Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
HiburanNasionalPeristiwa

Di Bawah Cahaya Lampu Cafe Perbatasan, Piche Kota Menyanyi Seperti Lelaki yang Sedang Memeluk Luka dan Cinta”

81
×

Di Bawah Cahaya Lampu Cafe Perbatasan, Piche Kota Menyanyi Seperti Lelaki yang Sedang Memeluk Luka dan Cinta”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA|LINTASTIMOR.ID — Malam di kota Atambua perbatasan itu tidak benar-benar tidur. Di sudut sebuah cafe resto di Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, suara gitar perlahan mengalun lembut, memecah dingin malam Senin, 11 Mei 2026. Aroma kopi bercampur tawa pengunjung, sementara lampu-lampu temaram memantulkan bayangan panjang di wajah para pencinta musik yang datang bukan sekadar untuk mendengar lagu — tetapi untuk merasakan pulang.

Di ruang sederhana itu, duduk sosok yang tak asing lagi bagi anak-anak perbatasan.
Kembali hadir menyapa para penggemarnya. Bukan dengan gemerlap konser besar, melainkan dengan kesederhanaan yang justru membuat setiap nada terasa lebih dekat ke dada.

Example 300x600

Malam itu, Piche seperti sedang membuka halaman hidupnya sendiri.

Ia menyanyikan lagu-lagu favorit yang selama ini melekat di hati masyarakat perbatasan. Suaranya mengalir pelan, lalu meninggi penuh penghayatan. Sesekali matanya menatap langit-langit cafe, seakan sedang berbicara diam-diam dengan masa lalu.

Tak sendiri, Piche tampil didampingi sahabat musiknya, Peter Titus. Di kursi bagian depan, tampak kedua orang tuanya — Bapak Thony Kota dan Mama Ida Luan — duduk menyaksikan dengan mata berbinar. Hadir pula kakak-kakak dan keluarga dekat yang malam itu menjadi saksi bagaimana seorang anak perbatasan tumbuh menjadi suara bagi banyak hati.

Pengunjung larut dalam suasana. Ada yang ikut bernyanyi pelan, ada yang merekam dengan telepon genggam, dan ada pula yang hanya diam sambil tersenyum tipis, menikmati setiap lirik yang jatuh seperti hujan rindu.

Namun malam itu bukan hanya tentang hiburan.

Ketika Piche membawakan lagu-lagu rohani, suasana cafe berubah syahdu. Beberapa pengunjung menundukkan kepala. Musik seakan menjadi doa yang dinyanyikan bersama. Di tengah riuh dunia, malam itu Atambua terasa begitu tenang.

❝ Di perbatasan ini, musik bukan sekadar hiburan.
Musik adalah pelukan bagi mereka yang pernah merasa sendiri. ❞

Sorak tepuk tangan berkali-kali memenuhi ruangan. Tetapi yang paling terasa justru kehangatan sederhana dari seorang Piche Kota yang tetap tampil rendah hati di tengah cinta besar para penggemarnya.

Ia tersenyum, menyapa satu per satu pengunjung, dan beberapa kali terlihat mengangkat tangan ke arah keluarganya. Sebuah pemandangan kecil yang membuat malam itu terasa sangat manusiawi.

Di kota yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu, musik kembali membuktikan dirinya mampu menyatukan banyak rasa.

Dan ketika lagu terakhir selesai dinyanyikan, tak sedikit pengunjung yang masih bertahan di kursi mereka, seakan belum rela malam berakhir.

Karena bagi para fansnya, malam bersama Piche Kota bukan hanya pertunjukan musik.

Itu adalah tentang kenangan, cinta, keluarga, dan suara perbatasan yang terus hidup di dalam lagu-lagu sederhana penuh jiwa.

Example 300250