Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Kodam XXXIX/Mambruk Berdiri, Aminton Manurung Pimpin Papua Tengah

2
×

Kodam XXXIX/Mambruk Berdiri, Aminton Manurung Pimpin Papua Tengah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

NABIRE  |LINTASTIMOR.ID — Di Kimi, Kabupaten Nabire, sebuah struktur komando baru menandai babak penting penataan organisasi pertahanan di Papua Tengah. Kodam XXIX/Mambruk resmi berdiri, membawa mandat pertahanan dan pembinaan teritorial di wilayah yang terbentang dari pesisir hingga kawasan pegunungan dengan karakter geografis, sosial, dan tantangan keamanan yang beragam.

Di balik pembentukan komando ini, terdapat pekerjaan besar yang menanti: membangun koordinasi antarsatuan, memperkuat komunikasi dengan pemerintah daerah, serta memastikan kehadiran TNI Angkatan Darat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat di delapan kabupaten wilayah tanggung jawabnya.

Example 300x600

Kodam XXIX/Mambruk merupakan satu dari enam komando daerah militer baru yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 5 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Mayjen TNI Aminton Manurung dipercaya menjadi Pangdam XXIX/Mambruk pertama. Sebelum menerima penugasan tersebut, ia menjabat Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat (Asops Kasad).

Penunjukan itu menempatkan Aminton pada posisi penting dalam tahap awal pembentukan organisasi. Sebagai pangdam pertama, ia menghadapi tanggung jawab untuk menerjemahkan struktur komando yang baru dibentuk menjadi organisasi yang mampu menjalankan fungsi pertahanan dan pembinaan teritorial secara efektif.

“Pembentukan Kodam bukan hanya tentang penataan struktur komando, tetapi juga tentang bagaimana koordinasi, pembinaan teritorial, dan komunikasi dengan masyarakat dapat berjalan semakin efektif.”

Catatan redaksi: Kutipan di atas merupakan rumusan naratif redaksi, bukan pernyataan langsung Pangdam.

Delapan kabupaten, satu wilayah tanggung jawab

Markas Kodam XXIX/Mambruk berada di Kimi, Kabupaten Nabire. Dari lokasi tersebut, komando ini memiliki wilayah tanggung jawab yang mencakup Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, dan Mimika.

Cakupan wilayah tersebut menghadirkan kebutuhan koordinasi yang tidak sederhana. Setiap kabupaten memiliki kondisi geografis, dinamika masyarakat, serta kebutuhan pelayanan dan keamanan yang berbeda. Karena itu, efektivitas organisasi tidak hanya bergantung pada kelengkapan struktur, tetapi juga pada kemampuan membangun hubungan kerja yang terkoordinasi hingga tingkat kewilayahan.

Dalam konteks Papua Tengah, pembinaan teritorial menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas TNI AD. Komunikasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan lainnya, tokoh masyarakat, dan unsur masyarakat setempat diperlukan untuk membangun pemahaman bersama mengenai kebutuhan wilayah.

Kedekatan dengan masyarakat juga membutuhkan pendekatan yang menghormati kondisi sosial dan budaya setempat. Hubungan yang terpelihara melalui komunikasi yang baik dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam menjalankan tugas teritorial.

Lebih dari sekadar penambahan struktur militer

Pembentukan Kodam XXIX/Mambruk menjadi bagian dari penataan organisasi TNI AD untuk memperkuat pelaksanaan tugas di Papua Tengah. Namun, berdirinya komando baru tidak dengan sendirinya menyelesaikan seluruh tantangan yang ada di wilayah tersebut.

Organisasi harus ditopang oleh koordinasi yang jelas, kesiapan personel, dukungan sarana dan prasarana, serta pembagian tugas yang efektif. Pada saat yang sama, sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya perlu dibangun tanpa mengaburkan kewenangan masing-masing institusi.

Di sinilah kepemimpinan Pangdam pertama akan mendapat perhatian. Kemampuan mengonsolidasikan organisasi, mengembangkan komunikasi lintas sektor, dan menjalankan pembinaan teritorial sesuai tugas serta kewenangan menjadi bagian penting dalam tahap awal operasional komando.

Bagi masyarakat, kehadiran institusi pertahanan juga akan dinilai melalui kualitas interaksi di lapangan. Komunikasi yang terbuka, penghormatan terhadap masyarakat, dan pelaksanaan tugas secara profesional merupakan unsur penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Tantangan setelah peresmian

Papua Tengah bukan sekadar wilayah administratif dalam peta pertahanan. Bentang alamnya, jarak antarkabupaten, serta keragaman kondisi sosial menuntut pendekatan yang terukur dan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

Dengan tanggung jawab yang mencakup delapan kabupaten, Kodam XXIX/Mambruk dituntut membangun pola koordinasi yang mampu menjangkau wilayah tugasnya secara efektif. Hubungan dengan pemerintah daerah dan unsur keamanan lainnya menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan pelaksanaan tugas.

Keberhasilan komando baru ini pada akhirnya tidak cukup diukur dari peresmian markas atau terbentuknya susunan organisasi. Ukuran yang lebih substantif terletak pada kesiapan organisasi menjalankan mandatnya, efektivitas koordinasi, profesionalitas prajurit, dan kualitas hubungan dengan masyarakat.

Berdirinya Kodam XXIX/Mambruk dengan Mayjen TNI Aminton Manurung sebagai pangdam pertama membuka babak baru penataan pertahanan di Papua Tengah. Kini, perhatian beralih pada bagaimana mandat tersebut diterjemahkan menjadi pelaksanaan tugas yang terarah, terukur, dan selaras dengan ketentuan yang berlaku.

Sebab, kekuatan sebuah komando bukan hanya terletak pada struktur yang berdiri, melainkan juga pada kemampuan organisasi menjalankan tanggung jawab secara profesional, menjaga kepercayaan masyarakat, dan membangun koordinasi yang efektif di wilayah tugasnya.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe