Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalOtomotifPeristiwaPolkam

36 Tim Berebut Mimpi Menjadi Bintang Sepak Bola di Kapolda Cup I 2026

36
×

36 Tim Berebut Mimpi Menjadi Bintang Sepak Bola di Kapolda Cup I 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

NABIRE | LINTASTIMOR.ID — Di atas lapangan Polairud Polres Nabire, Samabusa, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Rabu siang, 14 Oktober 2026, sebanyak 36 tim pelajar SMP memulai perjalanan mereka mengejar mimpi. Di antara derap langkah, bola yang bergulir, dan semangat anak-anak muda yang memenuhi lapangan, sebuah harapan tumbuh: bahwa dari pinggiran Nabire, kelak dapat lahir pemain sepak bola yang menembus panggung profesional, bahkan mengenakan seragam kebanggaan Tim Nasional Indonesia.

Harapan itu menemukan panggungnya melalui Turnamen Mini Soccer Kapolda Cup I Tahun 2026 tingkat SMP se-Kabupaten Nabire. Kompetisi yang resmi dibuka Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini, ini bukan semata-mata pertemuan antartim untuk memperebutkan trofi, medali, dan uang pembinaan. Lebih jauh, turnamen tersebut menjadi ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan bakat, menguji kemampuan, membangun kedisiplinan, dan belajar tentang arti persaudaraan di tengah persaingan.

Example 300x600

Di Lapangan Polairud Polres Nabire, sepak bola menjadi bahasa yang menyatukan ambisi anak-anak sekolah. Mereka datang membawa nama sekolah, kebanggaan guru dan pelatih, serta harapan orang-orang yang percaya bahwa bakat yang baik membutuhkan kesempatan untuk tumbuh.

Pembukaan turnamen turut dihadiri Wakapolda Papua Tengah Kombes Pol. Dr. Gustav R. Urbinas, seluruh Pejabat Utama Polda Papua Tengah, delapan Kapolres se-Papua Tengah, serta Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari.

Kehadiran jajaran kepolisian dan pemerintah daerah memberi penegasan bahwa pembinaan generasi muda tidak cukup dilakukan melalui imbauan. Anak-anak membutuhkan ruang nyata untuk berkembang, berkompetisi, dan menemukan jalan menuju masa depan mereka.

Dari aspirasi anak muda menjadi panggung kompetisi

Bagi Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini, terselenggaranya Kapolda Cup I berawal dari sebuah aspirasi masyarakat, terutama anak-anak muda di wilayah timur Nabire yang dikoordinasikan Rexsi Rumakiek.

Aspirasi itu kemudian menemukan jalannya hingga menjelma menjadi kompetisi yang mempertemukan puluhan tim pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Nabire.

Jermias mengapresiasi panitia, pihak sekolah, guru, pelatih, dan seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam penyelenggaraan turnamen tersebut.

“Mimpi untuk menghadirkan turnamen seperti ini akhirnya dapat terwujud.”

Kutipan itu menjadi penanda bahwa sebuah kegiatan olahraga dapat berangkat dari suara masyarakat, kemudian tumbuh menjadi kesempatan bersama ketika memperoleh dukungan dan ruang untuk diwujudkan.

Menurut Jermias, turnamen tersebut merupakan bentuk kepedulian kepolisian dalam memberikan kesempatan kepada generasi muda, khususnya anak-anak usia sekolah, untuk mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga.

“Turnamen ini adalah wadah kepedulian kepolisian untuk memberikan ruang bagi anak-anak usia emas mengembangkan bakatnya, khususnya di bidang olahraga.”

Bagi para pelajar, kesempatan semacam ini memiliki arti penting. Bakat tidak selalu tumbuh di tempat yang memiliki fasilitas lengkap. Kadang-kadang, bakat hanya membutuhkan lapangan, kompetisi yang teratur, pelatih yang tekun, serta orang-orang yang bersedia melihat potensi di balik kemampuan seorang anak.

Karena itu, Kapolda Cup I diharapkan menjadi bagian dari proses pembinaan yang lebih luas, bukan berhenti sebagai kegiatan olahraga yang selesai ketika pertandingan terakhir berakhir.

Tiga puluh enam tim, satu harapan besar

Angka 36 menjadi salah satu penanda penting dalam penyelenggaraan Kapolda Cup I 2026.

Sebanyak 36 tim SMP ambil bagian dalam kompetisi ini. Bagi Jermias, jumlah peserta tersebut menunjukkan besarnya minat pelajar terhadap sepak bola di Kabupaten Nabire.

Ia bahkan menyebut partisipasi tersebut mencerminkan keterlibatan sekitar 80 persen sekolah di wilayah itu.

“Pesertanya ada 36 tim. Artinya, sekitar 80 persen sekolah di Kabupaten Nabire ikut berpartisipasi dalam turnamen ini. Saya bangga melihat tingginya minat terhadap olahraga sepak bola, khususnya di kalangan anak-anak kita.”

Antusiasme tersebut menjadi modal awal bagi pengembangan olahraga usia muda. Namun, besarnya jumlah peserta perlu diikuti dengan pembinaan yang konsisten agar minat bermain sepak bola tidak berhenti pada kompetisi sesaat.

Sebuah turnamen dapat membuka pintu, tetapi perjalanan untuk menjadi pemain profesional membutuhkan lebih banyak hal: latihan yang disiplin, pendampingan pelatih, kesempatan mengikuti kompetisi lanjutan, fasilitas yang memadai, serta dukungan keluarga dan lingkungan.

Di sinilah Kapolda Cup I diharapkan menemukan makna yang lebih jauh. Bukan hanya melahirkan pemenang di papan klasemen, melainkan juga membantu menemukan anak-anak yang memiliki kemampuan untuk berkembang melalui pembinaan yang terarah.

Jermias berharap kompetisi tersebut menjadi salah satu jalan untuk menjaring bibit-bibit pesepak bola muda yang kelak mampu meniti karier profesional hingga memperkuat Tim Nasional Indonesia.

Ia mencontohkan Senegal sebagai negara yang menurutnya dapat menjadi bahan pembelajaran dalam mengembangkan potensi pemain muda. Keberhasilan melahirkan pemain berkualitas, katanya, harus ditopang oleh sistem pembinaan yang baik, kompetisi berkelanjutan, dan kesempatan bagi para pemain untuk terus mengasah kemampuan.

“Kalau kita menyiapkan wadah yang baik bagi anak-anak kita, memberikan kesempatan untuk berkompetisi dan melakukan pembinaan secara berkelanjutan, saya yakin kita juga bisa melahirkan pemain-pemain profesional. Mengapa kita tidak bisa? Kita pasti bisa, asalkan kita mempersiapkannya dengan baik.”

Pernyataan itu menyiratkan sebuah tantangan: potensi anak-anak muda tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan sesaat. Mereka membutuhkan jalan yang memungkinkan bakat berkembang menjadi prestasi.

Dari Nabire, membuka jalan menuju sepak bola profesional

Harapan tersebut tidak berhenti pada sambutan pembukaan.

Jermias mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi dengan Papua Football Academy di Mimika. Ia berharap ke depan dapat mengupayakan kehadiran tim pencari bakat atau talent scouting dari akademi tersebut ke Nabire untuk memantau kemampuan para pemain muda yang berlaga dalam turnamen.

Jika rencana itu dapat diwujudkan, Kapolda Cup I berpeluang menjadi salah satu pintu pengenalan bakat bagi pemain-pemain muda yang selama ini belum memperoleh kesempatan tampil di hadapan pihak pembina sepak bola.

Di hadapan para peserta, Jermias meminta setiap pemain memberikan kemampuan terbaiknya selama pertandingan.

“Bermainlah dengan sungguh-sungguh, tunjukkan bakat dan kemampuan kalian. Ke depan, saya akan berupaya menghadirkan tim talent scouting dari Papua Football Academy di Mimika ke Nabire untuk melihat potensi anak-anak kita. Siapa tahu, dari turnamen ini ada pemain yang bisa terpilih untuk dibina menjadi pemain profesional.”

Kata berupaya menjadi penting dalam harapan tersebut. Kehadiran pencari bakat masih merupakan rencana yang ingin diusahakan, tetapi setidaknya gagasan itu memperlihatkan bahwa kompetisi di tingkat sekolah dapat diarahkan agar memiliki hubungan dengan jenjang pembinaan berikutnya.

Bagi seorang pelajar, kesempatan untuk dilihat oleh pencari bakat dapat menjadi awal perjalanan yang panjang. Namun, kesempatan itu harus disertai kesiapan: kemampuan teknis, kebugaran, disiplin, mental bertanding, dan kemauan untuk terus belajar.

Karena itulah, setiap pertandingan memiliki nilai lebih dari sekadar mengejar kemenangan. Setiap sentuhan bola, keputusan di lapangan, dan kerja sama antarpemain menjadi bagian dari proses belajar yang tidak selalu tercermin dalam skor akhir.

Menang tanpa kehilangan persaudaraan

Di tengah ambisi untuk meraih prestasi, Jermias mengingatkan para pemain bahwa sepak bola tidak boleh menjadi sumber permusuhan.

Ia meminta seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas dan tidak membiarkan persaingan di lapangan berkembang menjadi perselisihan antarsekolah maupun antarindividu.

“Kemenangan memang penting, tetapi persaudaraan, kedisiplinan, dan sikap saling menghormati jauh lebih penting.”

Pesan itu menjadi pengingat bahwa karakter seorang pemain tidak hanya terlihat ketika timnya menang. Cara menerima kekalahan, menghormati lawan, menaati keputusan wasit, dan mengendalikan emosi juga merupakan bagian dari kedewasaan dalam olahraga.

Turnamen antarpelajar semestinya menjadi tempat anak-anak belajar tentang kompetisi yang sehat. Lawan yang dihadapi selama pertandingan bukan musuh yang harus dibenci, melainkan rekan sesama anak bangsa yang sama-sama berusaha memberikan kemampuan terbaiknya.

Jermias juga meminta para wasit memimpin pertandingan secara profesional, adil, dan tegas. Kepastian dan keadilan dalam pengambilan keputusan dibutuhkan agar seluruh rangkaian turnamen berlangsung aman, tertib, dan lancar.

“Jika ada persoalan di lapangan, percayakan sepenuhnya kepada wasit dan juri.”

Dengan demikian, sportivitas bukan hanya menjadi kewajiban pemain. Panitia, perangkat pertandingan, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kompetisi berlangsung sesuai aturan.

Rexsi Rumakiek dan harapan dari pinggiran Nabire

Di balik penyelenggaraan Kapolda Cup I, ada kebanggaan tersendiri bagi Rexsi Rumakiek, Ketua Panitia yang selama ini menjadikan lapangan Polairud Polres Nabire sebagai tempat menempa anak-anak usia dini melalui sekolah sepak bola atau SSB yang dibentuknya.

Bagi Rexsi, kepercayaan menjadikan Distrik Teluk Kimi sebagai lokasi penyelenggaraan turnamen tingkat SMP se-Kabupaten Nabire memiliki arti lebih dari sekadar penunjukan tempat.

Wilayah pinggiran yang selama ini menjadi ruang aktivitas anak-anak muda kini mendapat kesempatan menjadi pusat perhatian melalui sebuah kompetisi olahraga.

Ia mengaku bangga karena turnamen tersebut memberikan ruang bagi pelajar dan masyarakat dari sejumlah wilayah, termasuk Teluk Kimi, Makimi, Moora, Napan, dan Wapoga.

“Dengan ini kami sudah sangat diperhatikan dan diberikan kepercayaan. Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu, karena ini sangat penting bagi pelajar dan masyarakat dari sejumlah wilayah, termasuk Teluk Kimi, Makimi, Moora, Napan dan Wapoga, yang ada di wilayah Timur ini.”

Bagi Rexsi dan panitia, penyelenggaraan turnamen ini merupakan pengalaman yang membanggakan. Akan tetapi, kebanggaan itu juga membawa pesan tentang pentingnya pemerataan kesempatan bagi anak-anak muda yang tinggal jauh dari pusat aktivitas perkotaan.

Mereka memiliki semangat yang sama untuk bermain sepak bola. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan berlatih dan mengembangkan kemampuan.

Perbedaannya sering kali terletak pada ketersediaan fasilitas, akses terhadap pembinaan, dan kesempatan mengikuti kompetisi yang berkualitas.

Karena itu, Rexsi mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan hadiah, trofi, dan medali sebagai tujuan utama. Ia berharap mereka memanfaatkan turnamen untuk menunjukkan kualitas permainan dan kemampuan mengolah si kulit bundar.

“Jangan lihat dari total hadiahnya, tetapi tunjukkan kualitas kalian, agar kelak ada di antara adik-adik yang dapat bermain di klub sepak bola Tanah Air.”

Pesan tersebut sejalan dengan harapan agar turnamen ini menjadi batu pijakan bagi masa depan para pemain muda.

Trofi mungkin hanya berpindah tangan setiap kali kompetisi berakhir. Medali mungkin tersimpan di lemari. Namun, pengalaman bertanding, kedisiplinan, persahabatan, dan kesempatan memperlihatkan kemampuan dapat menjadi bekal yang terus dibawa oleh para peserta setelah turnamen usai.

Bukan meminta uang, melainkan fasilitas yang layak

Di tengah kegembiraan atas terselenggaranya turnamen, Rexsi menyampaikan kebutuhan yang menurutnya tidak kalah penting: perhatian pemerintah terhadap penyediaan fasilitas olahraga yang layak.

Pengalamannya membina anak-anak usia dini melalui SSB membuatnya memahami bahwa semangat saja tidak cukup. Pembinaan membutuhkan sarana yang memungkinkan anak-anak berlatih secara aman dan teratur.

Karena itu, ia menggunakan momentum kehadiran perwakilan pemerintah dalam pembukaan turnamen untuk menyampaikan aspirasinya.

“Kami tidak minta uang, tapi kami minta perhatian dari pemerintah. Tolong perhatikan kami. Kami butuh fasilitas olahraga yang baik dan layak.”

Pernyataan tersebut menggeser perhatian dari gemerlap kompetisi menuju kebutuhan yang lebih mendasar.

Sebuah turnamen dapat digelar dalam beberapa hari atau pekan. Akan tetapi, pembinaan pemain muda berlangsung jauh lebih lama. Ada latihan rutin yang harus dijalankan, kemampuan dasar yang perlu diperbaiki, serta fisik dan mental pemain yang harus dibentuk secara bertahap.

Tanpa fasilitas yang memadai, upaya pembinaan berisiko menghadapi keterbatasan yang sulit diatasi hanya dengan semangat para pelatih dan pemain.

Karena itu, harapan Rexsi dapat dibaca sebagai ajakan agar pemerintah melihat olahraga usia muda sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Dukungan terhadap fasilitas olahraga bukan hanya tentang membangun lapangan, melainkan juga menyediakan ruang yang memungkinkan anak-anak tumbuh melalui kegiatan yang sehat, terarah, dan produktif.

Kapolda Cup I telah menghadirkan panggung bagi para pelajar. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setelah kompetisi berakhir, mereka tetap memiliki tempat untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan.

Hadiah besar, tetapi masa depan lebih berharga

Turnamen Mini Soccer Kapolda Cup I Tahun 2026 memperebutkan piala bergilir, piala tetap, medali, dan piagam dari Kapolda Papua Tengah.

Panitia juga menyediakan uang pembinaan bagi empat tim terbaik. Juara pertama akan menerima Rp25 juta, juara kedua Rp20 juta, juara ketiga Rp15 juta, dan juara keempat Rp10 juta.

Selain penghargaan untuk tim, tiga pemain juga akan memperoleh penghargaan individual berupa piala dan uang pembinaan masing-masing Rp2 juta.

Ketiga penghargaan tersebut meliputi Pemain Terbaik, Kiper Terbaik, dan Top Skor.

Besarnya hadiah menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Namun, nilai turnamen tidak semestinya berhenti pada jumlah uang yang dibawa pulang oleh para pemenang.

Bagi pemain yang belum berhasil meraih gelar, kompetisi tetap menyediakan pelajaran tentang kerja sama, pengendalian emosi, dan keberanian menghadapi lawan yang memiliki kemampuan berbeda.

Sementara itu, bagi pemain yang menonjol, turnamen ini dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kemampuan mereka layak mendapat perhatian lebih lanjut.

Di antara puluhan tim yang bertanding, tidak seorang pun dapat memastikan sejak awal siapa yang kelak akan menjadi bintang sepak bola. Perjalanan setiap pemain berbeda. Ada yang berkembang cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang menemukan jalan hidup lain di luar lapangan.

Namun, setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk mencoba.

Dari sebuah lapangan, mimpi itu dimulai

Kapolda Cup I 2026 mempertemukan tiga hal yang saling membutuhkan: semangat anak muda, dukungan penyelenggara, dan harapan terhadap pembinaan olahraga yang berkelanjutan.

Kapolda Papua Tengah melihat turnamen ini sebagai ruang untuk mengembangkan bakat dan mencari bibit pemain potensial. Rexsi Rumakiek melihatnya sebagai kesempatan bagi anak-anak dari wilayah pinggiran Nabire untuk tampil sekaligus menyuarakan kebutuhan akan fasilitas olahraga yang layak.

Keduanya bertemu pada satu kepentingan: memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh melalui sepak bola.

Akan tetapi, ukuran keberhasilan turnamen ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mengangkat trofi atau berapa gol yang tercipta. Ukuran yang lebih jauh terletak pada apa yang terjadi setelah peluit akhir dibunyikan.

Apakah anak-anak yang telah menunjukkan bakat akan memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan lanjutan? Apakah fasilitas olahraga di wilayah pinggiran akan mendapat perhatian yang lebih nyata? Dan apakah semangat yang tumbuh melalui Kapolda Cup I dapat dijaga agar tidak padam bersama berakhirnya kompetisi?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak yang menginginkan sepak bola Nabire berkembang lebih jauh.

Sebab, dari sebuah lapangan di Samabusa, mimpi besar tidak harus langsung menjadi kenyataan. Ia dapat dimulai dari hal-hal sederhana: sebuah kompetisi yang memberi kesempatan, seorang pelatih yang tidak berhenti membimbing, pemerintah yang bersedia memperhatikan, serta anak-anak yang terus berlatih meski jalan menuju cita-cita masih panjang.

Di antara 36 tim yang kini bersaing, mungkin ada pemain yang kelak namanya dikenal di panggung sepak bola nasional. Mungkin pula ada anak yang tidak menjadi pemain profesional, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan menghargai sesama berkat pengalaman yang diperolehnya di lapangan.

Apa pun masa depan mereka, satu hal telah dimulai di Nabire: kesempatan untuk bermimpi, berjuang, dan membuktikan kemampuan.

Karena sebelum seorang anak menjadi bintang, ia terlebih dahulu membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Dan sebelum mimpi menembus panggung nasional, mimpi itu harus diberi kesempatan untuk dimulai dari rumahnya sendiri.

Example 300250