Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Basarnas Menutup Operasi, Duka Flores Belum Usai

46
×

Basarnas Menutup Operasi, Duka Flores Belum Usai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAUMERE |LINTASTIMOR.ID — Senja di Flores pada Sabtu, 12 September 2026, datang membawa sebuah penanda penting. Pasca nyaris sebulan menyisir puing, menembus medan bencana, mengangkut korban dan mengantar harapan dari satu titik ke titik lainnya, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup Operasi SAR Gempa Flores 7,7 SR.

Operasi kemanusiaan itu berakhir pukul 18.00 WITA, seiring berakhirnya perpanjangan masa tanggap darurat yang berlangsung sejak 29 Agustus hingga 12 September 2026.

Example 300x600

Keputusan tersebut diambil pasca mempertimbangkan menurunnya aktivitas gempa susulan serta perubahan status penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur yang mulai memasuki masa transisi menuju pemulihan.

Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan penutupan operasi dilakukan setelah seluruh perkembangan situasi di lapangan dievaluasi.

“Operasi SAR Gempa 7,7 SR resmi ditutup hari ini, 12 September 2026, bersamaan dengan berakhirnya perpanjangan masa tanggap darurat dari tanggal 29 Agustus sampai dengan 12 September 2026.”

Pernyataan tersebut disampaikan Fathur mewakili Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii.

Namun, penutupan operasi bukan berarti pintu kemanusiaan ditutup. Basarnas memastikan mekanisme pencarian dan pertolongan tetap dapat kembali digerakkan apabila situasi di lapangan menuntut kehadiran Tim SAR.

Sejak gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, Basarnas bersama Tim SAR Gabungan bergerak dalam operasi kemanusiaan yang melibatkan TNI-Polri, pemerintah daerah, PMI, relawan, serta berbagai potensi SAR.

Mereka bekerja dalam satu garis kemanusiaan: mencari, menolong, mengevakuasi, dan memastikan korban mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Dalam operasi tersebut, helikopter Dauphin Basarnas turut dikerahkan untuk mendukung evakuasi medis, mobilisasi penanganan korban, dropping bantuan, serta mobilisasi tenaga medis dari Kementerian Kesehatan.

Ketika operasi ditutup, kemanusiaan tetap berjaga

Secara kebencanaan, berakhirnya masa tanggap darurat menandai perubahan fase penanganan dari respons darurat menuju transisi pemulihan. Artinya, orientasi penanganan tidak lagi semata-mata berpusat pada pencarian dan evakuasi, tetapi mulai bergeser pada pemulihan kehidupan masyarakat serta pemulihan wilayah terdampak. Meski demikian, potensi risiko tetap harus diantisipasi karena kondisi pascabencana tidak serta-merta kembali normal hanya karena operasi SAR resmi dihentikan.

Fathur menegaskan, apabila perkembangan situasi kembali membutuhkan tindakan pencarian dan pertolongan, operasi dapat dibuka kembali.

“Apabila di kemudian hari terdapat permintaan evakuasi maupun penemuan korban, maka Operasi SAR Gempa Flores akan dibuka kembali sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.”

Kalimat itu menjadi semacam pintu yang sengaja tidak dikunci rapat. Sebab dalam kerja kemanusiaan, akhir sebuah operasi bukanlah akhir dari kepedulian.

Fathur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur Tim SAR Gabungan yang telah menjalankan misi selama masa operasi.

“Sinergi Tim SAR Gabungan menjadi wujud nyata bersatunya seluruh unsur SAR dalam menjalankan misi kemanusiaan.”

Di Flores, operasi boleh berakhir pada pukul 18.00 WITA. Tetapi jejak para pencari dan penolong tidak berhenti bersama tenggelamnya matahari.

Sebab ketika sirene SAR berhenti berbunyi, harapan masyarakat tidak boleh ikut diam.

Example 300250