Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Freeport Ajak 200 Mahasiswa UNCEN  Menyelami Teknologi dan Diplomasi Tambang

15
×

Freeport Ajak 200 Mahasiswa UNCEN  Menyelami Teknologi dan Diplomasi Tambang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

JAYAPURA | LINTASTIMOR.ID — Di balik deru mesin dan kecanggihan teknologi pertambangan, ada dua kekuatan yang menentukan keberlanjutan sebuah operasi: kemampuan membaca risiko sebelum menjadi ancaman dan kesanggupan membangun kepercayaan di tengah masyarakat.

Example 300x600

Dua hal itulah yang diperkenalkan PT Freeport Indonesia (PTFI) kepada 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura, Papua. Melalui program Eksekutif Mengajar #2, mahasiswa diajak menembus batas pembelajaran di ruang kelas untuk melihat bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan dalam dinamika industri pertambangan modern.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Selasa, 15 September 2026, menghadirkan dua eksekutif PTFI dengan pengalaman dan bidang keahlian berbeda. Keduanya membawa mahasiswa menyelami dua dimensi penting pertambangan: penguasaan teknologi untuk menjaga keandalan operasi serta diplomasi sosial untuk membangun hubungan dengan masyarakat.

Pertemuan tersebut menghadirkan gambaran bahwa pertambangan modern tidak hanya bertumpu pada kecanggihan mesin. Di balik sistem operasional yang kompleks, terdapat manusia yang harus mampu mengambil keputusan secara tepat, memahami risiko, dan merawat hubungan dengan lingkungan sosialnya.

### Membaca risiko sebelum mesin berhenti

Senior Vice President Operations Maintenance PTFI, Ayep Dirmawan, mengajak mahasiswa memahami perubahan pendekatan pemeliharaan peralatan dalam industri pertambangan. Menurut dia, pekerjaan pemeliharaan tidak lagi cukup dilakukan setelah kerusakan terjadi. Tantangan sesungguhnya ialah mengenali potensi gangguan sedini mungkin, sebelum berdampak terhadap keselamatan dan kelancaran operasi.

Melalui pendekatan preventive maintenance dan predictive maintenance, perusahaan dapat memanfaatkan analisis data untuk mengidentifikasi risiko, memperkirakan kemungkinan gangguan, serta menentukan tindakan pemeliharaan secara lebih terukur.

Dalam industri pertambangan, terutama pada operasi bawah tanah, keandalan peralatan memiliki kaitan erat dengan keselamatan kerja dan efisiensi. Karena itu, kemampuan mengantisipasi persoalan menjadi bagian penting dari pengelolaan operasional.

“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi.”

— Ayep Dirmawan, Senior Vice President Operations Maintenance PTFI

Pernyataan Ayep menegaskan pergeseran cara pandang dalam pemeliharaan industri: dari menunggu kerusakan menuju mengantisipasi kemungkinan. Teknologi dan data membantu memperkuat ketepatan keputusan, tetapi manusia tetap memegang peranan penting dalam membaca informasi, menilai situasi, dan menentukan langkah yang sesuai.

Bagi mahasiswa Fakultas Teknik, pengalaman tersebut memberikan gambaran konkret tentang bagaimana teori perkuliahan diterapkan untuk menjawab persoalan di lapangan. Pengetahuan mengenai mesin, sistem, dan pemeliharaan harus bertemu dengan tuntutan keselamatan, efisiensi, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi nyata.

Di lingkungan pertambangan, kesalahan teknis dapat membawa konsekuensi yang luas. Oleh karena itu, kompetensi profesional tidak hanya diukur dari kemampuan memperbaiki peralatan, tetapi juga dari kecermatan mengenali tanda bahaya sebelum gangguan berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Diplomasi sosial, fondasi kepercayaan di Papua

Jika teknologi menjadi salah satu penopang keandalan operasi, hubungan dengan masyarakat menghadirkan dimensi lain yang tidak kalah penting dalam industri pertambangan.

Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch, mengajak mahasiswa memahami bahwa keberhasilan menjalankan usaha di Papua tidak cukup ditopang kemampuan teknis. Perusahaan juga perlu memahami konteks sosial dan budaya, mendengarkan beragam perspektif, serta membuka ruang dialog dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Di tengah keragaman sosial Papua, hubungan antara perusahaan dan masyarakat membutuhkan pendekatan yang mengedepankan komunikasi, penghormatan terhadap perbedaan, dan upaya membangun kepercayaan. Kepentingan yang berbeda tidak selalu dapat dipertemukan dalam satu percakapan, tetapi dialog yang terbuka dapat menyediakan ruang untuk saling memahami.

“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang.”

— Engel Enoch, Vice President Community Relations PTFI

Pesan Engel membawa pembelajaran pertambangan ke wilayah yang lebih luas. Hubungan sosial bukan hanya pelengkap kegiatan operasional, melainkan bagian penting dari pembahasan mengenai keberlanjutan usaha.

Kepercayaan tidak lahir semata-mata dari kemampuan menyampaikan gagasan. Ia tumbuh melalui kesediaan mendengarkan, keterbukaan terhadap perspektif berbeda, serta konsistensi dalam membangun komunikasi.

Bagi mahasiswa, perspektif ini memperluas pemahaman tentang kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional. Seorang tenaga ahli tidak hanya dituntut menguasai bidang teknis, tetapi juga perlu memahami masyarakat dan lingkungan tempat keahliannya diterapkan.

Teknologi membantu manusia mengidentifikasi risiko operasional. Diplomasi sosial menuntut manusia memahami risiko dalam hubungan antarmanusia. Keduanya membutuhkan ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan membaca situasi sebelum mengambil keputusan.

Dari ruang kuliah menuju dunia profesional

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Septinus Saa, mengatakan program Eksekutif Mengajar memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan praktis yang tidak sepenuhnya didapatkan melalui perkuliahan di kelas.

Pertemuan langsung dengan praktisi industri memungkinkan mahasiswa mengenali tantangan dunia kerja melalui pengalaman orang-orang yang terlibat di dalamnya. Pengetahuan akademik yang selama ini dipelajari memperoleh konteks baru ketika dihadapkan pada persoalan operasional dan sosial di lapangan.

Ia berharap mahasiswa Fakultas Teknik memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan dan mempersiapkan diri memasuki dunia profesional.

Harapan itu sejalan dengan pengalaman Isabella Waicang, mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN. Ia menilai kegiatan tersebut membantunya memahami penerapan teori perkuliahan dalam menghadapi persoalan nyata di industri.

Bagi Isabella, pembelajaran langsung dari para eksekutif tidak hanya memperkenalkan pekerjaan di sektor pertambangan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai pola pikir dan kompetensi yang diperlukan untuk memasuki dunia profesional.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada penguasaan materi. Mahasiswa juga perlu membangun kemampuan menganalisis persoalan, memahami dinamika lingkungan kerja, dan menyesuaikan pengetahuan dengan kebutuhan nyata.

Bagi generasi muda Papua, kesempatan berdialog dengan praktisi industri dapat menjadi ruang untuk mengenali peluang sekaligus memahami tantangan yang akan dihadapi. Dunia profesional membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu bekerja secara bertanggung jawab dan beradaptasi dengan perubahan.

Merawat hubungan kampus dan industri

Program Eksekutif Mengajar  melanjutkan kegiatan perdana di Kampus UNCEN pada 29 April 2026. Pada pelaksanaan sebelumnya, PTFI menghadirkan Vice President Mining Safety Division, Eman Widijanto, dan Vice President Corporate Communication, Katri Krisnati.

Keberlanjutan program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri. Kampus membangun fondasi keilmuan, sementara praktisi menghadirkan pengalaman mengenai penerapan pengetahuan dalam menghadapi tantangan pekerjaan sesungguhnya.

Pertemuan keduanya membuka ruang pembelajaran yang lebih luas bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya memperoleh gambaran mengenai pekerjaan yang akan dijalani, tetapi juga dapat memahami bahwa tantangan industri melibatkan banyak aspek yang saling berkaitan.

Dalam pertambangan modern, teknologi dibutuhkan untuk menjaga keandalan dan keselamatan operasi. Pada saat yang sama, pemahaman sosial dan budaya diperlukan untuk membangun komunikasi serta hubungan yang konstruktif dengan masyarakat.

Kedua aspek tersebut menempatkan manusia sebagai unsur utama. Teknologi membutuhkan tenaga profesional yang mampu membaca data dan mengambil keputusan secara cermat. Hubungan sosial membutuhkan orang-orang yang bersedia mendengarkan, memahami perbedaan, dan merawat kepercayaan.

Menyiapkan generasi yang memahami dua sisi pertambangan

Dari auditorium UNCEN, 200 mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat lebih dekat dua sisi industri pertambangan: ketelitian teknologi dan pentingnya diplomasi sosial.

Pembelajaran tersebut memperluas cakrawala mahasiswa tentang dunia kerja yang kelak mereka masuki. Keahlian teknis tetap menjadi fondasi, tetapi kemampuan memahami manusia dan lingkungan sosial juga merupakan bagian dari tanggung jawab profesional.

Di Papua, pembahasan mengenai keberlanjutan industri tidak dapat dilepaskan dari keragaman sosial dan budaya. Karena itu, penguasaan teknologi dan kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat perlu ditempatkan dalam percakapan yang saling melengkapi.

Program Eksekutif Mengajar menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk memahami hubungan tersebut melalui pengalaman praktis para eksekutif. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan menjadi bekal dalam membangun kesiapan menghadapi tantangan dunia profesional.

Pada akhirnya, pertambangan modern bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan atau seberapa efisien operasi dijalankan. Ada tanggung jawab untuk memahami risiko, menjaga keselamatan, menghormati masyarakat, dan membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan.

Sebab, di balik mesin yang bekerja dan teknologi yang terus berkembang, keberlanjutan tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, bertindak bijaksana, dan memahami bahwa kemajuan industri juga bersinggungan dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Example 300250