TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di tengah derasnya arus globalisasi yang terus mengubah wajah peradaban, ada satu kekhawatiran yang mulai mengemuka di tanah Mimika: jangan sampai bahasa leluhur perlahan hilang dari ingatan generasi penerus.
Kekhawatiran itu disampaikan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Mimika, Herman Gafur, yang menilai sekolah harus menjadi garda terdepan sekaligus benteng pelestarian bahasa daerah Amungme dan Kamoro agar tetap hidup di tengah masyarakat dan tidak terkikis oleh perkembangan zaman.
Menurut Herman, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai-nilai budaya, identitas, dan jati diri masyarakat asli Mimika yang diwariskan dari generasi ke generasi.
🌹❤️ ╔════════════════════╗ ❤️🌹
“Kita jangan sampai terjebak hanya pada program-program nasional, sementara identitas budaya kita sendiri justru ditinggalkan. Bahasa Amungme dan Kamoro harus tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda.”
— Herman Gafur
Ketua Komisi III DPRD Mimika
🌹❤️ ╚════════════════════╝ ❤️🌹
Pernyataan tersebut disampaikan Herman pada Jumat (5/6/2026) sebagai bentuk keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.
Menurutnya, pelestarian bahasa tidak cukup dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seremonial atau peringatan budaya semata. Dibutuhkan langkah konkret yang menyentuh langsung dunia pendidikan agar anak-anak dapat mengenal dan mempelajari bahasa daerah sejak usia dini.
Karena itu, Herman mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika untuk menghadirkan kebijakan yang mewajibkan pengajaran bahasa Amungme dan Kamoro sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal di sekolah.
🌹❤️ ╔════════════════════╗ ❤️🌹
“Saya berharap ada komitmen yang kuat dari pemerintah daerah agar bahasa Amungme dan Kamoro dapat diajarkan di sekolah. Dengan begitu anak-anak tetap mengenal bahasa leluhur dan tidak kehilangan jati dirinya.”
— Herman Gafur
Ketua Komisi III DPRD Mimika
🌹❤️ ╚════════════════════╝ ❤️🌹
Bagi Herman, keberagaman budaya yang dimiliki Kabupaten Mimika merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Bahasa Amungme dan Kamoro bukan hanya simbol identitas masyarakat adat, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya pelestarian yang berkesinambungan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal bahasa leluhurnya melalui cerita dan catatan sejarah.
Karena itu, ia mengajak pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tokoh adat, dan masyarakat untuk membangun sinergi dalam menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai bagian penting dari kebudayaan Mimika.
🌹❤️ ╔════════════════════╗ ❤️🌹
“Pengajaran bahasa Amungme dan Kamoro di sekolah penting untuk memastikan generasi muda tidak kehilangan bahasa dan budaya leluhurnya.”
— Herman Gafur
Ketua Komisi III DPRD Mimika
🌹❤️ ╚════════════════════╝ ❤️🌹
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, pesan yang disampaikan Herman menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan akar budaya. Justru dari bahasa, sebuah bangsa dan masyarakat menjaga ingatan kolektifnya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Bagi Mimika, menjaga bahasa Amungme dan Kamoro berarti menjaga identitas, merawat sejarah, dan memastikan warisan leluhur tetap bertahan di masa depan.


















