Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

UNDANA Kupang Harus Mendunia, Tetap Berakar

2
×

UNDANA Kupang Harus Mendunia, Tetap Berakar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID — Di sebuah ruang yang dipenuhi toga, senyum keluarga, dan harapan tentang masa depan, Universitas Nusa Cendana (UNDANA)  Kupang kembali menandai satu babak penting perjalanan panjangnya. Selasa (1/9/2026), di Gedung Grha Cendana, Penfui, Kupang, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena hadir dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Periode Ketiga September 2026.

Namun, bagi Melki, wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Di balik deretan nama yang hari itu dikukuhkan sebagai lulusan, tersimpan harapan yang jauh lebih besar: agar ilmu yang lahir dari kampus di tanah Flobamorata tidak berhenti di ruang-ruang kuliah, tetapi pulang menjadi tenaga bagi masyarakat.

Example 300x600

Atas nama Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh masyarakat NTT, Melki menyampaikan selamat kepada keluarga besar UNDANA atas Dies Natalis ke-64, sekaligus kepada para wisudawan dan wisudawati beserta orang tua serta keluarga yang telah menemani perjalanan panjang pendidikan mereka.

“Wisuda bukan akhir pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.”

Bagi Melki, kalimat itu bukan sekadar pesan seremoni. Selama 64 tahun, UNDANA telah menjadi bagian penting dari perjalanan NTT. Dari kampus tersebut telah lahir guru, tenaga kesehatan, birokrat, peneliti, profesional, pengusaha hingga pemimpin yang ikut membentuk wajah daerah dan berkontribusi bagi bangsa.

Karena itu, Melki menyambut baik semangat “World Class, Locally Relevant University.” Menurut dia, cita-cita menjadi universitas berkelas dunia tidak boleh membuat UNDANA kehilangan akar dan jati dirinya sebagai perguruan tinggi yang tumbuh bersama masyarakat NTT.

“UNDANA harus terus meningkatkan mutu akademik, riset, inovasi dan jejaring internasional, namun tetap berakar kuat di Flobamorata.”

Ketika Kampus Turun dari Menara Gading

Dalam pidatonya, Melki juga memberikan apresiasi terhadap respons UNDANA dalam menghadapi gempa Flores. Ketika bencana mengguncang dan meninggalkan luka di tengah masyarakat, sivitas akademika UNDANA disebut tidak memilih berdiam diri di balik tembok kampus.

Pelayanan kesehatan, relawan, posko darurat hingga bantuan logistik menjadi bagian dari keterlibatan kampus dalam membantu masyarakat terdampak.

Melki menyampaikan terima kasih kepada Rektor UNDANA, seluruh sivitas akademika, mahasiswa, serta Dharma Wanita Persatuan UNDANA yang turut mengambil bagian dalam respons kemanusiaan tersebut.

“Di saat masyarakat menghadapi bencana, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat untuk membaca kenyataan. Kampus harus hadir untuk ikut memperbaiki kenyataan itu.”

Apresiasi juga diberikan terhadap kebijakan relaksasi akademik, fleksibilitas perkuliahan dan keringanan finansial bagi mahasiswa yang terdampak gempa.

Bagi Melki, kebijakan tersebut memiliki makna lebih jauh daripada sekadar kelonggaran administratif. Pendidikan tidak boleh menjadi korban kedua setelah bencana.

“Bencana tidak boleh berubah menjadi bencana sosial yang memaksa anak-anak kita kehilangan masa depan.”

Ilmu Harus Menjawab Persoalan NTT

Melki berharap UNDANA semakin banyak menghasilkan riset dan inovasi yang menjawab persoalan nyata di NTT.

Mulai dari mitigasi bencana, pembangunan bangunan tahan gempa, kesehatan, pangan, air, lingkungan, perubahan iklim, ekonomi lokal, hingga pembangunan wilayah kepulauan dan perbatasan, menurut dia, harus menjadi ruang pengabdian ilmu pengetahuan.

Harapan tersebut menempatkan UNDANA bukan semata sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai salah satu pusat pengetahuan yang dapat membantu pemerintah dan masyarakat membaca sekaligus menyelesaikan persoalan daerah.

Secara kontekstual, tantangan NTT memang menuntut perguruan tinggi bergerak melampaui fungsi pendidikan konvensional. Daerah kepulauan dengan karakter geografis yang kompleks, kerentanan bencana, persoalan akses kesehatan, pangan, air, pembangunan wilayah perbatasan serta perubahan iklim membutuhkan riset yang tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat disentuh masyarakat. Dalam konteks itulah gagasan World Class, Locally Relevant University memperoleh relevansinya: mendunia dalam mutu, tetapi tetap pulang membawa jawaban bagi tanah kelahirannya.

Dari Toga Menuju Pengabdian

Kepada para wisudawan, Melki berpesan agar gelar dan ilmu yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk mengejar kemajuan pribadi.

Pendidikan, menurut dia, memiliki dimensi pengabdian yang lebih luas. Setiap gelar membawa tanggung jawab untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Hari wisuda akhirnya bukan hanya tentang toga yang dikenakan, ijazah yang diterima, atau foto bersama keluarga. Ia adalah titik ketika perjalanan akademik beralih menjadi perjalanan pengabdian.

“Gunakan gelar dan ilmu bukan hanya untuk kemajuan pribadi, tetapi untuk memberi manfaat bagi masyarakat.”

Enam puluh empat tahun UNDANA telah menjadi saksi bahwa pendidikan dapat tumbuh bersama perjalanan sebuah daerah. Dari kampus itu, pengetahuan terus dilahirkan; dari para lulusannya, harapan terus dikirim ke berbagai penjuru Flobamorata dan Indonesia.

Dan pada hari ketika toga-toga kembali ditanggalkan, satu pesan terasa paling panjang gaungnya: ilmu akan menemukan makna tertingginya ketika ia kembali kepada manusia yang membutuhkan.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe