Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Di Balik Gendongan, Ada Janji Pengabdian untuk Deiyai

4
×

Di Balik Gendongan, Ada Janji Pengabdian untuk Deiyai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

DEIYAI | LINTASTIMOR.ID — Tawa pecah di halaman Kantor Bupati Deiyai, Kamis, 15 Oktober 2026. Topi-topi seragam dinas melambai di udara. Sorak-sorai bersahutan, sementara sejumlah peserta Pelatihan Dasar (Latsar) mengangkat dan menggendong para pejabat daerah yang hadir dalam apel pelepasan mereka. Di tengah riuh kegembiraan itu, Bupati Deiyai Melkianus Mote, S.E., turut menjadi bagian dari suasana yang hangat, akrab, dan sarat makna.

Hari itu, halaman kantor pemerintahan di Papua Tengah tersebut seolah berubah menjadi ruang perjumpaan antara rasa syukur, penghormatan, dan harapan. Para peserta tidak hanya merayakan pelepasan setelah mengikuti tahapan pelatihan. Mereka juga mengekspresikan kedekatan dengan para pemimpin daerah melalui sebuah gestur yang berakar pada tradisi kebersamaan masyarakat setempat.

Example 300x600

Di antara peserta yang larut dalam kegembiraan itu terdapat calon pegawai negeri sipil (CPNS), tenaga honorer kategori dua (K2), dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) Yuu Waitaa. Mereka mengungkapkan rasa terima kasih melalui aksi mengarak dan menggendong sejumlah pejabat, termasuk Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Deiyai, Yusak Adii, S.STP., serta Petrus Tekege, S.STP.

Suasana berlangsung spontan. Gelak tawa dan sorakan mengisi halaman kantor, menghadirkan pemandangan yang berbeda dari kesan formal sebuah kegiatan pemerintahan. Seragam dinas yang biasanya identik dengan disiplin dan tata upacara hari itu berpadu dengan ekspresi kegembiraan yang lepas.

Di balik adegan tersebut, tersimpan pesan yang lebih dalam daripada sebuah perayaan.

“Ada rasa terima kasih yang tidak selalu menemukan bentuknya dalam kata-kata. Pada hari itu, kegembiraan mengambil alih bahasa, sementara tradisi menjadi jembatan untuk menyampaikan penghormatan.”

Bagi masyarakat setempat, tindakan menggendong atau mengarak seseorang dapat dimaknai sebagai simbol penghormatan, kebanggaan, dan ungkapan terima kasih. Dalam konteks pelepasan peserta Latsar, gestur tersebut menjadi ekspresi kebersamaan antara aparatur yang sedang menjalani proses pembentukan diri dan para pemimpin yang hadir dalam perjalanan mereka.

Namun, makna tradisi tidak berhenti pada apa yang terlihat. Di balik tawa dan sorak-sorai, ada perjalanan pengabdian yang sesungguhnya baru memasuki babak penting.

Dari kegembiraan menuju tanggung jawab
Menjadi aparatur pemerintah bukan hanya tentang mengenakan seragam, menyandang jabatan, atau memperoleh pengakuan sebagai bagian dari birokrasi. Lebih dari itu, status tersebut membawa tanggung jawab untuk bekerja secara disiplin, menjaga integritas, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Bagi CPNS, Pelatihan Dasar merupakan tahapan penting dalam pembentukan karakter dan kompetensi sebelum menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara. Nilai-nilai seperti loyalitas terhadap kepentingan negara, profesionalisme, kedisiplinan, dan orientasi pelayanan publik harus tumbuh menjadi kebiasaan kerja, bukan berhenti sebagai materi pelatihan.

Sementara itu, bagi aparatur yang telah menjalankan tugas maupun mereka yang berada dalam skema kepegawaian lainnya, semangat pelayanan tetap menjadi ukuran penting dalam menilai arti pengabdian.

Kegembiraan di halaman Kantor Bupati Deiyai dengan demikian dapat dibaca sebagai awal dari sebuah pengingat: hubungan yang hangat antara pimpinan dan aparatur perlu dipelihara melalui kepercayaan, keteladanan, dan tanggung jawab bersama.

“Penghormatan tertinggi kepada seorang pemimpin bukanlah ketika ia digendong di tengah sorak-sorai, melainkan ketika nilai-nilai kepemimpinannya hidup dalam cara orang-orang yang dipimpinnya bekerja dan melayani masyarakat.”

Kalimat itu merangkum tantangan yang menanti setelah suasana perayaan berakhir. Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan aparatur yang mampu membangun hubungan harmonis di lingkungan pemerintahan. Masyarakat juga membutuhkan pelayanan yang mudah diakses, administrasi yang tertib, keputusan yang adil, dan kehadiran pemerintah ketika persoalan warga membutuhkan penyelesaian.

Tradisi yang menemukan maknanya dalam pelayanan
Di Deiyai, kebersamaan memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Tradisi dan ekspresi penghormatan menjadi bagian dari cara orang membangun hubungan, merawat kedekatan, serta menyampaikan perasaan yang tidak selalu mudah diungkapkan melalui bahasa formal.

Pemandangan peserta Latsar menggendong Bupati Melkianus Mote dan sejumlah pejabat daerah memperlihatkan sisi manusiawi dari kehidupan birokrasi. Di tengah struktur organisasi, jenjang jabatan, dan aturan kedinasan, tetap ada ruang bagi keakraban yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.

Akan tetapi, keakraban itu akan memperoleh arti yang lebih kuat apabila berjalan seiring dengan budaya kerja yang sehat. Hubungan kekeluargaan tidak boleh mengaburkan profesionalisme, sebagaimana kedekatan dengan pimpinan tidak boleh menggantikan kewajiban untuk mematuhi aturan dan mempertanggungjawabkan pekerjaan.

Birokrasi yang baik membutuhkan keduanya: hubungan antarmanusia yang hangat dan pelaksanaan tugas yang berintegritas.

Dalam kerangka itulah, momen pelepasan peserta Latsar di Deiyai memiliki arti lebih luas. Ia bukan hanya kisah tentang peserta yang menggendong pejabat, tetapi juga gambaran tentang harapan agar kebersamaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Setelah sorak-sorai, pengabdian menunggu
Ketika kegiatan berakhir dan halaman kantor kembali pada rutinitasnya, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang tawa, seragam, dan aksi spontan yang mengundang perhatian. Ada tanggung jawab yang harus dibawa pulang oleh setiap peserta.

Di hadapan masyarakat, pengabdian tidak diukur dari meriahnya sebuah kegiatan, melainkan dari kesungguhan menjalankan tugas. Integritas terlihat ketika seseorang tetap jujur tanpa pengawasan. Disiplin terbukti ketika pekerjaan diselesaikan tepat waktu. Profesionalisme terasa ketika masyarakat memperoleh pelayanan yang layak tanpa dibeda-bedakan.

Bagi para peserta Latsar, perjalanan berikutnya adalah membuktikan bahwa semangat kebersamaan yang diperlihatkan pada hari pelepasan dapat tumbuh menjadi komitmen kerja yang nyata.

Bagi pimpinan daerah, momen tersebut juga menjadi pengingat bahwa kepercayaan aparatur perlu dijawab dengan keteladanan, pembinaan yang konsisten, serta lingkungan kerja yang mendorong setiap orang berkembang dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ada sesuatu yang lebih berharga daripada sebuah gendongan di halaman kantor bupati: kesediaan untuk saling menopang dalam pekerjaan dan pengabdian.

Sebab, seorang pemimpin boleh digendong sebagai ungkapan penghormatan, tetapi harapan masyarakat hanya dapat dipikul melalui kerja nyata.

Dan di Deiyai, setelah kegembiraan hari pelepasan itu, perjalanan untuk membuktikan makna pengabdian sesungguhnya masih terus berjalan.

Example 300250