Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Dari Tapal Batas, Pemda Belu Menjaga Sejarah Leluhur

111
×

Dari Tapal Batas, Pemda Belu Menjaga Sejarah Leluhur

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA  |LINTASTIMOR.ID— Sejarah tidak selalu tinggal di dalam buku.

Kadang ia melekat pada sehelai tenun yang dikerjakan dengan kesabaran tangan-tangan perempuan Timor. Ia berdiam dalam artefak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia hidup dalam ingatan tentang tanah, leluhur, dan peristiwa-peristiwa yang pernah melintas di sebuah wilayah yang hari ini dikenal sebagai garis batas Indonesia dan Timor-Leste.

Example 300x600

Di Jakarta, Kamis (1/10/2026), ingatan tentang tanah perbatasan itu dibawa ke meja audiensi.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., bertemu Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., di Kantor Kementerian Kebudayaan. Pertemuan tersebut tidak hanya berbicara tentang kebudayaan dalam pengertian yang luas, tetapi juga tentang sebuah gagasan yang hendak diberi ruang untuk tumbuh: pembangunan Museum Perbatasan di Kabupaten Belu.

Bagi Belu, gagasan itu memiliki arti lebih jauh daripada mendirikan sebuah bangunan.

Museum tersebut diharapkan menjadi rumah bagi ingatan kolektif masyarakat perbatasan—tempat sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh generasi yang lahir jauh setelah berbagai peristiwa itu berlangsung.

Di hadapan Menteri Kebudayaan, Bupati Belu menegaskan bahwa Belu bukan semata-mata sebuah wilayah yang berada di tepian negara.

Belu adalah ruang sejarah.

Di tanah itu, perjalanan panjang masyarakat Timor meninggalkan jejak dalam tradisi, tenun, artefak, peninggalan sejarah, serta berbagai warisan leluhur yang membentuk identitas masyarakat hingga hari ini.

“Belu bukan sekadar wilayah perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Belu memiliki sejarah panjang, kekayaan budaya, dan warisan leluhur yang perlu dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang.”

Gagasan museum kemudian ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar.

Benda-benda sejarah tidak cukup hanya disimpan di balik kaca. Cerita di balik benda-benda itulah yang harus dihidupkan kembali.

Karena itu, Museum Perbatasan yang direncanakan di Belu diharapkan menjadi ruang edukasi, pusat informasi sejarah sekaligus pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan budaya Timor dan perjalanan sejarah kawasan perbatasan kepada masyarakat luas.

Di sana, sebuah kain tenun bukan hanya kain.

Sebuah artefak bukan sekadar benda tua.

Dan sebuah peninggalan sejarah bukan hanya barang yang selamat dari perjalanan waktu.

Semuanya membawa cerita.

Cerita tentang manusia, leluhur, tradisi, perubahan zaman, dan sebuah wilayah yang selama puluhan tahun berdiri di antara dua negara dengan sejarah yang saling berkelindan.

DARI GARIS BATAS MENUJU RUANG BUDAYA

Perbatasan sering kali dibayangkan melalui patok negara, pos lintas batas, pagar, jalan raya, dan pemeriksaan dokumen.

Namun bagi masyarakat Belu, perbatasan juga memiliki wajah lain.

Ia adalah ruang kebudayaan.

Bahasa, adat, tenun, tarian, ritual, sejarah lisan dan berbagai tradisi hidup berdampingan dengan dinamika sebuah daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Karena itu, pembangunan Museum Perbatasan diharapkan dapat memperluas cara pandang terhadap Belu.

Perbatasan tidak hanya menjadi tempat bertemunya dua wilayah negara, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sejarah dan kebudayaan.

Museum itu kelak diharapkan mampu menjadi tempat masyarakat mengenali kembali akar budayanya sendiri sekaligus memperkenalkan kekayaan tersebut kepada pengunjung dari berbagai daerah, bahkan dunia.

Gagasan itu menjadi semakin penting ketika generasi berganti.

Apa yang hari ini masih tersimpan dalam ingatan para tetua, suatu ketika dapat memudar apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan dengan baik.

Museum, dalam konteks itu, bukan sekadar bangunan.

Ia adalah upaya menyelamatkan ingatan.

BUDAYA YANG TAK BOLEH HILANG DITELAN ZAMAN

Dalam audiensi tersebut, pembahasan juga diarahkan pada penguatan kerja sama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam bidang kebudayaan.

Bupati Belu turut mengundang Menteri Kebudayaan beserta jajaran untuk menghadiri Festival Fulan Fehan 2027.

Festival itu diharapkan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebudayaan Belu dengan perhatian publik yang lebih luas.

Undangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan peninggalan masa lalu. Kebudayaan juga harus diberi ruang untuk hidup, dipertunjukkan, diperkenalkan, dan diwariskan.

Di titik inilah museum dan festival memiliki garis yang sama.

Museum menjaga ingatan.

Festival menghidupkan ekspresi budaya.

Keduanya bertemu pada satu tujuan: memastikan kebudayaan Belu tidak berhenti sebagai cerita yang hanya diketahui oleh generasi hari ini.

JAKARTA MENDENGAR SUARA PERBATASAN

Audiensi itu turut dihadiri Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Sejarah dan Permuseuman Endah Budi Heryani, Executive Director Yayasan Arsari Djojohadikusumo Catrini Pratihari Kubontubuh, serta Ketua TP PKK Kabupaten Belu.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah Kabupaten Belu untuk membangun sinergi dengan pemerintah pusat dalam memperkuat pelestarian sejarah dan budaya.

Dari Jakarta, gagasan tentang museum itu kembali diarahkan ke Belu—ke tanah tempat cerita-cerita tersebut berasal.

Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari jalan, gedung, dan angka-angka pembangunan.

Bangsa juga dibangun dari ingatan.

Dan di sebuah wilayah perbatasan seperti Belu, ingatan itu memiliki nilai yang jauh lebih besar.

Ia menjadi penanda siapa mereka, dari mana mereka datang, dan warisan apa yang harus mereka tinggalkan kepada anak cucu.

Jika kelak Museum Perbatasan itu berdiri, mungkin yang paling penting bukan kemegahan bangunannya.

Yang lebih penting adalah ketika seorang anak Belu berjalan masuk ke dalamnya, lalu menemukan sejarah leluhurnya di hadapan mata.

Saat itu, masa lalu tidak lagi terasa jauh.

Ia hadir sebagai cerita yang hidup.

Dan dari sanalah masa depan sebuah kebudayaan dapat dimulai.

Example 300250