TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tepian Mimika Barat, perjalanan sebuah rombongan pemerintah tidak berhenti ketika perahu merapat di dermaga. Senin, 10 Agustus 2026, dari Dermaga Pelabuhan Atapo, sebuah pesan tentang kerukunan dibawa masuk lebih jauh: ke kantor distrik, kampung, dan ruang-ruang tempat masyarakat membangun kehidupan bersama.
Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika, Abraham Kateyau, tiba di Distrik Mimika Barat bersama rombongan menggunakan armada milik Camat Papua. Kedatangannya disambut Kepala Distrik Mimika Barat Cristian P. Warinusi, Asisten III Setda Mimika Albertus Onawame, Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhamad Yani, Serka Fredik Sada dari Babinsa Kokonao, staf distrik, serta tokoh masyarakat Kokonao.
Di antara mereka, hadir aparat pemerintah, TNI-Polri, dan masyarakat. Tidak sekadar dalam satu agenda pemerintahan, tetapi dalam satu ruang komunikasi yang mempertemukan banyak unsur di wilayah pesisir Mimika Barat.
Abraham bersama rombongan kemudian menuju Kantor Distrik Mimika Barat. Agenda dilanjutkan dengan persiapan apel gabungan yang melibatkan aparatur sipil negara serta unsur TNI-Polri di lingkungan pemerintahan distrik.
Dari sana, perhatian diarahkan kepada sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: keluarga dan hubungan antarkelompok.
Merawat kerukunan dari keluarga
Dalam kunjungan tersebut digelar kegiatan peningkatan kesadaran keluarga dalam membangun kerja sama antarkeluarga dan kelompok masyarakat.
Program itu diarahkan untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga kerukunan di tengah masyarakat Mimika Barat.
Abraham Kateyau mengikuti kegiatan tersebut bersama Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhamad Yani, Kepala Distrik Cristian P. Warinusi, Kepala Kampung Atapo Serka Avatoni, Kepala Kampung Kokonao Mikharbi, serta Serka Fredik Sada.
Sejumlah staf pemerintahan, kepala kampung, tokoh masyarakat, kaum perempuan, dan tokoh lintas agama turut hadir.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa menjaga kerukunan bukan semata pekerjaan pemerintah atau aparat keamanan. Ia tumbuh dari keluarga, dipelihara oleh komunikasi, dan menjadi kuat ketika masyarakat merasa memiliki ruang yang sama untuk bertemu dan saling mendengar.
“Kerukunan tidak lahir dari seragam atau jabatan. Ia tumbuh ketika keluarga saling menjaga, masyarakat saling menghormati, dan pemerintah hadir untuk mempertemukan perbedaan dalam satu ruang kebersamaan.”
Pemerintah hadir hingga kampung
Kehadiran Sekda Mimika bersama unsur TNI-Polri dan pemerintahan distrik menunjukkan pentingnya koordinasi langsung di wilayah yang kehidupan sosialnya bertumpu kuat pada hubungan antarkeluarga, kampung, dan kelompok masyarakat.
Dalam konteks Mimika Barat, komunikasi semacam ini memiliki arti strategis. Pemerintahan tidak hanya bekerja melalui meja birokrasi, tetapi juga perlu hadir di tengah masyarakat untuk membaca persoalan, membangun kepercayaan, dan memastikan kerukunan tetap menjadi fondasi kehidupan bersama.
Di sisi lain, keterlibatan tokoh masyarakat, perempuan, dan tokoh lintas agama memperluas ruang dialog. Kerukunan menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar agenda seremonial pemerintah.
“Ketika pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, perempuan, dan pemuka agama duduk dalam satu ruang, yang sedang dibangun bukan hanya koordinasi, melainkan jembatan kepercayaan.”
Kunjungan kerja itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan seorang pejabat daerah ke sebuah distrik.
Dari Dermaga Atapo hingga Kantor Distrik Mimika Barat, ada pesan yang berjalan perlahan: bahwa pembangunan membutuhkan keamanan, keamanan membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan hanya tumbuh ketika masyarakat merasa didengar.
Di Mimika Barat, kerukunan tidak sedang dibicarakan sebagai kata yang indah.
Ia sedang dirawat—dari keluarga, dari kampung, dan dari pertemuan-pertemuan sederhana tempat manusia memilih untuk tetap berjalan bersama.


















