ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Menjelang sore, ketika matahari mulai condong di langit Belu, bunyi gong dan gendang perlahan memecah udara. Parang dan tombak di tangan para penari bukan lagi simbol peperangan. Dopi atau perisai diangkat bukan untuk menghadapi musuh. Di tanah rantau, benda-benda itu berubah menjadi bahasa budaya—cara orang Lamaholot menyapa masa lalu sekaligus memperkenalkan jati dirinya kepada generasi hari ini.
Itulah yang sedang dipersiapkan warga etnis Lamaholot di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI -RDTL menjelang Karnaval Parade Kebangsaan yang akan digelar pada Kamis 13 Agustus 2026.
Sejak Minggu, 10 Agustus hingga 12 Agustus 2026, mereka berlatih setiap sore untuk menampilkan Tarian Perang Hedung, salah satu warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Lamaholot.
Gaspar Kopong Kelen kepada Redaksi Lintastimor.id, Rabu 12 Agustus 2026 di Atambua, mengatakan etnis Lamaholot merupakan komunitas budaya yang memiliki kesamaan tradisi di sejumlah wilayah, yakni Adonara, Solor, Flores Timur daratan, dan Lembata.
Dalam perjalanan sejarahnya, wilayah-wilayah itu dapat dipisahkan oleh batas administrasi pemerintahan. Lembata dan Flores Timur, misalnya, merupakan dua kabupaten yang berbeda. Namun bagi masyarakat Lamaholot, batas administratif tidak serta-merta memutus hubungan kebudayaan.
“Secara administrasi pemerintahan, Lembata dan Flores Timur adalah dua kabupaten yang berbeda. Tetapi dalam unsur budaya, kami tidak bisa dipisahkan. Tarian Perang Hedung dan Dolo-Dolo merupakan milik bersama warga Flores Timur dan Lembata.”
Di situlah Hedung menemukan maknanya.
Bersama Tarian Dolo-Dolo, Hedung menjadi salah satu ruang perjumpaan budaya yang menyatukan warga Lamaholot di mana pun mereka berada, termasuk mereka yang kini hidup dan membangun kehidupan di Belu.
Dari Medan Perang ke halaman Perjumpaan
Dahulu, Hedung merupakan tarian yang dikhususkan untuk menyambut pasukan perang yang kembali dengan kemenangan dari medan pertempuran.
Waktu mengubah konteksnya, tetapi tidak menghapus maknanya.
Kini, tarian tersebut lebih banyak dimaknai sebagai bentuk penyambutan terhadap figur atau kelompok yang berhasil dalam perjuangan hidup dan karier, baik dalam bidang pemerintahan maupun agama. Mereka dapat berupa pejabat pemerintahan, imam, pastor, hingga figur lain yang dianggap berhasil dalam perjalanan pengabdiannya.
Parang, tombak, dan perisai yang dahulu merepresentasikan suasana perang kini hadir dalam suasana yang jauh berbeda: penyambutan, penghormatan, dan perayaan.
“Dulu Hedung digunakan untuk menjemput pasukan perang yang menang di medan pertempuran. Sekarang maknanya lebih diarahkan untuk menyambut figur atau kelompok yang berhasil dalam perjuangan karier, baik di pemerintahan maupun agama.”
Transformasi itu memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan tanpa kehilangan akar. Hedung tidak dibekukan sebagai artefak masa lalu. Ia dibawa berjalan mengikuti zaman.
Budaya yang Menyeberangi Batas Administratif
Di Belu, masyarakat Lamaholot menjadikan pelestarian budaya sebagai bagian dari pengabdian mereka di tanah tempat mereka hidup.
Mereka kerap menampilkan Tarian Perang Hedung dalam berbagai hajatan keagamaan maupun kegiatan pemerintahan apabila diminta.
Hedung pernah digunakan untuk menyambut Uskup Atambua, imam baru, Bupati Belu Willy Lay saat dilantik, serta para frater dari Ledalero di Atambua.
Tarian tersebut juga terus hadir dalam kegiatan karnaval dan parade kebangsaan di Kabupaten Belu.
Bagi Kopong, keterlibatan itu bukan sekadar pertunjukan. Ada tanggung jawab untuk menjaga agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita yang hanya dikenang oleh generasi tua.
“Sebagai bentuk pengabdian di tanah Belu, kami selalu menampilkan budaya Tarian Perang Hedung dalam setiap hajatan keagamaan maupun hajatan pemerintah apabila diminta. Ini bagian dari upaya kami melestarikan budaya.”
Kini, menjelang Karnaval Parade Kebangsaan 13 Agustus 2026, para penari kembali menyiapkan diri. Dari Minggu hingga Rabu, 10-12 Agustus, latihan dilakukan setiap sore.
Gong dan gendang disiapkan. Parang dan tombak Lamaholot menjadi bagian dari perlengkapan. Dopi atau perisai, giring-giring, selendang dan sarung Lamaholot, serta mahkota kepala yang dibuat dari daun lontar atau daun kelapa turut dipersiapkan.
Tidak ada medan perang yang akan mereka masuki.
Yang mereka hadapi adalah panggung kebudayaan.
Ketika Identitas Menjadi cara Pulang
Secara kontekstual, keberadaan Hedung di Belu memperlihatkan bahwa kebudayaan sering kali bergerak lebih jauh daripada batas administrasi. Ketika sebuah komunitas berpindah dan hidup di wilayah lain, tradisi menjadi salah satu cara mempertahankan ingatan kolektif. Dalam konteks Lamaholot, Hedung dan Dolo-Dolo tidak hanya berfungsi sebagai kesenian, tetapi juga menjadi penanda identitas, ruang solidaritas, dan jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan akar budaya mereka.
Karena itu, keterlibatan warga Lamaholot dalam Karnaval Parade Kebangsaan memiliki dua wajah sekaligus. Mereka membawa identitas Lamaholot, tetapi hadir dalam sebuah perayaan kebangsaan di tanah Belu.
Di sana, budaya lokal tidak sedang berhadapan dengan Indonesia.
Justru sebaliknya, keberagaman budaya itulah yang memberi warna pada wajah Indonesia.
Kopong mengatakan keterlibatan etnis Lamaholot dalam karnaval tahun ini merupakan bagian dari komitmen untuk ikut menyukseskan kegiatan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
Mereka akan membawa perlengkapan tradisional yang selama ini menjadi bagian penting dari pertunjukan Hedung: parang dan tombak Lamaholot, gong, gendang, dopi, giring-giring, selendang dan sarung Lamaholot, serta mahkota kepala dari daun lontar atau daun kelapa.
Pada 13 Agustus 2026, ketika suara gong kembali bergema di Belu, Hedung akan hadir bukan sebagai cerita tentang perang.
Ia akan menjadi cerita tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga identitasnya, merawat ingatan leluhur, dan membawa warisan budaya melintasi batas wilayah.
Sebab selama gong masih ditabuh, langkah masih dihentakkan, dan generasi masih mau menari, ingatan tentang dari mana mereka berasal tidak akan pernah benar-benar hilang.


















