Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Relawan Jangan Ditinggalkan di Tengah Jalan, Pemerintah Diminta Hadir Saat MBG Berhenti Sementara

87
×

Relawan Jangan Ditinggalkan di Tengah Jalan, Pemerintah Diminta Hadir Saat MBG Berhenti Sementara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MEDAN |LINTASTIMOR.ID — Di balik riuh cita-cita besar membangun generasi Indonesia yang sehat dan kuat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada ribuan tangan yang bekerja dalam senyap. Mereka bukan pejabat, bukan pula pengambil kebijakan. Mereka adalah para relawan yang setiap hari memastikan makanan bergizi sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Kini, ketika sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan operasional sementara sesuai Surat Edaran BGN Nomor 12 Tahun 2026, para relawan itu mendadak berada di persimpangan yang sunyi: menunggu kepastian di tengah kebutuhan hidup yang tak pernah berhenti berjalan.

Example 300x600

Ketua Umum Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL MBG), Roy Marjuk, Senin (22/6), menyampaikan bahwa pihaknya mendukung langkah pembenahan yang dilakukan pemerintah terhadap SPPG. Namun, ia mengingatkan bahwa penghentian sementara tersebut membawa konsekuensi sosial yang tidak kecil bagi para relawan yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan program.

“Pada prinsipnya kita mendukung pembenahan SPPG. Namun, kebijakan ini berdampak pada diliburkannya para relawan yang selama ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Roy.

Menurutnya, para relawan bukan sekadar tenaga pendukung yang dapat digantikan begitu saja. Mereka adalah bagian dari ekosistem pelayanan yang telah membangun ritme kerja, disiplin, serta semangat pengabdian demi memastikan program strategis nasional itu berjalan efektif dan menyentuh masyarakat.

Di balik seragam kerja dan aktivitas dapur yang tampak sederhana, tersimpan realitas kehidupan yang tidak ringan. Banyak relawan yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas di dapur SPPG. Ketika operasional dihentikan dan mereka diliburkan, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi, anak-anak tetap harus diberi makan, dan berbagai kewajiban ekonomi tetap menunggu untuk diselesaikan.

“Banyak relawan yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas di dapur SPPG. Selama masa libur ini mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup, membiayai keluarga, membeli kebutuhan pokok, dan menjalankan berbagai kewajiban lainnya,” kata Roy.

Karena itu, REL MBG berharap Badan Gizi Nasional dan pemerintah memberikan perhatian yang memadai terhadap kondisi para relawan yang terdampak. Menurut Roy, keberhasilan Program MBG selama ini tidak dapat dilepaskan dari kontribusi mereka yang bekerja dengan semangat gotong royong dan dedikasi sosial.

Lebih jauh, ia mengingatkan adanya ancaman lain yang mungkin luput dari perhatian, yakni potensi hilangnya sumber daya manusia yang telah terlatih apabila penghentian operasional berlangsung terlalu lama.

“Jika para relawan terlalu lama tidak memiliki kepastian, tentu mereka akan mencari pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan keluarga. Itu sesuatu yang wajar. Namun ketika dapur kembali beroperasi, kita bisa menghadapi kenyataan berkurangnya relawan berpengalaman yang selama ini sudah memahami standar kerja, keamanan pangan, kebersihan, disiplin, dan tata kelola dapur,” tegasnya.

Dalam perspektif kebijakan publik, kondisi ini menjadi tantangan penting. Program sebesar MBG tidak hanya bergantung pada anggaran dan infrastruktur, tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya manusia yang menjalankannya di lapangan. Kehilangan relawan berpengalaman berarti pemerintah harus kembali mengeluarkan energi, waktu, dan biaya untuk proses rekrutmen serta pelatihan baru, sesuatu yang dapat memengaruhi efektivitas pelaksanaan program ke depan.

Roy menilai pengalaman yang telah dimiliki para relawan saat ini merupakan aset sosial yang berharga dan perlu dijaga. Oleh sebab itu, REL MBG mendorong pemerintah menghadirkan langkah-langkah solutif selama masa penghentian operasional berlangsung.

Bentuk perhatian tersebut, menurutnya, dapat berupa pendampingan, program pemberdayaan sementara, pelatihan peningkatan kapasitas, maupun kebijakan lain yang mampu menjaga kesejahteraan para relawan hingga operasional SPPG kembali berjalan normal.

“Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis yang membawa harapan besar bagi masa depan generasi bangsa. Karena itu, keberlangsungan program ini harus didukung oleh keberlangsungan para relawannya. Jangan sampai mereka yang selama ini berjuang menyukseskan program justru menghadapi kesulitan tanpa perhatian yang memadai,” ujar Roy.

Di ujung pernyataannya, Ketua Umum REL MBG kembali menegaskan bahwa relawan bukan sekadar pelengkap dalam sebuah program nasional, melainkan fondasi yang turut menopang keberhasilannya.

“Relawan adalah aset bangsa. Menjaga kesejahteraan mereka berarti menjaga keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis itu sendiri.”

Ketika dapur-dapur pelayanan untuk sementara berhenti mengepul, harapan para relawan sesungguhnya sederhana: negara tetap hadir, bukan hanya saat program berjalan, tetapi juga ketika mereka yang menjalankannya sedang menunggu kepastian di tengah jeda.

Example 300250