Johannes Rettob Gandeng Prof Elwin Tobing, Literasi Membaca Jadi Fondasi Besar Pembangunan SDM
JAKARTA |LINTASTIMOR.ID– Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur, sebuah percakapan tentang masa depan berlangsung dalam suasana yang jauh dari gegap gempita. Bukan tentang gedung pencakar langit, jalan raya, atau proyek-proyek beton yang menjulang tinggi. Yang dibahas justru sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan seorang anak untuk membaca.
Dari ruang pertemuan di Jakarta, Rabu (17/6/2026), Pemerintah Kabupaten Mimika mulai merajut sebuah ikhtiar besar. Bupati Mimika Johannes Rettob melakukan audiensi dengan akademisi diaspora Indonesia yang berkiprah di Amerika Serikat, Prof Elwin Tobing, guna menjajaki kerja sama dalam memperkuat literasi membaca bagi anak-anak Mimika.
Langkah ini lahir dari kesadaran yang jujur sekaligus mengusik. Di sejumlah wilayah, terutama kawasan pedalaman, masih terdapat siswa sekolah dasar yang belum mampu membaca meski telah duduk di kelas-kelas tinggi.
“Fokus kami adalah bagaimana meningkatkan literasi membaca. Kita akui masih banyak anak-anak, bahkan hingga kelas 5 SD, yang belum bisa membaca,” ujar Johannes Rettob.
Kalimat itu meluncur tanpa berusaha menutupi kenyataan. Sebab bagi Johannes, pembangunan tidak boleh hanya diukur dari apa yang tampak berdiri di atas tanah, melainkan juga dari apa yang tumbuh di dalam pikiran manusia.
Prof Elwin Tobing dinilai memiliki pengalaman dan berbagai program pengembangan sumber daya manusia yang berpotensi diadaptasi untuk menjawab tantangan pendidikan di Mimika. Karena itu, pemerintah daerah membuka peluang kerja sama dalam bentuk pendampingan intensif bagi siswa yang mengalami kesulitan membaca.
Rancangan program tersebut tidak berhenti pada tataran konsep. Pemkab Mimika berencana melibatkan tenaga lokal yang direkrut untuk mendampingi proses pembelajaran membaca di kampung-kampung. Dinas Pendidikan juga akan dilibatkan agar program berjalan secara sistematis dan berkelanjutan.
Sebagai fondasi awal, pemerintah daerah akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap siswa yang belum memiliki kemampuan membaca. Pendataan dilakukan secara detail berdasarkan nama dan sekolah agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.
“Setelah data terkumpul, baru kita tindak lanjuti dengan kerja sama resmi melalui MoU dan perjanjian kerja sama,” jelas Johannes.
Bagi Johannes Rettob, literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf demi huruf. Literasi adalah pintu pertama menuju perubahan. Karena itu, peningkatan kemampuan membaca ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Pada saat yang sama, Pemkab Mimika juga terus memperkuat kemampuan berhitung siswa melalui kerja sama yang telah lebih dahulu diformalkan bersama Prof Yohannes Surya. Dua pendekatan ini diharapkan menjadi fondasi kokoh dalam membangun kualitas sumber daya manusia Mimika di masa depan.
Membangun Manusia Sebelum Membangun Bangunan
Di banyak daerah, pembangunan sering kali identik dengan proyek fisik yang mudah dilihat dan diabadikan. Namun tantangan pendidikan, terutama literasi dasar, kerap menjadi pekerjaan sunyi yang hasilnya tidak langsung terlihat. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca pada usia sekolah dasar merupakan fondasi utama bagi keberhasilan pendidikan, produktivitas ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat pada masa mendatang.
Kesadaran itulah yang tampaknya sedang dibangun Mimika. Pemerintah daerah mulai menggeser fokus pembangunan ke arah yang lebih mendasar: memperkuat manusia sebelum memperbanyak bangunan.
“Kita membangun dari kampung ke kota. Jadi yang kita dorong bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk pendidikan dan kesehatan,” tegas Johannes.
Semangat tersebut menjadi alasan mengapa Pemkab Mimika terus membuka ruang kolaborasi dengan akademisi, lembaga pendidikan, maupun sektor swasta. Harapannya sederhana namun besar maknanya: mempercepat peningkatan kualitas pendidikan dan melahirkan masyarakat yang semakin maju, mandiri, serta berdaya saing.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi bangunan yang berdiri, melainkan oleh seberapa banyak anak yang mampu membuka buku, memahami dunia melalui kata-kata, lalu menulis masa depannya sendiri dengan penuh keyakinan.


















