Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKesehatanNasionalPeristiwaPolkam

Pemdes Tapobali Bergerak, Kusta dan TBC Diburu Sejak Dini

13
×

Pemdes Tapobali Bergerak, Kusta dan TBC Diburu Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LEMBATA |LINTASTIMOR.ID— Pagi baru saja membuka tirai di Desa Tapobali, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di Balai Posyandu Tanjung Sarang, Senin (7/9/2026), denyut pelayanan kesehatan bergerak lebih dekat kepada warga.

Bukan sekadar posyandu.

Example 300x600

Di tempat itu, pemerintah desa bersama UPTD Puskesmas Wulandoni membawa sebuah pesan sederhana, tetapi penting: penyakit tidak boleh menunggu sampai tubuh menyerah untuk kemudian dikenali.

Melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), warga Desa Tapobali mendapatkan pelayanan kesehatan lintas usia. Pemeriksaan tidak hanya menyasar kesehatan ibu, bayi, balita, anak sekolah dan remaja, usia produktif hingga lansia, tetapi juga diarahkan pada pencarian dini penyakit yang selama ini kerap bersembunyi di tengah masyarakat—kusta dan tuberkulosis (TBC).

Program tersebut merupakan bagian dari realisasi Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) dan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) Tapobali Tahun Anggaran 2026.

Tim medis UPTD Puskesmas Wulandoni menjadi garda pemeriksaan, didampingi kader kesehatan desa, perangkat desa, serta Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tapobali.

Mencari penyakit sebelum terlambat

Salah satu bagian penting kegiatan adalah skrining kusta di Dusun Walet.

Sebanyak 65 warga mengikuti pemeriksaan deteksi dini kusta, terdiri atas 25 laki-laki dan 40 perempuan.

Hasil skrining menemukan tujuh orang memiliki bercak putih yang tidak mati rasa. Sementara dua orang ditemukan memiliki bercak putih disertai mati rasa, yang dikategorikan sebagai kusta PB.

Dua pasien tersebut sebelumnya telah dipantau sejak Juni 2026. Pengobatan direncanakan segera dimulai pada pekan kegiatan tersebut.

Di sinilah makna pemeriksaan dini menemukan bobotnya. Sebuah bercak kecil pada kulit dapat terlihat sederhana, tetapi bagi tenaga kesehatan, tanda itu bisa menjadi pintu masuk untuk memastikan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Pada saat yang sama, skrining TBC dilakukan sebagai bagian dari upaya menemukan kasus secara lebih awal dan memutus rantai penularan di lingkungan masyarakat.

Kesehatan sebagai fondasi desa

Kepala Desa Tapobali, Agustinus Bala Ledun, S.Fil, menegaskan bahwa pemerintah desa tidak ingin pelayanan kesehatan berhenti sebagai program administratif.

Menurut dia, pelayanan harus benar-benar datang mendekati masyarakat.

“Pelayanan ini hadir langsung di desa sehingga warga tidak perlu menunda pemeriksaan kesehatan. Kesehatan warga adalah fondasi utama pembangunan desa.”

Ia mengatakan, penerapan Posyandu ILP dirancang untuk memastikan warga pada setiap tahapan kehidupan memperoleh perhatian kesehatan yang terstruktur.

“Integrasi layanan ini memastikan setiap siklus hidup warga, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak sekolah atau remaja, usia produktif hingga lansia mendapatkan perhatian medis yang terstruktur. Alokasi anggaran melalui APBDesa 2026 adalah bukti komitmen kami bahwa kesehatan warga adalah prioritas pembangunan desa.”

Pemerintah Desa Tapobali juga memberikan dukungan anggaran, sarana, serta mobilisasi masyarakat agar pelayanan dapat menjangkau seluruh warga.

Negara hadir dari balai posyandu

Pelaksana Tugas Camat Wulandoni, Petrus L.H.M Gowing, S.E, memberikan apresiasi terhadap kolaborasi pemerintah desa dan Puskesmas Wulandoni tersebut.

Ia melihat integrasi pelayanan kesehatan di tingkat desa sebagai bentuk konkret mendekatkan pelayanan dasar kepada masyarakat.

“Integrasi layanan kesehatan di tingkat desa seperti Tapobali merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak dasar masyarakat.”

Ia sekaligus mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan pelayanan terpadu tersebut untuk membangun desa yang sehat dan produktif.

Kepala Puskesmas Wulandoni, Dominikus P. Kepuka, SKM, mengatakan transformasi pelayanan melalui ILP diarahkan untuk memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit.

“Tenaga medis kami diturunkan langsung ke lapangan guna memastikan pelayanan berjalan komprehensif, terstruktur, dan berkesinambungan.”

Bagi pengelola program ILP, kusta, TBC, dan laboratorium, pendekatan terpadu membuat pemeriksaan kesehatan tidak lagi berdiri sendiri-sendiri. Skrining penyakit menular berjalan bersamaan dengan pemeriksaan penyakit tidak menular.

129 warga dewasa dan lansia diperiksa

Selain kusta dan TBC, kegiatan juga menyentuh persoalan penyakit tidak menular.

Sebanyak 129 sasaran dewasa dan lansia mengikuti skrining Penyakit Tidak Menular (PTM).

Dari pemeriksaan tersebut, enam orang menjalani pemeriksaan kolesterol, 14 orang pemeriksaan gula darah, dan 12 orang pemeriksaan asam urat.

Pemeriksaan tersebut menjadi langkah awal untuk mendeteksi risiko diabetes, gout, gangguan metabolik, maupun gangguan yang berkaitan dengan kesehatan jantung.

Sementara pemeriksaan golongan darah bagi warga belum dilakukan dalam kegiatan September. Pemeriksaan tersebut dijadwalkan pada Posyandu ILP Oktober 2026.

Data golongan darah nantinya diharapkan dapat menjadi basis informasi donor darah desa sekaligus membantu mengantisipasi kebutuhan darurat medis warga.

Ketika posyandu berubah menjadi pintu deteksi

Apa yang berlangsung di Tapobali memperlihatkan perubahan penting dalam cara pelayanan kesehatan desa dibangun.

Posyandu tidak lagi semata-mata dipahami sebagai ruang pelayanan ibu dan anak. Melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer, pelayanan diarahkan mengikuti siklus hidup manusia sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif.

Skrining kusta dan TBC menjadi penting karena penemuan kasus sedini mungkin memungkinkan masyarakat memperoleh penanganan lebih cepat sekaligus membantu mencegah penularan. Di sisi lain, pemeriksaan gula darah, kolesterol dan asam urat memperlihatkan bahwa beban kesehatan masyarakat tidak hanya berasal dari penyakit menular, tetapi juga dari penyakit tidak menular yang sering berkembang tanpa gejala jelas.

Dalam konteks itu, keberanian sebuah desa mengalokasikan APBDesa untuk mendekatkan pemeriksaan kepada warga bukan sekadar urusan anggaran. Ia merupakan investasi sosial: menemukan penyakit lebih awal berarti memberi masyarakat kesempatan lebih besar untuk mendapatkan penanganan sebelum persoalan kesehatan berkembang menjadi beban yang lebih berat.

Dan pagi itu, di sebuah balai posyandu di Tapobali, pelayanan kesehatan menemukan bentuknya yang paling sederhana: datang lebih dekat, mendengar lebih cepat, dan menemukan penyakit sebelum terlambat.

Sebab desa yang sehat bukanlah desa yang tidak pernah mengenal penyakit, melainkan desa yang tidak membiarkan penyakit tumbuh dalam diam.

Example 300250