institusi yang tangguh, profesional, dan relevan di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.
“Gereja tidak boleh hanya hadir di dalam gedung ibadah, tetapi harus menjadi berkat dan menghadirkan solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat,” tegas Pdt. Robert dengan pesan yang menggugah seluruh peserta sidang.
Menurutnya, nilai-nilai Injil harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap pelayanan. Namun pada saat yang sama, tata kelola organisasi gereja juga harus dijalankan secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab agar mampu menjawab tuntutan zaman.
Ia menambahkan bahwa kehadiran gereja harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat melalui berbagai program pelayanan yang menyentuh bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pembinaan karakter umat.
Tak hanya itu, Pdt. Robert juga mengingatkan seluruh peserta sidang agar menjadikan persatuan sebagai landasan utama dalam setiap proses pengambilan keputusan.
“Kepentingan pelayanan harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok, sehingga keputusan yang lahir benar-benar menjadi berkat bagi gereja dan umat,” pesannya secara natural dalam semangat kebersamaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Sidang Klasis VI GPDP Mimika, Pdt. Reno Asmuruf, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan sidang tidak terlepas dari kerja sama seluruh panitia, jemaat, serta berbagai elemen yang memiliki perhatian terhadap kemajuan pelayanan gereja di Mimika.
“Melalui sidang ini, kami berharap lahir keputusan-keputusan yang mampu memperkuat pelayanan gereja, membangun persatuan jemaat, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Pdt. Reno.
Secara kontekstual, Sidang Klasis bukan hanya forum administratif gereja, melainkan instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan dan regenerasi kepemimpinan. Di tengah kompleksitas tantangan sosial, ekonomi, dan perkembangan masyarakat Papua, gereja dituntut tidak hanya menjadi pusat pembinaan iman, tetapi juga mitra strategis dalam pembangunan sumber daya manusia, penguatan karakter, serta pemberdayaan masyarakat di akar rumput.
Sidang Klasis VI GPDP Mimika dijadwalkan menghasilkan sejumlah keputusan strategis, termasuk pemilihan Badan Pekerja Klasis (BPK) dan Badan Pertimbangan dan Pengawasan Klasis (BP2K) yang akan memimpin GPDP Klasis Mimika periode 2026–2031.
Ketika suara tifa pembukaan telah bergema dan sidang mulai berjalan, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya pergantian kepemimpinan gereja. Lebih dari itu, forum ini sedang menenun arah masa depan pelayanan agar gereja tetap menjadi pelita yang menyala, menuntun umat, menguatkan masyarakat, dan menghadirkan harapan di Tanah Papua yang terus bertumbuh.


















