Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Saat Pelajar Mimika Belajar Menjaga Kamtibmas

10
×

Saat Pelajar Mimika Belajar Menjaga Kamtibmas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA| LINTASTIMOR.ID — Siang belum benar-benar beranjak ketika ruang sekolah di SMK Hermon Timika dipenuhi suara anak-anak muda. Di hadapan mereka, pesan tentang keamanan tidak datang sebagai deretan larangan semata, melainkan sebagai ajakan untuk memahami satu hal sederhana: masa depan Mimika juga tumbuh dari cara para pelajarnya menjaga diri hari ini.

Kamis, 1 Oktober 2026, Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Mimika bersama Karang Taruna Kabupaten Mimika hadir di tengah para pelajar SMK Hermon, Papua Tengah.

Example 300x600

Pertemuan itu membawa satu tema besar: keamanan dimulai dari sikap kita sehari-hari.

Bagi kepolisian, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas bukan pekerjaan yang hanya berdiri di pundak polisi. Sekolah, guru, orang tua, masyarakat, dan terutama para pelajar memiliki ruang yang sama untuk ikut menjaga lingkungan tetap aman.

Kepala Sat Binmas Polres Mimika, AKP Budiman Sianturi, memimpin kegiatan tersebut bersama Aiptu Beatriks Rumaseb dan Brigpol Nixon Mehue, S.H. Mereka didampingi sejumlah anggota Karang Taruna Kabupaten Mimika.

Kepala SMK Hermon, Yuliana Tokang Balaesi, S.Th., M.Pd., turut hadir bersama perwakilan Karang Taruna, Pernus Tarasen, Fitri, Putri, Novita Surinde, Martafince Kambuaya, dan Jumiati Mandowen.

Dari Ruang Sekolah, Pesan Itu Dimulai

Kegiatan diawali dengan ilustrasi tentang semangat generasi muda. Tim Karang Taruna dan personel Sat Binmas kemudian memperkenalkan diri kepada para pelajar.

Suasana perlahan mengarah pada pembicaraan yang lebih serius.

Tentang disiplin.

Tentang pergaulan.

Tentang pilihan-pilihan kecil yang terkadang dianggap sepele, tetapi dapat membawa seorang anak muda berhadapan dengan persoalan hukum.

Budiman mengingatkan bahwa Kamtibmas di Kabupaten Mimika bukan semata-mata urusan kepolisian.

“Keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi. Sekolah, orang tua, masyarakat, dan para pelajar memiliki peran yang sama untuk menjaganya.”

Pesan itu kemudian diarahkan lebih dekat kepada kehidupan para siswa.

Mereka diminta menaati tata tertib sekolah dan tidak meninggalkan lingkungan sekolah selama jam pelajaran tanpa alasan yang jelas.

Koordinasi antara kepolisian dan pihak sekolah, kata Budiman, telah dibangun untuk menangani siswa yang meninggalkan sekolah tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, disiplin tidak selalu dimulai dari perkara besar.

Kadang ia tumbuh dari keputusan sederhana: tetap berada di kelas ketika jam pelajaran berlangsung, menghormati guru, pulang tepat waktu, dan tidak mengikuti ajakan yang dapat menyeret seseorang ke dalam persoalan.

Ketika Pergaulan Menjadi Persimpangan

Materi sosialisasi kemudian disampaikan Aiptu Beatriks Rumaseb dan Brigpol Nixon Mehue.

Tema yang mereka bawa sederhana, tetapi dekat dengan keseharian para pelajar: “Keamanan Dimulai dari Sikap Kita Sehari-hari.”

Di usia ketika pertemanan begitu kuat memengaruhi pilihan, para pelajar diajak memahami bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik.

Sikap juga menentukan arah.

Para siswa diingatkan menjauhi tawuran, perkelahian antarpelajar, minuman keras, narkoba, serta berbagai bentuk tindakan kriminal.

Mereka juga diajak lebih bijak menggunakan media sosial.

Di ruang digital, sebuah unggahan dapat menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan seseorang untuk menariknya kembali. Sebuah ejekan dapat berubah menjadi pertengkaran. Sebuah provokasi dapat menjelma konflik.

Karena itu, para pelajar diminta menolak perundungan atau bullying, menghindari konflik antarkelompok maupun antarsuku, serta tidak mudah terseret oleh ajakan yang berpotensi menimbulkan persoalan hukum.

Pesan yang disampaikan bukan sekadar tentang apa yang tidak boleh dilakukan.

Lebih jauh, para pelajar diajak memahami apa yang dapat mereka lakukan.

Mematuhi aturan sekolah.

Menghormati guru dan orang tua.

Mengikuti kegiatan positif.

Menolak kekerasan.

Dan ketika melihat ancaman terhadap keamanan, berani menyampaikannya kepada pihak yang berwenang.

Deklarasi dari Anak-Anak Muda Mimika

Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali menghangat.

Para pelajar berdiri bersama pemateri, guru, dan tim Karang Taruna. Mereka mengucapkan Deklarasi Pelajar Indonesia Jaga Kamtibmas di Kabupaten Mimika.

Deklarasi tersebut direkam dalam bentuk video sebagai tanda komitmen bersama menjaga persatuan, keamanan, dan perdamaian.

Di balik kamera, ada pesan yang jauh lebih panjang daripada durasi rekaman.

Bahwa keamanan tidak selalu dimulai dari sirene kendaraan polisi.

Tidak selalu pula dimulai dari sebuah operasi penertiban.

Keamanan dapat dimulai dari seorang pelajar yang memilih tidak ikut berkelahi.

Dari seorang teman yang berani menghentikan perundungan.

Dari siswa yang menolak narkoba dan minuman keras.

Atau dari anak muda yang memilih pulang ke rumah daripada mengikuti ajakan yang dapat membawanya ke persoalan hukum.

Di situlah pendidikan Kamtibmas menemukan maknanya.

Bukan sekadar membuat pelajar takut kepada hukum, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang ikut menentukan wajah keamanan Mimika.

Pesan yang Pulang Bersama Mereka

Sekitar pukul 12.20 WIT, kegiatan berakhir.

Para pelajar, guru, personel Sat Binmas, dan Karang Taruna mengabadikan pertemuan tersebut dalam foto bersama. Setelah itu, satu per satu mereka kembali pada aktivitas masing-masing.

Personel kepolisian kembali ke tempat tugas.

Tim Karang Taruna melanjutkan aktivitas mereka.

Sementara para pelajar kembali ke ruang sekolah dan kehidupan mereka.

Namun pesan yang disampaikan hari itu diharapkan tidak berhenti di ruang pertemuan.

Sebab sekolah bukan hanya tempat mengejar angka-angka akademik. Di sana, karakter juga dibentuk. Di sana, anak-anak muda belajar membedakan keberanian dari kenekatan, kebebasan dari kebablasan, dan persahabatan dari ajakan yang menjerumuskan.

Dari SMK Hermon, pesan itu sederhana: menjaga Mimika tidak harus menunggu menjadi dewasa.

Ia dapat dimulai sekarang.

Dari cara seorang pelajar menjaga dirinya, menghormati orang lain, menaati aturan, dan berani memilih jalan yang benar.

Example 300250