MAUMERE |LINTASTIMOR.ID— Di tengah tenda-tenda pengungsian yang menjadi tempat berlindung warga, sisa ketakutan akibat gempa masih terasa. Sebagian warga belum berani kembali ke rumah. Di Kabupaten Sikka, penanganan bencana tidak hanya berbicara tentang bangunan yang runtuh dan data korban, tetapi juga tentang memastikan setiap warga tetap merasa aman ketika tanah belum sepenuhnya dipercaya.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengunjungi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (19/8/2026), untuk melihat langsung penanganan bencana gempa Flores yang berdampak pada tujuh kabupaten di Pulau Flores.
Setibanya di Maumere, Tito mengunjungi posko pengungsian di Gelora Samador da Cunha Maumere. Ia melihat langsung kondisi warga yang masih bertahan di dalam tenda-tenda pengungsian sekaligus memastikan penanganan kebutuhan dasar berjalan.
Dari lokasi pengungsian, Mendagri kemudian mendatangi Posko Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana Kabupaten Sikka di Kantor BPBD Sikka.
Di sana, Tito menerima pemaparan mengenai data korban, kerusakan bangunan, bantuan, hingga jumlah pengungsi akibat gempa Flores. Ketelitian pengelolaan data tersebut mendapat apresiasi dari Mendagri.
“Ini posko sudah sangat bagus karena datanya lengkap dan terperinci. Paling bagus dibandingkan posko di kabupaten lainnya yang terkena dampak gempa Flores,” ujar Tito.
Bagi pemerintah, data menjadi fondasi penting dalam menentukan langkah setelah bencana. Dari angka korban hingga peta kerusakan, setiap catatan menjadi dasar untuk memastikan bantuan tidak berhenti pada tahap tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga pemulihan dan rekonstruksi.
Tito memperkirakan masyarakat membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu ke depan untuk kembali menuju situasi normal. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah menyiapkan kebutuhan warga untuk menghadapi masa pemulihan tersebut.
“Untuk kembali ke situasi normal diprediksi membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu ke depan. Jadi harus dipersiapkan untuk membantu masyarakat untuk jangka waktu dua sampai tiga minggu ke depan,” katanya.
Warga Belum Berani Pulang
Di tengah proses penanganan itu, satu persoalan masih membayangi: sebagian warga memilih tidur di luar rumah karena trauma dan ketakutan terhadap kemungkinan gempa susulan.
Tito meminta pemerintah tidak memaksakan warga kembali ke rumah sebelum mereka merasa aman.
“Jangan memaksakan masyarakat tidur di dalam rumah,” pintanya kepada Bupati Sikka.
Karena itu, kebutuhan dasar harus dipastikan tersedia. Makanan, obat-obatan, popok, dan tenda menjadi bagian dari kebutuhan yang harus terus disiapkan selama warga masih berada di pengungsian.
“Kita siapkan makanan-makanan, obat-obatan, popok dan tenda. Pendataan terus dilakukan hingga tahap rekonstruksi pascabencana,” ujar Tito.
Dua Nyawa Hilang di Terminal Pelindo
Selain mengunjungi lokasi pengungsian dan posko tanggap darurat, Mendagri juga meninjau lokasi gedung terminal penumpang PT Pelindo yang ambruk akibat gempa. Runtuhnya bangunan tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia.
Kunjungan itu menjadi bagian dari pemantauan langsung terhadap dampak gempa, terutama pada fasilitas yang memiliki fungsi publik dan berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Berdasarkan data yang diperlihatkan kepada Mendagri, kerusakan juga terjadi pada sejumlah fasilitas umum, termasuk rumah ibadah, puskesmas, dan sekolah.
Tito meminta Pemerintah Kabupaten Sikka segera berkoordinasi dengan BNPB agar kerusakan fasilitas tersebut dapat ditindaklanjuti oleh kementerian terkait, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan.
Pemerintah pusat, kata Tito, siap mendukung Pemkab Sikka dalam proses rekonstruksi fasilitas umum yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Dari Tenda Menuju Rekonstruksi
Penanganan bencana tidak berhenti ketika api di dapur umum menyala atau bantuan tiba di posko. Masa yang lebih panjang justru dimulai setelah perhatian publik perlahan surut: memastikan warga memperoleh tempat tinggal yang aman, fasilitas umum kembali berfungsi, dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat pulih. Karena itu, ketepatan data yang diapresiasi Mendagri menjadi penting sebagai jembatan antara tanggap darurat dan rekonstruksi.
Hingga Rabu (19/8/2026), jumlah korban meninggal dunia akibat bencana gempa Flores di Kabupaten Sikka tercatat enam orang.
Di Maumere, malam mungkin kembali turun seperti biasanya. Namun bagi warga yang masih memilih tidur di bawah tenda, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Sebab setelah bumi berguncang, yang harus dibangun bukan hanya gedung dan jalan, melainkan juga keberanian manusia untuk kembali percaya bahwa tanah tempat mereka berpijak akan menjadi rumah yang aman.


















