TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di usia ketika langkah mulai melambat dan tubuh tak lagi sekuat dahulu, perhatian kecil dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bagi para lanjut usia (lansia) di Mimika, perhatian itu kini hendak diperluas—bukan sekadar ketika sakit datang, tetapi sejak risiko kesehatan mulai terdeteksi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mendorong penguatan deteksi dini dan pemantauan kesehatan lansia, terutama mereka yang masuk kategori risiko tinggi atau RISTI.
Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama penjaringan dan pemantauan lansia di enam distrik serta 10 puskesmas yang berada di wilayah perkotaan Mimika.
Penguatan pelayanan itu menjadi salah satu fokus dalam Sosialisasi Kerja Sama Operasional (KSO) Penjaringan dan Pemantauan Lansia Risiko Tinggi, yang berlangsung di salah satu hotel di Timika, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan dibuka Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, dan dihadiri unsur pemerintah distrik, kelurahan dan kampung, kepala puskesmas, pengelola program lansia, jajaran Dinas Kesehatan, serta organisasi profesi kesehatan.
Di balik forum tersebut, ada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka dan data kesehatan. Bertambahnya usia harapan hidup berarti semakin banyak orang membutuhkan pelayanan yang tidak berhenti pada pengobatan, melainkan hadir melalui pencegahan, pendampingan, dan pemantauan yang berkesinambungan.
Godfried mengatakan, kesehatan lansia membutuhkan perhatian bersama karena kelompok tersebut berada pada fase kehidupan yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Menurut dia, program lansia di tingkat puskesmas harus mampu bergerak lebih dekat kepada masyarakat. Dengan begitu, kondisi kesehatan lansia dapat diketahui lebih awal dan ditangani sesuai kebutuhan.
“Yang kita bangun hari ini bukan hanya sebuah kegiatan, tetapi pola pelayanan yang harus terus berjalan. Lansia perlu mendapat perhatian sejak awal agar kondisi kesehatannya dapat dipantau dengan baik,” kata Godfried.
Pesan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa pelayanan kesehatan lansia tidak boleh berhenti di ruang pertemuan. Setelah sosialisasi selesai dan kursi-kursi kembali kosong, pekerjaan sesungguhnya justru menunggu di lapangan—di puskesmas, kelurahan, kampung, hingga rumah-rumah tempat para lansia menjalani hari-harinya.
Godfried meminta seluruh pihak yang terlibat tidak bekerja sendiri-sendiri. Kolaborasi antara puskesmas dengan pemerintah distrik, kelurahan, kampung, serta organisasi profesi dinilai penting untuk memperluas jangkauan pelayanan.
Ia berharap hasil sosialisasi diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam pelayanan sehari-hari, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Setelah kegiatan ini, saya berharap ada langkah nyata di lapangan. Koordinasi harus terus dilakukan sehingga pelayanan yang diberikan benar-benar sampai kepada lansia yang membutuhkan,” ujarnya.
bukan sekadar memeriksa, tetapi menjaga
Ketua Panitia, Linda Runtuwene, menjelaskan bahwa meningkatnya usia harapan hidup membawa konsekuensi terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan bagi kelompok lanjut usia.
Karena itu, sistem pelayanan perlu dipersiapkan bukan hanya untuk menangani lansia yang telah mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga mendeteksi lebih awal berbagai faktor risiko yang mungkin berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Linda menyebut, penguatan pelayanan masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya pemahaman petugas terhadap indikator pelayanan, keterbatasan sumber daya, serta kesinambungan pemantauan terhadap kondisi lansia.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan proses penjaringan tidak berhenti pada pemeriksaan awal. Data dan kondisi lansia perlu terus dipantau sehingga perkembangan kesehatannya dapat diketahui secara berkala,” jelas Linda.
Menurut dia, karakter geografis Mimika yang beragam juga membuat keterlibatan pemerintah di tingkat distrik, kelurahan, dan kampung menjadi penting dalam mendukung pelayanan kesehatan lansia.
Dinkes Mimika turut mendorong penguatan posyandu lansia sebagai salah satu sarana pelayanan yang mengedepankan pencegahan serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.
membaca risiko sebelum sakit datang
Secara kontekstual, perluasan pemantauan lansia risiko tinggi menunjukkan pergeseran pendekatan pelayanan kesehatan dari pola yang semata-mata menunggu orang sakit menuju pelayanan yang lebih preventif. Bagi Mimika, penguatan jejaring hingga distrik, kelurahan, kampung, dan puskesmas menjadi penting agar lansia berisiko tidak luput dari pemantauan hanya karena keterbatasan akses atau jarak pelayanan.
Di sana, kerja sama bukan sekadar istilah administratif. Ia menjadi jembatan antara data kesehatan dan manusia yang menjalani hari-hari terakhir dari sebuah perjalanan panjang kehidupan.
Sebab seorang lansia bukan hanya angka dalam laporan kesehatan. Ia adalah ayah, ibu, kakek, nenek—seseorang yang pernah berjalan jauh sebelum akhirnya membutuhkan tangan orang lain untuk memastikan langkahnya tetap aman.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, pelayanan lansia di Mimika diharapkan semakin terarah dan mampu menjangkau kelompok risiko tinggi secara lebih optimal.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan itu bukan seberapa megah sebuah sosialisasi digelar, melainkan seberapa cepat sebuah tangan kesehatan tiba ketika seorang lansia mulai membutuhkan pertolongan—karena di usia senja, perhatian yang datang tepat waktu sering kali menjadi bentuk kasih yang paling nyata.


















