PANIAI |LINTASTIMOR.ID— Malam belum sepenuhnya beranjak ketika api mulai melahap kawasan pasar di Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Senin dini hari, 7 September 2026.
Sekitar pukul 00.25 WIT, ketika sebagian besar warga tengah terlelap, kobaran api menjalar di antara bangunan yang berdiri saling berhimpitan. Puluhan rumah kios berubah menjadi bara. Sekitar tiga jam kemudian, pada pukul 03.30 WIT, api baru berhasil dikendalikan.
Namun, di balik padamnya api, tersisa tragedi yang jauh lebih dalam: 40 rumah kios ludes terbakar dan 11 orang meninggal dunia. Enam di antaranya anak-anak.
Sebelas nyawa itu ditemukan setelah petugas memeriksa bangunan yang terbakar. Tubuh mereka dalam kondisi meninggal dengan luka bakar. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Paniai.
Di antara korban terdapat Na, 70 tahun; Wa, 36 tahun; Ha, 30 tahun; RF, 28 tahun; dan He, 30 tahun.
Enam korban lainnya masih anak-anak: As, 9 tahun; Ab, 6 tahun; Ad, 5 tahun; Ar, 9 tahun; Ic, 6 tahun; dan AY, 2 tahun.
Nama-nama itu kini menjadi bagian dari duka yang tak mudah dijelaskan. Usia mereka berhenti di tengah malam yang semestinya hanya menyisakan sunyi, bukan jerit dan kepulan asap.
Api Menjalar, Pertanyaan Membesar
Kasubbid Penmas Humas Polda Papua Tengah Komisaris Polisi Henry J. Manurung membenarkan peristiwa kebakaran tersebut.
Menurut Henry, kondisi bangunan yang saling berhimpitan membuat api cepat menjalar. Keadaan itu pula yang menyebabkan proses pemadaman berlangsung cukup lama.
Aparat kemudian mengerahkan satu unit kendaraan taktis Water Canon. Api akhirnya berhasil dikendalikan sekitar pukul 03.30 WIT.
Tetapi ketika bara mulai mereda, pertanyaan justru membesar.
Mengapa kebakaran di kawasan pasar dapat berubah menjadi tragedi yang menewaskan 11 orang?
Pertanyaan itu kini berada di tengah penyelidikan kepolisian. Sebab, hingga saat ini, sumber dan penyebab kebakaran belum diketahui.
Polisi masih mengumpulkan keterangan para saksi dan melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara. Belum ada kesimpulan yang menyatakan bagaimana api bermula ataupun faktor apa yang menyebabkan kebakaran berkembang sedemikian cepat.
Bukan Sekadar Soal Sumber Api
Kebakaran memang bermula dari api. Namun, besarnya dampak sebuah kebakaran tidak selalu ditentukan oleh api semata.
Dalam kawasan pasar yang bangunannya saling berdempetan, keselamatan warga juga bergantung pada banyak hal: kondisi bangunan, ketersediaan jalur evakuasi, akses kendaraan pemadam, serta kesiapan fasilitas penanggulangan kebakaran.
Karena itu, penyelidikan terhadap tragedi Bapouda semestinya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai sumber api. Kondisi kawasan pasar dan kesiapan menghadapi keadaan darurat juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.
Apalagi, enam korban merupakan anak-anak. Mereka berada di kawasan yang seharusnya menjadi ruang aktivitas masyarakat, tetapi berubah menjadi perangkap maut ketika kebakaran terjadi pada dini hari.
Pertanyaan tentang bagaimana warga dapat menyelamatkan diri, bagaimana akses pertolongan tersedia, dan apakah sistem keselamatan telah memadai menjadi penting untuk dijawab secara menyeluruh.
Menunggu Jawaban dari Penyelidikan
Hingga kini, kepolisian belum menyebut adanya kesimpulan mengenai penyebab kebakaran.
Henry menegaskan, penyelidikan masih berlangsung.
“Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Kami masih mengumpulkan keterangan dari para saksi dan melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara,” kata Henry.
Pernyataan itu menempatkan tragedi Bapouda pada satu tahap penting: pencarian fakta.
Polisi perlu memastikan bagaimana kebakaran bermula, bagaimana api menjalar, serta faktor apa saja yang berkontribusi terhadap besarnya dampak. Pemerintah juga perlu menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi terhadap keselamatan kawasan pasar dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Sebab, ketika 40 rumah kios hangus dan 11 orang kehilangan nyawa, persoalannya tidak lagi semata-mata tentang kerugian material. Ada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Ada anak-anak yang tidak sempat menyelamatkan diri. Ada pula pertanyaan tentang keselamatan warga yang setiap hari beraktivitas di kawasan pasar dan permukiman padat lainnya.
Kini, selain mencari sumber api, pemerintah dan aparat perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah tragedi sebesar ini sebenarnya dapat dicegah?
Jawaban atas pertanyaan itu penting bukan hanya bagi keluarga sebelas korban, tetapi juga bagi masa depan keselamatan masyarakat Paniai.
Sebab setelah bara api padam, tanggung jawab belum selesai. Yang tersisa adalah kehilangan, puing-puing, dan kewajiban untuk memastikan pasar tidak kembali menjadi tempat di mana kehidupan berhenti sebelum fajar.


















