Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwa

Jalur KM 10 Lumpuh, Warga Rinhat Buka Jalan Harapan di Tengah Sunyi Pagi Malaka

2
×

Jalur KM 10 Lumpuh, Warga Rinhat Buka Jalan Harapan di Tengah Sunyi Pagi Malaka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LOTAS | LINTASTIMOR.ID — Pagi belum benar-benar selesai, jalan Poros KM 10 wilayah Desa Lotas Malaka, di Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, terputus akibat tanah jatuh tenggelam, Jumat (15/5/2026).

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan dan jalanan desa, ketika kabar itu menyebar cepat dari mulut ke mulut: Jalur KM 10 sudah tidak bisa dilewati.

Example 300x600

Jalan yang biasanya menjadi urat penghubung warga kini berubah sunyi. Kendaraan mulai berbalik arah. Sebagian pengendara berhenti di tepi jalan, saling bertanya jalur mana yang masih aman untuk dilintasi.

Di tengah situasi itu, warga Desa Lotas mulai memberi petunjuk jalan alternatif bagi masyarakat yang hendak melintas dari maupun menuju wilayah Betun.

Suara warga terdengar tegas namun penuh kehati-hatian, seolah memahami bahwa informasi pagi itu menjadi penentu perjalanan banyak orang.

╔══════════════ ❀ 🤍 ❀ ══════════════╗
“Jalur KM 10 sudah tidak bisa dilewati. Yang datang bisa lewat jalur Muke. Dari Biuduk Foho Foho masuk lewat cabang depan Kantor Desa Lotas. Kalau dari Betun masuk lewat cabang Desa Muke dan keluar kembali di depan Kantor Desa Lotas.”
Warga Desa Lotas, Kecamatan Rinhat Teklaradis Fatin.
╚══════════════ ❀ 🤍 ❀ ══════════════╝

Informasi tersebut disampaikan warga pada Jumat pagi saat kondisi akses utama di kawasan itu dilaporkan terputus dan tidak lagi memungkinkan dilalui kendaraan.

Pantauan warga di sekitar lokasi KM 10 Lotas menunjukkan sejumlah pengendara mulai mengalihkan perjalanan melalui jalur alternatif Muke untuk menghindari kemacetan maupun risiko terjebak di titik jalan yang tidak dapat dilalui.

Suasana di sekitar jalur alternatif tampak lebih ramai dari biasanya. Beberapa kendaraan roda dua dan mobil perlahan melintas dengan kecepatan rendah, sementara warga berdiri di pinggir jalan membantu mengarahkan para pengguna jalan yang baru tiba.

Di tengah keterbatasan akses, solidaritas masyarakat terasa begitu hidup. Tidak ada sirene. Tidak ada pengeras suara. Hanya ada warga desa yang berdiri di persimpangan jalan, memberi arah agar orang-orang tetap bisa sampai ke tujuan mereka.

Dan pagi itu, di antara jalan tanah, debu, dan kendaraan yang mencari jalan keluar, Malaka kembali menunjukkan satu hal sederhana namun penting: ketika jalur utama terputus, kemanusiaan selalu menemukan jalan alternatifnya sendiri.

Warga pun menandai lokasi itu dengan menggunakan daun gewang sebagai rambu berwaspada bagi pengguna sepeda motor dan kendaraan beroda 4-6 agar jangan melintas lokasi berbahaya itu.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe