Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Dari Ladang Petani, Roswita Bobe Meraih Gelar Sarjana

134
×

Dari Ladang Petani, Roswita Bobe Meraih Gelar Sarjana

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID— Siang itu, nama Roswita Bobe, S.Sos., akan dipanggil di antara deretan nama para wisudawan Universitas Nusa Cendana. Di sebuah gedung yang menjadi saksi lahirnya ribuan sarjana, seorang perempuan muda dari keluarga petani sederhana di Desa Muke, Lotas, Kabukhala, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, akhirnya sampai pada satu titik yang dahulu mungkin hanya hidup sebagai harapan di dalam doa kedua orangtuanya.

Hari Selasa, 1 September 2026, bukan sekadar tanggal wisuda bagi Roswita.

Example 300x600

Hari itu adalah tanda bahwa sebuah perjalanan panjang, yang dibangun dengan keterbatasan, doa, air mata, kerja keras, dan keteguhan hati, akhirnya menemukan satu perhentian.

Roswita Bobe, pemilik NIM 2003030061, lahir di Kabukahala pada 8 Agustus 2001. Ia bukan anak yang tumbuh dari keluarga berada. Ia lahir dan besar dalam keluarga sederhana, dengan kedua orangtuanya, Antonius Antoin Bobe dan Maria Tati, sebagai petani.

Dari rumah sederhana itulah sebuah mimpi perlahan tumbuh.

Bukan mimpi yang ditopang kemewahan.

Bukan pula perjalanan yang selalu memiliki jalan lapang.

Tetapi mimpi yang dirawat dengan cara paling sederhana: bekerja, berdoa, bertahan, dan terus melangkah.

Roswita menamatkan pendidikan dasar di SD Katolik Lotas Rinhat pada 2014. Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan di SMP Swasta Stella Maris Biudukfoho. Pada 2020, ia menamatkan pendidikan di SMA Negeri Harekakae.

Setahun kemudian, pada 2021, langkahnya membawa Roswita ke Kupang untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Nusa Cendana.

Di kota itu, ia belajar bukan hanya tentang ilmu pengetahuan.

Ia belajar tentang hidup.

Tentang bagaimana seseorang yang datang dari keluarga sederhana harus berjuang mengejar cita-cita di tengah berbagai keterbatasan.

Hingga akhirnya, perjuangan itu mengantarkannya ke Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana.

Skripsi menjadi salah satu ujian terakhir dari perjalanan akademiknya. Roswita mengangkat penelitian berjudul “Ketidakadilan Gender pada Pedagang Pasar Perempuan (Studi Kasus pada Penjual Sayur di Pasar Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT)”.

Judul tersebut bukan sekadar rangkaian kata akademik.

Di dalamnya terdapat perhatian Roswita terhadap realitas sosial, terutama pengalaman perempuan yang menjalani kehidupan dan bekerja di ruang publik.

Dan hari ini, hasil perjuangan akademik itu menemukan bentuknya dalam sebuah gelar:

Roswita Bobe, S.Sos.

Ketika anak petani membawa pulang gelar

Tidak ada kisah perjuangan yang benar-benar berjalan lurus.

Ada hari ketika seseorang merasa kuat.

Ada pula hari ketika langkah terasa terlalu berat.

Roswita pun mengakui perjalanan menuju wisuda bukan sesuatu yang selalu mudah. Ada tantangan, rasa lelah, air mata, bahkan rasa putus asa ketika apa yang diusahakan belum juga menunjukkan hasil.

Namun, satu hal tidak pernah hilang: keinginan untuk terus mencoba.

Dalam persembahannya, Roswita menulis pesan yang seolah menjadi cermin perjalanan hidupnya sendiri.

“Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih tetap memilih berusaha dan merayakan dirimu sendiri sampai di titik ini.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi seorang anak petani yang tumbuh dari keluarga sederhana dan kemudian berdiri sebagai seorang sarjana, kalimat tersebut menyimpan perjalanan yang panjang.

Ia bukan sekadar berterima kasih kepada dirinya sendiri.

Ia sedang mengakui bahwa ada masa-masa ketika menyerah terasa lebih mudah daripada bertahan.

Namun, ia memilih bertahan.

Bapa dan Mama di belakang sebuah gelar

Di balik gelar sarjana itu, ada dua nama yang mungkin tidak pernah tercetak pada ijazah, tetapi selalu hadir dalam setiap halaman perjalanan Roswita.

Antonius Antoin Bobe.

Maria Tati.

Bapa dan Mama.

Keduanya adalah petani sederhana di Desa Muke, Lotas, Kabukahala.

Mereka mungkin tidak memberikan Roswita kemewahan.

Tetapi mereka memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal: hanyalah doa, kasih sayang, dukungan, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan anak mereka.

Karena itu, bagi Roswita, toga dan gelar sarjana yang dikenakannya bukan semata-mata miliknya.

Ada keringat kedua orangtuanya di sana.

Ada doa yang mungkin dipanjatkan dalam kesunyian.

Ada pengorbanan yang tidak selalu diceritakan.

Dan ada harapan yang akhirnya hari ini berdiri di hadapan mereka dalam wujud seorang anak perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

Roswita menuliskan persembahan itu dengan penuh rasa syukur.

“Apa yang saya capai hari ini tidak terlepas dari doa dan perjuangan Bapa dan Mama.”

Kalimat tersebut barangkali menjadi bagian paling sederhana sekaligus paling dalam dari kisah wisudanya.

Sebab setiap gelar memiliki cerita.

Dan tidak semua cerita terlihat dari panggung wisuda.

Ada tangan yang menemani perjalanan

Dalam perjalanan panjang menuju gelar sarjana, Roswita juga menyebut nama Rius Halla sebagai sosok yang secara khusus memberikan dukungan sejak awal ia mendaftar kuliah hingga menyelesaikan pendidikan.

Roswita menyampaikan terima kasih karena Rius Halla tidak pernah bosan mendukung dan memotivasinya agar tidak menyerah dalam mengejar cita-cita.

“Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang membantu saya bertahan dan menyelesaikan perjalanan ini sampai akhir.”

Bagi Roswita, kebaikan seperti itu mungkin tidak bisa dibalas satu per satu.

Tetapi ia memilih untuk mengingatnya.

Sebab perjalanan pendidikan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat berjalan sendirian. Kadang-kadang, seseorang sampai ke tujuan karena ada tangan yang bersedia menopang ketika langkahnya mulai melemah.

Empat saudara dan keluarga yang menjadi rumah

Roswita juga mempersembahkan keberhasilannya kepada empat saudara tersayang: Thomas Bobe, Adriana Bobe, Arnoldus Janssen Bobe, dan Katarina Bobe.

Mereka adalah bagian dari rumah tempat Roswita belajar tentang kasih sayang, kebersamaan, dukungan, dan doa.

Ucapan terima kasih juga diberikan kepada Bapa Besar Agustinus Bobe, S.H., M.H., Mama Besar Aplonia B. Cu, S.Pd., Gr., serta Kakak Junirius Halla, S.Si.

Bagi Roswita, keluarga bukan sekadar mereka yang memiliki hubungan darah.

Keluarga adalah mereka yang hadir ketika perjalanan terasa berat.

Mereka yang mendoakan ketika tidak bisa membantu dengan cara lain.

Mereka yang menguatkan ketika seseorang mulai meragukan dirinya sendiri.

Motto yang menjadi jalan hidup

Roswita memilih sebuah motto yang terdengar sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna:

“Jangan bandingkan prosesmu dengan orang lain. Yang jalan kaki juga bisa sampai tujuan dan yang berlari pun bisa terjatuh.”

Motto itu berbicara tentang kesabaran, perjuangan, konsistensi, dan keteguhan hati.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki waktu dan jalan yang berbeda.

Ada yang berjalan cepat.

Ada yang harus berjalan perlahan.

Ada yang mendapatkan kesempatan lebih dahulu.

Ada yang harus menunggu lebih lama.

Tetapi lambat tidak berarti gagal.

Cepat tidak selalu berarti akan tiba lebih dahulu.

Roswita memahami bahwa hidup bukan kompetisi tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah perjalanan tentang siapa yang mampu tetap berjalan ketika jalan itu tidak mudah.

Pesan tersebut sejalan dengan Amsal 16:9:

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”

Dari desa sederhana menuju ruang akademik

Kisah Roswita juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya menjadi ruang bagi mereka yang lahir dalam kemapanan.

Dari keluarga petani sederhana di Kabupaten Malaka, ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk bermimpi. Pendidikan menjadi jembatan yang memungkinkan seorang anak desa berjalan lebih jauh, menemukan kemampuan dirinya, dan membawa pulang sebuah pencapaian yang dapat menjadi kebanggaan keluarga.

Pada titik ini, kisah Roswita bukan semata tentang seorang perempuan yang mendapatkan gelar sarjana. Ini adalah potret kecil tentang bagaimana pendidikan, dukungan keluarga, dan ketekunan dapat mengubah jarak antara sebuah mimpi dan kenyataan.

Hari ketika doa menjadi kenyataan

Pada Selasa, 1 September 2026, Universitas Nusa Cendana Kupang menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Periode Ketiga September 2026, Sesi 2.

Acara berlangsung di Gedung Grha Cendana Universitas Nusa Cendana, Adisucipto-Penfui, Kupang, mulai pukul 13.00 WITA.

Di antara para wisudawan itu, ada seorang perempuan dari Kabukahala.

Ia datang membawa satu gelar.

Tetapi di balik gelar itu terdapat perjalanan panjang yang tidak tertulis dalam ijazah.

Perjalanan seorang anak petani.

Perjalanan seorang perempuan yang pernah lelah.

Perjalanan seorang anak yang membawa doa kedua orangtuanya dari kampung hingga ke ruang akademik.

Dan ketika nama Roswita Bobe, S.Sos. disebut hari itu, barangkali yang berdiri bukan hanya seorang sarjana.

Yang berdiri adalah sebuah keluarga.

Yang berdiri adalah doa seorang Bapa dan Mama.

Yang berdiri adalah pengorbanan yang selama ini mungkin tidak terlihat.

Yang berdiri adalah bukti bahwa mimpi tidak selalu membutuhkan kehidupan yang mewah untuk tumbuh.

Kadang-kadang, mimpi hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menjaganya tetap hidup.

Roswita pernah menulis pesan untuk dirinya sendiri:

“Tidak apa-apa terlambat, asalkan tidak berhenti.”

Kalimat itu akhirnya menemukan maknanya pada hari wisuda.

Sebab perjalanan hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang sama bagi setiap manusia. Ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang sesekali jatuh dan harus bangkit kembali.

Namun, selama seseorang masih memilih untuk melangkah, tujuan tidak pernah benar-benar kehilangan arah.

Dan hari ini, seorang anak petani dari Kabukahala telah membuktikannya:

ia tidak datang dari keluarga kaya, tetapi ia datang dari keluarga yang kaya akan doa, perjuangan, dan cinta.

Di situlah sesungguhnya sebuah gelar sarjana menjadi jauh lebih berharga daripada sekadar empat huruf di belakang nama.

Example 300250