Di sebuah aula yang dipenuhi degup harapan dan denting keberanian para pelajar muda, kata-kata tak lagi sekadar bunyi. Ia menjelma senjata intelektual, menari di udara, saling menangkis dan menyerang dengan logika yang tajam. Dan pada Sabtu itu, SMAN 1 Atambua berdiri paling tegak di antara seluruh sekolah, membawa pulang mahkota debat Bahasa Inggris Kabupaten Belu.
ATAMBUA, {LINTASTIMOR.ID} — Aula SMA Sta. Angela Atambua pada Sabtu, 16 Mei 2026, berubah menjadi arena adu gagasan para pelajar terbaik Belu. Tidak ada sorak stadion, tidak ada dentuman musik kemenangan. Yang terdengar hanyalah ketegangan argumentasi, tepuk tangan kagum, dan kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang meluncur penuh percaya diri dari bibir generasi muda perbatasan.
Di tengah atmosfer intelektual itu, tiga siswi SMAN 1 Atambua — Jessica Estrella Rotyn Korwa, Gabriella Rihi Rabinson, dan Alexandra Afliana Bria — tampil memukau. Mereka bukan sekadar berbicara dalam Bahasa Inggris. Mereka menghidupkan logika, menyulam argumentasi, dan menaklukkan lawan debat dengan ketenangan yang matang.
Kemenangan itu membawa SMAN 1 Atambua melangkah ke tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur bulan depan.
Sementara posisi kedua diraih SMA Sta. Angela Atambua melalui penampilan Margareth Abigail Ozora Luan, Pricia Nadila Putri Gaut Bei, dan Mario Bayu Bimatara Bani. Adapun SMA Negeri 2 Tasifeto Timur sukses merebut posisi ketiga lewat perjuangan Julianus Bere Talo, Matilde Anjeli Sama Leli, dan Margareta Agustina Bui Kau.
Namun lebih dari sekadar lomba, hari itu sesungguhnya adalah panggung lahirnya calon-calon pemimpin masa depan.
Para siswa berdiri membawa gagasan, bukan emosi. Mereka belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah menjatuhkan lawan, melainkan menyampaikan pikiran dengan elegan dan bermartabat.
Untuk kategori Debat Bahasa Indonesia, SMA Seminari Lalian tampil sebagai juara pertama melalui Eugenius Yakobus Leto, Laurensius Subun, dan Redemptus Hale. Posisi kedua ditempati SMA Sta. Angela lewat Brigitha Stefania Tlonaen, Cindy Theresia Amanas, dan Maria Anastasia Melani Nahak, sementara SMAN 1 Atambua berada di peringkat ketiga melalui Christian Albi Parulian Klau, Maria Gregolinda Susar, dan Agnes Vanessa Saputri Teuk.
Ajang yang digelar Kemendikdasmen melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) itu diikuti enam SMA se-Kabupaten Belu. Tetapi yang paling terasa bukan sekadar persaingan, melainkan semangat bahwa anak-anak perbatasan juga mampu berbicara untuk dunia.
╔══════════════ ❦ ❤️ ❦ ══════════════╗
“Debat bukan hanya soal menang dan kalah.
Ia adalah ruang melatih keberanian berpikir,
ketajaman logika, dan keindahan menyampaikan pendapat.”
— Gedefridus Zufri Ngampu, S.Pd., M.Pd
╚══════════════ ❦ ❤️ ❦ ══════════════╝
Ketua Panitia, Gedefridus Zufri Ngampu, S.Pd., M.Pd mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menjaring talenta terbaik Indonesia di bidang literasi, retorika, dan berpikir kritis.
Menurutnya, generasi muda saat ini harus memiliki kemampuan lebih dari sekadar akademik. Mereka perlu terlatih berbicara di depan publik, mampu berargumentasi secara sehat, berpikir objektif, sekaligus membangun daya saing yang positif.
“Ajang ini menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan generasi muda,” ungkapnya.
Tak hanya debat, kegiatan tersebut juga menghadirkan lomba Duta SMA yang menampilkan pesona kepemimpinan dan kesadaran sosial para pelajar.
Juara pertama diraih Chatrine Gabriela Putri Wodo dari SMAK Suria Atambua. Posisi kedua ditempati Cinta Cantika Kanni dari SMA Sta. Angela, sedangkan juara ketiga diraih Elisabeth Helena Defsi Nahak, juga dari SMA Sta. Angela.
Ngampu yang kini menjabat Kepala SMAN Raimanuk sekaligus Ketua MKKS SMA/SLB Kabupaten Belu menilai lomba duta sekolah memiliki hubungan erat dengan pengkaderan kepemimpinan generasi muda.
Sementara itu, Florida Maria Tae Lake, S.Pd yang hadir mewakili Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II NTT menegaskan pentingnya ajang-ajang talenta semacam ini.
Ia berharap ke depan seluruh SMA di Belu, TTU, dan Malaka wajib mengirim peserta agar semakin banyak anak-anak daerah yang berani tampil dan bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Di penghujung acara, ketika para peserta mulai meninggalkan aula dengan wajah lelah bercampur bangga, satu hal terasa jelas — Belu mungkin berada di beranda negeri, tetapi mimpi anak-anak mudanya telah melampaui batas perbatasan.
Dan dari ruang debat sederhana itu, masa depan sedang belajar berbicara kepada dunia.
✍️ Eustachius Mali


















