TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di tengah tantangan perubahan iklim dan persoalan sampah yang terus menghantui berbagai daerah, Pemerintah Kabupaten Mimika bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) memilih bergerak dari hal-hal sederhana: mengubah kepedulian terhadap lingkungan menjadi kebiasaan hidup sehari-hari.
Pesan itu mengemuka dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang berlangsung di Pelataran Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Jumat (5/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi penutup rangkaian aksi lingkungan yang telah digelar sejak 8 Mei 2026 dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Selama hampir satu bulan, semangat menjaga bumi diwujudkan melalui beragam kegiatan, mulai dari aksi bersih lingkungan, edukasi di sekolah-sekolah, penanaman pohon, penebaran benih ikan, webinar, talk show, hingga mangrove tour yang bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, mengatakan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk membangun kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.
🌹❤️ ╔════════════════════╗ ❤️🌹
“Menjaga lingkungan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Mulai dari mengurangi penggunaan sampah plastik, memilah sampah, hingga memanfaatkan kembali barang yang masih bisa digunakan. Jika dilakukan bersama-sama, langkah kecil ini akan memberikan dampak yang besar.”
— Claus Wamafma
Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia
🌹❤️ ╚════════════════════╝ ❤️🌹
Menurut Claus, PT Freeport Indonesia terus berkomitmen menjalankan berbagai program pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, termasuk penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) serta upaya mengurangi timbulan sampah di area operasional perusahaan.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat secara berkelanjutan.
Sementara itu, Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengingatkan bahwa makna Hari Lingkungan Hidup akan kehilangan esensinya jika hanya berhenti pada seremoni dan kegiatan simbolis.
🌹❤️ ╔════════════════════╗ ❤️🌹
“Momentum ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Menjaga kebersihan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.”
— Johannes Rettob
Bupati Mimika
🌹❤️ ╚════════════════════╝ ❤️🌹
Johannes mengakui bahwa persoalan sampah masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Kabupaten Mimika. Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif seluruh warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, dimulai dari rumah tangga, tempat kerja, hingga ruang-ruang publik.
Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar merupakan bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan setiap orang.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Mimika menjadi simbol kuat kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun budaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Melalui semangat kebersamaan tersebut, Mimika berharap mampu melahirkan generasi yang semakin sadar akan pentingnya menjaga bumi, sekaligus menciptakan kebiasaan-kebiasaan positif yang mendukung kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan daerah.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, pesan yang disampaikan hari itu sederhana namun bermakna: bumi yang bersih dan lestari bukan warisan dari masa lalu, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga bersama untuk masa depan.


















