ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah duka yang belum benar-benar reda di Pulau Flores, sebuah meja sederhana di depan Markas Polres Belu menjadi tempat orang-orang menitipkan kepedulian. Beras, mi instan, air mineral, biskuit hingga pakaian layak pakai datang silih berganti—seolah hendak mengatakan kepada para penyintas gempa: kalian tidak sendiri.
Sebagai bentuk solidaritas terhadap korban gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026), Kepolisian Resor Belu, Polda NTT, membuka Posko Penyaluran Bantuan Peduli Flores di depan Kantor Polres Belu, Jalan A. Yani, Atambua.
Posko tersebut mulai beroperasi pada Rabu (19/8/2026) pukul 08.00 WITA. Sejak pagi, personel Polres Belu yang ditugaskan di posko bergerak menerima, mendata, mengelompokkan, dan mengumpulkan bantuan yang datang dari anggota kepolisian maupun masyarakat Kabupaten Belu.
Hingga Rabu siang, bantuan yang terkumpul pada hari pertama meliputi beras, mi instan, air mineral, biskuit, serta pakaian layak pakai.
Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K. mengatakan, pendirian posko merupakan bentuk kepedulian bersama untuk membantu warga Flores yang terdampak bencana.
“Ketika kita bergerak mengulurkan tangan, melalui doa maupun donasi, kita mengirimkan pesan kuat kepada saudara-saudara kita yang terdampak gempa bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Ikatan persaudaraan sejati tidak diuji ketika kita bersenang-senang bersama, melainkan ketika kita merangkul dan menguatkan mereka pada masa-masa tersulit,” kata Eka.
Ia mengatakan, inisiatif membuka posko tersebut mendapat dukungan seluruh anggota Polres Belu. Menurut dia, bantuan yang dihimpun merupakan bentuk nyata kepedulian masyarakat Belu terhadap saudara-saudara mereka di Flores yang sedang menghadapi masa sulit.
“Saya berinisiatif mendirikan posko bantuan ini dengan didukung seluruh anggota Polres Belu agar kita bersama-sama dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana gempa. Ini adalah bentuk kepedulian dan solidaritas kita terhadap sesama,” ujarnya.
Keberadaan posko juga dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat Kabupaten Belu menyalurkan bantuan sekaligus memastikan bantuan yang masuk dapat dikelola dan diteruskan secara lebih terkoordinasi kepada wilayah-wilayah terdampak di Pulau Flores.
“Posko ini kami siapkan agar proses pengumpulan dan distribusi bantuan lebih terkoordinasi. Kami Polri berkomitmen mendukung penuh upaya kemanusiaan dan siap menyalurkan seluruh bantuan ke wilayah terdampak melalui jajaran kepolisian daerah,” tutur Eka.
Kepedulian yang Melintasi Batas Pulau
Gempa tidak hanya meninggalkan retakan pada bangunan. Ia juga meninggalkan ruang-ruang sunyi di antara keluarga yang kehilangan tempat tinggal, warga yang harus bertahan di pengungsian, serta mereka yang masih menunggu kepastian setelah bencana.
Dalam situasi seperti itu, bantuan bukan semata-mata soal jumlah barang yang dikirim. Di balik satu karung beras, sebungkus mi instan atau selembar pakaian yang layak pakai, terdapat pesan sosial bahwa penderitaan di satu wilayah merupakan duka yang dapat dirasakan bersama. Posko bantuan menjadi simpul kecil yang mempertemukan kepedulian masyarakat Belu dengan kebutuhan warga terdampak di Flores.
Kapolres Belu pun mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Belu untuk tidak ragu mengambil bagian. Menurutnya, gotong royong merupakan kekuatan penting ketika masyarakat menghadapi bencana.
“Duka mereka adalah duka kita bersama. Untuk itu, saya mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Belu untuk sama-sama mengulurkan tangan dan meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Flores,” ajaknya.
Ia menegaskan, tidak ada bantuan yang terlalu kecil selama diberikan dengan ketulusan dan dalam kondisi yang baik sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh para korban.
“Bantuan sekecil apa pun pasti memiliki arti besar bagi para korban. Kami berharap seluruh bantuan yang diberikan berada dalam kondisi baik dan layak guna, sehingga dapat langsung digunakan oleh para korban bencana,” pungkasnya.
Di Atambua, bantuan itu mungkin hanya bermula dari satu tangan yang menyerahkan sesuatu. Namun ketika tangan-tangan lain ikut terbuka, kepedulian berubah menjadi kekuatan.
Dan di tengah puing-puing yang masih menyisakan duka di Flores, sebuah pesan sederhana terus bergerak dari Belu: jarak antarpulau boleh terbentang oleh laut, tetapi kemanusiaan tidak pernah mengenal batas.


















