TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di Timika bukan hanya tentang anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan seragam dan tas di punggung. Di rumah-rumah warga, ada ibu hamil yang sedang menjaga kehidupan di dalam rahimnya, ibu menyusui yang membutuhkan asupan lebih, dan balita yang sedang tumbuh dalam masa paling penting kehidupannya.
Mereka mungkin tidak berdiri di halaman sekolah ketika makanan bergizi dibagikan.
Namun, mereka juga menjadi bagian dari perhatian negara melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di Timika, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Papua Tengah memastikan program tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah. Kelompok rentan—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—juga mendapat bagian melalui mekanisme pelayanan yang melibatkan kader Posyandu.
Koordinator BGN Regional Papua Tengah, Nalensius Situmorang, ST, mengatakan pemberian MBG bagi kelompok rentan dilakukan setiap hari.
Hanya saja, makanan yang diberikan tidak dibuat dengan pola yang seragam.
Sebab, tubuh ibu hamil berbeda dengan kebutuhan seorang balita. Begitu pula ibu menyusui memiliki kebutuhan gizi yang tidak sama dengan anak usia sekolah.
“Untuk ibu hamil, ibu menyusui dan balita, teknis pelayanannya sama, yakni diberikan setiap hari. Namun, menunya disesuaikan karena mereka termasuk kelompok rentan sehingga penyajian dan kandungan gizinya harus benar-benar diperhatikan,” kata Nalensius saat ditemui di Timika, Jumat (2/10/2026).
Makanan Bergizi Berangkat dari Dapur
Dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), makanan disiapkan sebelum perjalanan menuju Posyandu.
Di tempat itulah jalur pelayanan bertemu dengan masyarakat.
Makanan yang telah disiapkan kemudian diantarkan ke Posyandu. Kader Posyandu menjadi penghubung antara penyedia makanan dan kelompok penerima manfaat.
Mereka membantu mengumpulkan penerima sekaligus memastikan makanan dapat disalurkan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Bagi BGN, pola tersebut bukan sekadar persoalan distribusi.
Ada kebutuhan untuk memastikan makanan yang disiapkan setiap hari benar-benar sampai kepada mereka yang menjadi sasaran.
“Untuk distribusinya, kami dari SPPG berkolaborasi dengan kader-kader Posyandu. Makanan diantarkan ke Posyandu, kemudian ibu hamil dan ibu menyusui dikumpulkan untuk selanjutnya didistribusikan,” ujar Nalensius.
Di balik mekanisme itu, terdapat peran kader Posyandu yang bekerja dekat dengan masyarakat.
Mereka mengenal lingkungan, mengetahui penerima manfaat, dan menjadi bagian dari rantai pelayanan yang membuat program tersebut dapat menjangkau kelompok yang membutuhkan.
Tidak Semua Piring Memiliki Kebutuhan Sama
Program makan bergizi tidak berarti setiap penerima mendapatkan menu yang sama.
Nalensius menjelaskan, makanan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Karena itu, menu yang diberikan kepada kelompok rentan tidak sepenuhnya disamakan dengan makanan untuk anak sekolah.
Prinsipnya sederhana: makanan harus mengikuti kebutuhan tubuh penerimanya.
Pada ibu hamil, perhatian terhadap kandungan gizi menjadi bagian penting karena makanan yang dikonsumsi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan sang ibu, tetapi juga pertumbuhan janin.
Pada ibu menyusui, kebutuhan gizi juga memiliki karakteristik tersendiri.
Sementara bagi balita, masa pertumbuhan membutuhkan perhatian khusus terhadap makanan yang dikonsumsi.
Karena itulah, penyesuaian menu menjadi bagian dari pelayanan MBG bagi kelompok rentan.
Posyandu Menjadi Titik Temu
Di tengah pelaksanaan program, Posyandu menjadi ruang penting.
Bukan hanya tempat pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi titik temu distribusi makanan bergizi bagi kelompok sasaran.
Kolaborasi antara SPPG dan kader Posyandu menjadi bagian dari upaya memastikan pelayanan berjalan rutin.
Nalensius menilai keterlibatan kader Posyandu penting agar makanan yang disiapkan setiap hari dapat diterima oleh penerima manfaat.
“Yang penting kami berkolaborasi dengan kader Posyandu, sehingga makanan yang disiapkan setiap hari dapat diterima oleh ibu hamil, ibu menyusui dan balita,” pungkasnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di baliknya terdapat pekerjaan yang harus berlangsung setiap hari—menyiapkan makanan, mengantarkannya, mengumpulkan penerima, lalu memastikan makanan sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Dari Anak Sekolah hingga Kehidupan yang Sedang Tumbuh
MBG selama ini mudah dibayangkan melalui pemandangan anak-anak sekolah yang menerima makanan.
Tetapi di Timika, cerita itu memiliki halaman yang lebih luas.
Ada ibu yang sedang mengandung.
Ada ibu yang sedang menyusui.
Ada balita yang belum mampu menyuarakan kebutuhan tubuhnya sendiri.
Mereka berada dalam kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena kebutuhan gizinya berbeda.
Dari dapur SPPG menuju Posyandu, makanan itu menempuh perjalanan pendek dengan makna yang panjang.
Sebab pada akhirnya, program makan bergizi bukan hanya tentang makanan yang tiba di tangan penerima.
Ia juga berbicara tentang bagaimana negara hadir dalam fase-fase kehidupan yang paling membutuhkan perhatian.
Dan di tengah kesibukan Timika, dari ruang Posyandu hingga rumah-rumah warga, sebuah pesan terus berjalan bersama setiap paket makanan:
bahwa pertumbuhan anak, kesehatan ibu, dan masa depan generasi tidak boleh dimulai dari kekurangan.


















