Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKesehatanNasionalPeristiwaTeknologi

Wereng Mengancam Panen, Petani Kalilandak Memilih Berinovasi

11
×

Wereng Mengancam Panen, Petani Kalilandak Memilih Berinovasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BANJARNEGARA |LINTASTIMOR.ID— Di antara hamparan sawah Desa Kalilandak, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, ancaman itu datang dalam ukuran kecil, tetapi dampaknya dapat menjalar jauh. Wereng menyerang tanaman, merusak harapan panen, dan memaksa petani berhadapan dengan pilihan yang tidak sederhana: mempertahankan produksi atau terus bergantung pada pestisida kimia.

Di tengah kegelisahan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University membawa sebuah gagasan yang sederhana, tetapi berakar pada potensi di sekitar.

Example 300x600

Bahwa solusi atas persoalan pertanian tidak selalu harus datang dari sesuatu yang mahal dan sulit diperoleh. Kadang, jawaban justru tumbuh di halaman rumah, di antara dedaunan yang selama ini dipandang biasa.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui Seminar Pertanian bertajuk Inovasi Pestisida Nabati Berbasis Potensi Lokal untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Desa Kalilandak, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dan pengalaman petani sekaligus respons atas tingginya serangan hama wereng yang menjadi salah satu persoalan utama pertanian di desa tersebut.

Bagi petani, serangan wereng bukan sekadar perkara hama. Ia menyentuh langsung persoalan produktivitas, biaya produksi, dan ketahanan ekonomi keluarga. Kerusakan tanaman berpotensi menurunkan hasil panen, sementara penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus dapat meningkatkan ketergantungan terhadap input pertanian dari luar.

Seminar menghadirkan dua narasumber dari IPB University, yakni Dr. Bonjok Istiaji, S.P., M.Si. dan Dr. Ir. Heni Purnamawati, M.Sc.,Agr.

Pada sesi pertama, Dr. Bonjok Istiaji memaparkan pentingnya pertanian berkelanjutan melalui pengurangan penggunaan pestisida kimia serta mendorong pemanfaatan biopestisida nabati sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

Selanjutnya, Dr. Heni Purnamawati menyampaikan materi mengenai teknik budidaya tanaman yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal sekaligus meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama.

Pengetahuan itu kemudian dibawa turun dari ruang seminar menuju praktik. Tim KKN-T IPB University memperkenalkan daun pepaya sebagai bahan utama pembuatan biopestisida nabati.

Daun yang tumbuh sederhana di sekitar lingkungan masyarakat itu diketahui mengandung senyawa aktif yang mampu membantu mengendalikan berbagai jenis hama tanaman. Pemanfaatannya berpotensi menjadi alternatif yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

Bagi petani, gagasan tersebut bukan sekadar teori. Ia diuji melalui tangan, pertanyaan, dan rasa ingin tahu.

Kegiatan melibatkan lima kelompok tani yang berasal dari lima dusun di Desa Kalilandak. Para peserta tidak hanya menyimak pemaparan materi, tetapi juga mendapat kesempatan berdiskusi langsung dengan para narasumber melalui sesi tanya jawab.

Suasana semakin hidup ketika demonstrasi pembuatan biopestisida nabati dimulai. Peserta mengikuti setiap tahapan proses dengan antusias. Pertanyaan mengalir, mulai dari proses pembuatan hingga penerapannya di lahan pertanian.

Pada titik itu, seminar tidak lagi sekadar menjadi forum berbagi pengetahuan. Ia berubah menjadi proses belajar bersama—ketika ilmu dari kampus bertemu dengan pengalaman panjang petani membaca musim, mengenali tanaman, dan menghadapi hama.

“Terima kasih kepada mahasiswa KKN-T IPB University yang telah mengadakan kegiatan ini. Kelompok tani di Desa Kalilandak kini lebih memahami cara pembuatan dan penggunaan biopestisida nabati yang dibutuhkan masyarakat. Kami merasa bersyukur atas kehadiran mahasiswa KKN karena telah memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat.”

— Pak Daryo, perwakilan kelompok tani Desa Kalilandak

Koordinator KKN-T Desa Kalilandak, Adib Adjimas Satrio, berharap pengetahuan yang dibagikan tidak berhenti sebagai materi seminar, tetapi dapat tumbuh menjadi praktik yang diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Harapannya, petani dapat menerapkan pembuatan biopestisida secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.”

— Adib Adjimas Satrio, Koordinator KKN-T Desa Kalilandak

Dalam konteks pertanian berkelanjutan, inovasi tersebut memiliki arti strategis. Pengendalian hama berbasis bahan lokal bukan hanya berbicara tentang upaya mengurangi penggunaan pestisida kimia, tetapi juga tentang membangun kemandirian petani dalam mengelola lahan. Ketika pengetahuan dapat dipadukan dengan sumber daya yang tersedia di sekitar, petani memiliki peluang mengembangkan solusi yang lebih terjangkau sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Namun, keberlanjutan inovasi tersebut tetap membutuhkan penerapan yang tepat, pendampingan, dan evaluasi efektivitasnya di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata dalam jangka panjang.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T IPB University mempertemukan dua dunia yang kerap berjalan beriringan tetapi tidak selalu bertemu: ilmu pengetahuan dan kehidupan petani. Dari ruang seminar hingga hamparan sawah, dari paparan akademik hingga daun pepaya yang diolah menjadi biopestisida, sebuah pesan sederhana menemukan bentuknya—bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari apa yang tumbuh paling dekat dengan manusia.

Sebab, di tengah ancaman wereng dan kecemasan tentang panen, masa depan pertanian mungkin tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Bisa jadi, ia tumbuh perlahan dari pengetahuan yang dibagikan, dari tangan petani yang mau mencoba, dan dari sehelai daun yang selama ini diam-diam menyimpan harapan.

Example 300250