Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Enam Pekerjaan Menanti Rumah Tuhan di Motabuik

45
×

Enam Pekerjaan Menanti Rumah Tuhan di Motabuik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Di Motabuik, sebuah rumah Tuhan sedang tumbuh dari kesabaran, keringat, dan doa umat. Dinding-dindingnya mulai berdiri kokoh, lantainya perlahan menutup ruang yang kelak menjadi tempat umat berlutut, dan wajah gereja itu mulai memperlihatkan bentuk akhirnya.

Namun, perjalanan belum selesai.

Example 300x600

Di tengah harapan umat Stasi Motabuik, Paroki St. Antonius Padua Nela, Keuskupan Atambua, masih tersisa sejumlah pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum bangunan gereja itu benar-benar siap menjadi rumah bersama.

Ketua Panitia Pembangunan Gereja Stasi Motabuik, Hendrikus Ati, melalui Sekretaris Panitia Pembangunan, Gaspar K. Kopong, mengatakan progres pembangunan gereja saat ini telah mencapai sekitar 86 persen.

“Secara keseluruhan, progres pembangunan berdasarkan perhitungan kami sudah mencapai 86 persen. Masih ada sekitar 14 persen pekerjaan yang harus diselesaikan,” kata Gaspar kepada media ini, Jumat (2/10/2026), di Atambua.

Angka 86 persen itu bukan sekadar hitungan teknis di atas kertas. Di baliknya terdapat perjalanan panjang umat yang mengumpulkan tenaga, dana, material, dan harapan untuk menghadirkan sebuah rumah ibadah yang representatif di tengah komunitas umat Motabuik.

Masih ada enam bagian penting yang menunggu disentuh.

Pertama, pengecoran lantai bagian kiri gereja. Kedua, pemasangan kaca patri. Ketiga, pengecatan dinding gereja. Keempat, pemasangan keramik. Kelima, pemasangan plafon. Keenam, pengadaan pintu dan bangku gereja.

Dari lantai hingga kaca patri

Untuk pekerjaan pengecoran lantai bagian kiri gereja, panitia memperkirakan penyelesaiannya pada akhir September 2026.

Sementara itu, pemasangan kaca patri dilakukan secara bertahap. Tahap pertama direncanakan menyentuh bagian altar dan menara gereja pada awal Oktober 2026.

Kaca patri untuk jendela gereja memiliki jumlah yang tidak sedikit. Sebanyak 96 lembar kaca patri diperkirakan akan dipasang pada Desember 2026.

Kehadiran kaca patri nantinya bukan hanya melengkapi unsur arsitektur bangunan. Ia diharapkan memberi karakter tersendiri pada ruang ibadah—membiarkan cahaya masuk melalui warna dan bentuk, sekaligus menciptakan suasana sakral ketika umat berkumpul dalam doa.

Di sisi lain, pengecatan dinding gereja dan menara juga menjadi bagian pekerjaan yang ditargetkan dilaksanakan pada akhir September.

Setiap bagian yang selesai seakan menjadi satu langkah kecil menuju satu tujuan besar: menyelesaikan rumah ibadah yang selama ini dibangun melalui kebersamaan umat.

Ketika pembangunan berhadapan dengan kemampuan umat

Namun, pembangunan gereja tidak hanya berbicara tentang batu, semen, keramik, kayu, kaca, dan tenaga tukang.

Ada persoalan lain yang tidak kalah menentukan: kemampuan pembiayaan.

Panitia pembangunan masih membutuhkan dukungan umat untuk menuntaskan sejumlah pekerjaan yang belum dapat direncanakan secara pasti, terutama pemasangan keramik dan plafon.

Dari 896 kepala keluarga, total iuran pembangunan yang ditetapkan mencapai sekitar Rp1,6 miliar. Hingga kini, dana tersebut belum seluruhnya terkumpul karena masih terdapat iuran umat yang belum dilunasi.

Kondisi itu membuat panitia harus menyusun tahapan pembangunan secara realistis. Pekerjaan tidak dapat bergerak hanya berdasarkan keinginan, tetapi harus mengikuti kemampuan keuangan yang tersedia.

Dalam konteks pembangunan rumah ibadah, persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah proyek gereja tidak hanya bergantung pada desain dan konstruksi. Ia juga bergantung pada kekuatan partisipasi umat sebagai pemilik sekaligus penopang utama pembangunan.

Karena itu, panitia berharap pengurus lingkungan dan pengurus Kelompok Umat Basis (KUB) dapat lebih proaktif dalam membantu mengingatkan dan mengumpulkan iuran pembangunan dari umat yang belum melunasi kewajibannya.

“Karena itu, kami sangat mengharapkan pengurus lingkungan dan pengurus KUB proaktif dalam pengumpulan iuran pembangunan dari umat yang belum lunas. Ini sangat membantu panitia dalam merencanakan penyelesaian Rumah Tuhan ini,” ujar Gaspar.

Harapan tersebut bukan semata-mata tentang memenuhi angka Rp1,6 miliar.

Di balik setiap rupiah yang terkumpul, ada cita-cita bersama agar bangunan yang telah mencapai 86 persen itu tidak berhenti sebagai proyek konstruksi. Ia harus menjadi ruang iman yang hidup.

Mencari bantuan dari luar pagar gereja

Panitia juga tidak hanya menunggu kontribusi umat.

Upaya mencari dukungan dilakukan dengan mengirimkan proposal kepada berbagai instansi pemerintah maupun pihak swasta. Bantuan yang diharapkan tidak selalu berbentuk uang, tetapi juga dapat berupa material yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa membangun gereja di Motabuik bukan pekerjaan satu pihak.

Ada umat yang menyumbang melalui iuran. Ada pengurus lingkungan dan KUB yang membantu menggerakkan partisipasi. Ada panitia yang bekerja menyusun perencanaan sekaligus mencari dukungan. Ada pula pihak luar yang diharapkan dapat mengambil bagian melalui bantuan dana maupun material.

Sementara untuk pengadaan pintu dan bangku gereja, panitia telah menghubungi tukang dari Misi SVD Nenuk untuk membantu proses pembuatannya.

Dengan demikian, satu demi satu bagian bangunan mulai memiliki jalannya masing-masing.

Lantai sedang diselesaikan. Kaca patri mulai direncanakan pemasangannya. Dinding dan menara menunggu sentuhan cat. Pintu dan bangku mulai dipersiapkan. Sedangkan keramik dan plafon masih menunggu kepastian kemampuan keuangan.

Rumah Tuhan yang dibangun bersama

Pembangunan gereja Stasi Motabuik pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah bangunan yang hampir selesai.

Ia adalah cerita tentang kebersamaan.

Sebuah gereja dapat berdiri megah karena rancangan arsitek dan kerja para tukang. Tetapi sebuah rumah Tuhan menjadi hidup karena ada umat yang bersedia mengambil bagian di dalamnya.

Karena itu, sisa 14 persen pekerjaan tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar angka.

Ia adalah bagian terakhir dari perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keterbukaan, tanggung jawab, dan solidaritas umat.

Di antara dinding yang belum sepenuhnya dicat, lantai yang masih menunggu sentuhan akhir, jendela-jendela yang kelak akan dihiasi 96 lembar kaca patri, serta plafon dan keramik yang masih menanti kepastian dana, ada satu harapan yang terus dipelihara: gereja itu suatu hari akan berdiri utuh.

Bukan hanya sebagai bangunan.

Tetapi sebagai tempat umat datang membawa syukur, menyampaikan doa, merawat persaudaraan, dan menemukan kembali kekuatan iman.

Sebab rumah Tuhan tidak hanya dibangun dengan semen dan batu. Ia dibangun dengan tangan yang bekerja, hati yang memberi, dan umat yang tetap percaya bahwa sesuatu yang dikerjakan bersama akan menemukan jalan menuju selesai.

Example 300250