Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Jalan Motabuik – Nufuak Rusak Bertahun-Tahun, Kelurahan Mengaku Tak Berdaya”

5
×

Jalan Motabuik – Nufuak Rusak Bertahun-Tahun, Kelurahan Mengaku Tak Berdaya”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di Tengah Kubangan Menuju SDI Nufuak, Warga Menanti Sentuhan Pemerintah yang Tak Kunjung Datang

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID-Hujan turun perlahan membasahi Jalan TN Bakel Motabuik menuju SDI Nufuak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – RDTL.

Air memenuhi lubang-lubang besar yang telah lama menganga di badan jalan. Kubangan coklat itu memantulkan langit kelabu—seolah menjadi cermin kegelisahan warga yang bertahun-tahun menanti perhatian pemerintah.

Example 300x600

Di jalan itulah anak-anak sekolah melintas setiap pagi dengan sepatu yang kotor oleh lumpur. Para ibu berjalan hati-hati sambil mengangkat rok dan sandal agar tidak terjebak genangan. Pengendara motor memperlambat laju, takut terjatuh di lubang yang tertutup air hujan.

Kerusakan jalan itu bukan cerita baru. Ia sudah terlalu lama hidup bersama warga Nufuak.

Namun di balik keluhan warga, pemerintah kelurahan mengaku memiliki keterbatasan anggaran untuk menangani persoalan tersebut.

Lurah Fatukbot, Emirentiana Moru , SST kepada Redaksi Lintastimor.id, Jumat (15/5/2026) siang, mengatakan bahwa kondisi efisiensi anggaran saat ini membuat dana kelurahan sangat terbatas sehingga belum mampu mengakomodir pembangunan jalan dimaksud.

Menurutnya, dana kelurahan yang tersedia saat ini lebih difokuskan untuk sarana-prasarana serta pemberdayaan bagi keluarga miskin ekstrem.

“Terkait jalan rusak dari Jalan TN Bakel Motabuik menuju SDI Nufuak yang rusak parah bertahun-tahun dan menjadi kubangan, sejak awal saya dilantik saya juga turut hadir saat reses DPRD Dapil I di Lingkungan Nufuak RT 16. Kami juga sudah bersuara. Semoga lewat Bapak/Ibu DPRD bisa diakomodir,” ujar Emerentiana Moru.

Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut akan kembali dibawa dalam Musrenbang Kelurahan pada periode berikutnya sebagai bahan usulan prioritas pembangunan.

Selain itu, pihak kelurahan juga berencana melakukan koordinasi dengan BP4D dan Dinas PUPR Kabupaten Belu agar kerusakan jalan tersebut mendapat perhatian lebih serius.

╔═══════════════════════❀༻❤️༺❀═══════════════════════╗
“Di balik jalan yang berlubang itu,
ada langkah anak-anak sekolah
yang setiap hari bertaruh dengan lumpur
demi mengejar masa depan.”
╚═══════════════════════❀༻❤️༺❀═══════════════════════╝

Bagi warga Nufuak, jalan itu bukan sekadar akses biasa. Jalan tersebut menjadi penghubung kehidupan masyarakat menuju sekolah, kebun, pasar, dan pusat kota.

Sayangnya, waktu terus berjalan sementara lubang demi lubang tetap bertahan di badan jalan tanpa sentuhan perbaikan berarti.

Ketika musim hujan datang, kubangan semakin dalam. Kendaraan sering terjebak. Pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir. Bahkan warga mengaku kondisi jalan kerap membahayakan anak-anak sekolah yang setiap hari melintas menuju SDI Nufuak.

╔═══════════════════════❀༻🌹༺❀═══════════════════════╗
“Rakyat kecil tidak selalu meminta kemewahan.
Kadang mereka hanya ingin jalan yang layak,
agar perjalanan hidup mereka
tidak selalu dipenuhi luka dan lumpur.”
╚═══════════════════════❀༻🌹༺❀═══════════════════════╝

Kini warga hanya berharap suara mereka tidak kembali tenggelam bersama genangan air di jalan rusak itu. Sebab bagi masyarakat kecil di pinggiran kota Atambua, perhatian pemerintah bukan hanya soal janji, tetapi tentang keberpihakan terhadap kehidupan sehari-hari rakyatnya.

Example 300250