SIKKA |LINTASTIMOR.ID— Senja di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, seolah ikut menahan napas ketika iring-iringan kendaraan membawa peti jenazah drh. Alfonsius Albinus Mehan melintas perlahan. Di ambang Rumah Duka Wailiti, pada Sabtu (12/9/2026) sore itu, ketabahan Ibu Tiur Hutagalung akhirnya menemukan batasnya. Begitu sosok suami yang gugur saat menunaikan tugas negara di Papua Pegunungan itu tiba, tubuh rapuh sang istri tak lagi mampu menopang beban nestapa; ia pingsan, jatuh dalam dekapan duka yang paling purba.
Tim medis darurat yang telah disiagakan di lokasi sigap bergerak, memberikan oksigen dan cairan infus untuk mengembalikan kesadaran Ibu Tiur.
Kondisi sang ibu mulai stabil, namun getaran kehilangan masih menyisakan kerapuhan yang nyata.
“Beban emosional ini luar biasa berat, manifestasi dari cinta yang tiba-tiba terputus paksa.
— Anggota Keluarga Besar Almarhum drh. Alfonsius Mehan
Wailiti, Sabtu (12/9/2026)
Ia kini memerlukan pendampingan intensif, bukan hanya untuk memulihkan denyut nadi, tetapi juga untuk merajut kembali kepingan jiwa yang retak. Di satu sisi, keluarga besar berupaya menjaga privasi dan ketenangan sang istri agar proses pemulihan fisik maupun psikologis tidak terganggu oleh arus lalu lintas berita yang terus menghampiri.
Di balik peristiwa ini, terdapat dimensi pengorbanan yang sering kali luput dari hitungan statistik negara. Kematian drh. Alfonsius di Papua Pegunungan adalah bukti bakti, namun pingsannya Ibu Tiur di Sikka adalah tagihan nyata atas harga sebuah pengabdian.
Negara mungkin mencatatnya sebagai pahlawan kemanusiaan, tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, ini adalah luka mendalam yang menuntut dukungan sosial, spiritual, dan psikologis sebagai kewajiban moral — bukan hanya formalitas upacara kenegaraan. Kita perlu menanyakan: seberapa siap ли bangsa ini merawat para pahlawannya setelah mereka pulang? Jika jawabannya masih rapuh, maka setiap kepulangan jenazah akan terus menjadi cerita duka yang berulang, bukan penghormatan yang utuh.
Kini, di tengah hiruk-pikuk berita kepulangan jenazah, privasi keluarga adalah benteng terakhir yang harus dihormati. Warga dan media diminta menjaga ketenangan, membiarkan Ibu Tiur beserta ketiga anak almarhum menyembuhkan diri tanpa gangguan. Selamat jalan, drh. Alfonsius Albinus Mehan; jasamu mungkin telah usai, namun kasih sayangmu abadi dalam setiap doa yang dipanjatkan bagi mereka yang bertahan hidup untuknya. 🕊️


















