TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di sejumlah distrik pedalaman Mimika, cuaca sering kali menjadi penentu nasib perjalanan. Kabut turun tanpa aba-aba, hujan membelah langit pegunungan, dan jalur transportasi mendadak terputus. Namun, di tengah keterbatasan itu, pelayanan kesehatan tidak boleh ikut berhenti.
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berupaya memastikan mobilitas tenaga kesehatan ke wilayah-wilayah terpencil tetap terlayani. Dengan dukungan Dana Otonomi Khusus (Otsus), berbagai fasilitas transportasi, baik melalui jalur darat maupun udara, disiapkan agar para tenaga kesehatan dapat menjangkau tempat pengabdiannya.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, menegaskan bahwa seluruh kebutuhan transportasi bagi tenaga kesehatan telah difasilitasi guna menjaga keberlangsungan pelayanan di distrik-distrik pedalaman.
“Semua kami fasilitasi, termasuk transportasi. Tujuannya agar teman-teman tenaga kesehatan bisa mendapatkan akses antar-jemput ke tempat tugas di pedalaman dengan lebih mudah,” ujar Godfried Maturbongs di Timika, Rabu (21/7/2026).
Namun, medan geografis Papua yang keras masih menjadi tantangan tersendiri. Hingga kini, delapan tenaga kesehatan yang telah menyelesaikan masa tugas di Distrik Alama belum dapat dievakuasi ke Timika karena kondisi cuaca dan jadwal penerbangan yang belum memungkinkan.
Situasi itu menggambarkan betapa pelayanan kesehatan di pedalaman tidak hanya bergantung pada ketersediaan tenaga medis, tetapi juga pada faktor alam yang kerap sulit diprediksi.
“Kami sudah membayar jasa penerbangan maskapai, namun mereka belum bisa dievakuasi ke Timika karena terkendala jadwal penerbangan dan cuaca yang belum memungkinkan,” jelasnya.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Dinas Kesehatan memastikan keselamatan para tenaga kesehatan tetap menjadi perhatian utama. Apabila ada petugas yang mengalami gangguan kesehatan selama menjalankan tugas, proses evakuasi akan diprioritaskan.
“Jika ada teman-teman yang mengalami sakit, itu menjadi prioritas utama kami untuk segera dievakuasi,” kata Godfried.
Persoalan transportasi di wilayah pedalaman Papua selama ini memang menjadi tantangan klasik dalam penyelenggaraan pelayanan publik, termasuk sektor kesehatan. Jarak yang jauh, akses yang terbatas, serta ketergantungan pada transportasi udara menjadikan biaya operasional tinggi dan pelayanan rentan terganggu ketika cuaca memburuk. Dalam konteks itu, dukungan Dana Otsus menjadi instrumen penting untuk memastikan negara tetap hadir hingga ke wilayah-wilayah yang paling sulit dijangkau.
Di balik angka-angka program dan laporan birokrasi, ada para tenaga kesehatan yang memilih bertahan di distrik-distrik terpencil, melayani masyarakat di tengah keterbatasan fasilitas dan medan yang tidak mudah. Karena itu, menjaga mobilitas mereka bukan sekadar soal transportasi, melainkan bentuk penghargaan atas pengabdian yang menjaga denyut kehidupan di pedalaman Papua tetap menyala.


















