TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Laut Arafura kembali menyimpan kisah panjang tentang keteguhan manusia menghadapi alam. Di antara gelombang yang bergulung dan cuaca yang tak menentu, sebuah speed boat bermesin 85 PK yang mengangkut buah apel dari Timika menuju Asmat sempat menghilang tanpa kabar selama empat hari, meninggalkan kecemasan bagi keluarga dan harapan yang menggantung di cakrawala.
Speed boat tersebut ditumpangi satu orang bernama Rally Farneubun (40). Ia berangkat dari Timika menuju Asmat pada Senin (1/6/2026) dan dijadwalkan tiba pada hari yang sama. Namun perjalanan yang seharusnya berlangsung biasa itu berubah menjadi misteri ketika hingga Jumat pagi (5/6/2026), keberadaan kapal maupun penumpangnya belum diketahui.
Laporan kehilangan itu segera diterima petugas jaga Pos SAR Asmat. Waktu seakan berpacu dengan harapan. Setiap jam yang berlalu menjadi penanda bertambah panjangnya kecemasan di tengah bentangan laut yang luas dan sulit diprediksi.
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika, I Wayan Suyatna, S.H., M.M., melalui Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Asmat, Wagianto, langsung mengerahkan tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Rescuer SAR Asmat, TNI AL, dan Polairud.
Tim bergerak menggunakan RIB 85 PK milik Basarnas, menyisir jalur pelayaran yang biasa dilalui speed boat tujuan Asmat. Di tengah hamparan laut yang nyaris tanpa batas, mereka menelusuri setiap kemungkinan dengan satu tujuan: menemukan tanda kehidupan.
╔════════════════════════════════════╗ ║ “Begitu laporan diterima, tim SAR ║ ║ gabungan langsung bergerak melakukan║ ║ pencarian pada rute yang biasa ║ ║ dilalui speed boat tersebut.” ║ ╚════════════════════════════════════╝
Harapan itu akhirnya menemukan jawabannya pada sekitar pukul 16.00 WIT. Tim SAR gabungan memperoleh informasi bahwa speed boat yang dicari telah ditemukan oleh sebuah kapal nelayan di sekitar perairan Timika, berjarak kurang lebih 23 nautical mile dari Muara Poumako.
Kabar yang ditunggu itu datang membawa kelegaan: Rally Farneubun ditemukan dalam keadaan selamat bersama speed boat yang ditumpanginya.
Penemuan tersebut menjadi titik terang setelah empat hari ketidakpastian yang menyelimuti pencarian. Laut yang sempat menyembunyikan jejak perjalanan itu akhirnya mengembalikan kabar baik kepada mereka yang menanti.
Namun proses evakuasi belum sepenuhnya berjalan mulus. Sekitar pukul 17.30 WIT, tim SAR kembali menerima informasi bahwa kapal nelayan yang mengevakuasi korban belum dapat mendekati Muara Poumako akibat cuaca buruk yang melanda perairan setempat.
Rencananya, kapal tersebut akan kembali bergerak menuju Muara Poumako pada keesokan harinya setelah kondisi cuaca membaik, sehingga korban dan speed boat dapat dijemput oleh tim SAR gabungan dari Timika.
Laut, Cuaca, dan Risiko Jalur Pelayaran Selatan Papua
Peristiwa ini kembali mengingatkan tingginya risiko pelayaran tradisional di wilayah pesisir selatan Papua, khususnya pada jalur Timika–Asmat yang kerap dipengaruhi perubahan cuaca secara cepat. Gelombang, angin, dan keterbatasan komunikasi di sejumlah titik perairan menjadi tantangan nyata yang dapat mengubah perjalanan rutin menjadi operasi pencarian dan penyelamatan yang kompleks.
Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang sebuah speed boat yang hilang kontak. Ini adalah cerita tentang harapan yang bertahan di tengah ketidakpastian, tentang kerja senyap para pencari kehidupan di laut, dan tentang bagaimana kabar keselamatan selalu menjadi pelabuhan paling menenangkan bagi mereka yang menunggu di daratan.


















