Puisi karya: Agustinus Bobe
Di Flores,
bumi pernah memeluk kami
dengan cara yang paling menyakitkan.
Bukan dengan tangan,
melainkan dengan guncangan
yang membuat rumah-rumah kehilangan tiang,
membuat dinding-dinding rebah,
dan membuat seorang ibu
menunggu di antara debu
sambil menyebut nama anaknya
berulang-ulang dalam doa.
Rabu sore,
19 Agustus 2026.
Matahari masih menggantung
di langit yang sama,
tetapi Flores tidak lagi sama.
Di antara puing-puing
yang belum seluruhnya tersingkap,
ada sandal yang kehilangan pemiliknya,
ada pakaian yang tak sempat dikenakan lagi,
ada foto keluarga yang tertimbun tanah,
dan ada suara tangis
yang bahkan tidak sanggup
diterjemahkan oleh angin.
Di tenda-tenda pengungsian,
malam tidak lagi berarti tidur.
Malam adalah saat
seorang ayah memeluk anaknya lebih erat,
takut bumi kembali bergerak.
Malam adalah ketika seorang ibu
memandangi wajah anaknya
sambil bertanya dalam hati:
“Besok,
apakah rumah kita masih ada?”
Dan di kejauhan,
para lelaki dan perempuan berseragam
terus berjalan.
Mereka menyisir puing.
Satu demi satu.
Tidak ada yang tahu
apa yang akan ditemukan
di balik beton yang runtuh,
di balik kayu yang patah,
di balik rumah
yang kemarin masih menjadi tempat pulang.
Kadang mereka menemukan seseorang.
Kadang tidak.
Tetapi mereka tetap mencari.
Sebab bagi seorang petugas SAR,
tidak ada kata
“terlambat”
selama masih ada kemungkinan
seseorang menunggu pertolongan.
Di Manggarai Timur,
di Kampung Dampek,
tim menyusuri bangunan-bangunan runtuh.
Hasilnya nihil.
Tidak ada korban.
Tetapi langkah mereka
tidak berhenti.
Di Reo,
mereka kembali menyisir.
Tidak ada korban.
Di Riung,
mereka bertanya kepada warga,
memeriksa keadaan kampung,
memastikan tidak ada tangan
yang diam-diam sedang menunggu di balik reruntuhan.
Tidak ada permintaan evakuasi.
Di Mbay,
mereka terus berjalan
melewati jalan-jalan pedesaan
yang masih menyimpan luka gempa.
Belum ada korban tambahan.
Namun mereka tetap datang.
Karena dalam bencana,
sebuah kabar “nihil”
bukan alasan untuk pulang.
Ia adalah alasan
untuk memastikan sekali lagi.
Dan ketika satu nama
memanggil pertolongan dari balik luka,
langit pun dibelah suara baling-baling.
Helikopter Dauphin Basarnas
terbang membawa Adelina Ndimas.
Seorang perempuan
dengan luka di kepala.
Ia dibawa dari Posko Medis Damer
menuju RSUD Labuan Bajo.
Di bawah sana,
Flores terlihat seperti tubuh
yang baru saja dipukul takdir.
Atap-atap rumah berserakan.
Jalan-jalan kehilangan wajahnya.
Bukit-bukit menyimpan debu.
Tetapi di atas semua itu,
sebuah helikopter membawa harapan.
Bukan sekadar seorang pasien.
Melainkan sebuah kemungkinan:
bahwa seseorang
masih bisa diselamatkan.
Bahwa seorang ibu
masih bisa memeluk anaknya.
Bahwa seorang suami
masih bisa menggenggam tangan istrinya.
Bahwa sebuah keluarga
belum harus belajar
mengucapkan selamat tinggal.
Helikopter itu kemudian kembali terbang.
Dari Labuan Bajo menuju Pota.
Membawa lima tenaga kesehatan
dan logistik kesehatan.
Karena menyelamatkan manusia
bukan hanya tentang mengangkat tubuh
dari reruntuhan.
Kadang keselamatan datang
dalam bentuk obat.
Dalam bentuk tenaga medis.
Dalam bentuk makanan.
Dalam bentuk tangan
yang bekerja tanpa banyak bicara.
Dan hari itu,
Flores sedang ditolong
oleh begitu banyak tangan.
Tujuh kabupaten
menyimpan luka yang berbeda.
Manggarai Timur kehilangan
24 nyawa.
Sikka kehilangan
6.
Manggarai Barat kehilangan
2.
Manggarai—Reo/Reok
kehilangan 27.
Nagekeo kehilangan 11.
Ngada kehilangan 2.
Ende kehilangan 2.
Tujuh puluh empat nama
telah masuk ke dalam kesunyian.
Tujuh puluh empat keluarga
telah kehilangan sesuatu
yang tidak mungkin dibeli kembali
dengan uang sebanyak apa pun.
Dan 931 orang terluka.
931 tubuh
yang masih membawa rasa sakit.
931 manusia
yang mungkin malam ini
masih menahan perih.
Mungkin di antara mereka
ada seorang anak
yang belum mengerti
mengapa rumahnya runtuh.
Mungkin ada seorang ibu
yang masih mencari
suara suaminya.
Mungkin ada seorang ayah
yang menahan air mata
agar anak-anaknya percaya
bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Padahal hatinya sendiri
sedang pecah.
74 orang.
Angka itu terdengar sederhana
ketika ditulis di atas kertas.
Tetapi sesungguhnya
74 adalah 74 cerita.
74 rumah yang kehilangan suara.
74 meja makan
yang mungkin menyisakan satu kursi kosong.
74 keluarga
yang suatu hari nanti
akan melihat foto lama
dan kembali menangis.
Dan 931 korban luka
bukan sekadar angka dalam laporan.
Mereka adalah manusia.
Mereka punya nama.
Mereka punya ibu.
Mereka punya ayah.
Mereka punya anak.
Mereka punya seseorang
yang malam ini mungkin
berdoa sambil menunggu kabar.
Sikka bahkan harus mengoreksi catatannya.
Enam orang meninggal,
bukan lima.
Satu nama bertambah
dalam daftar duka.
Satu keluarga lagi
harus belajar menerima kenyataan
yang tidak pernah mereka minta.
Begitulah bencana bekerja.
Angkanya bergerak.
Data diperbarui.
Laporan dikoreksi.
Tetapi di balik setiap perubahan angka,
ada manusia
yang sedang menjalani hari terpanjang
dalam hidupnya.
Karena itu,
jangan pernah melihat bencana
hanya sebagai angka.
Jangan hanya melihat
74 kematian.
Lihatlah 74 wajah.
Lihatlah ibu-ibu yang menangis.
Lihatlah anak-anak
yang tidur di atas tikar pengungsian.
Lihatlah para ayah
yang masih berdiri
meski rumah mereka telah hilang.
Lihatlah petugas SAR
yang tetap berjalan
ketika tubuh mereka sendiri
sudah meminta istirahat.
Lihatlah dokter
yang datang membawa obat.
Lihatlah relawan
yang membagi makanan.
Lihatlah tangan-tangan
yang mengangkat puing.
Lihatlah helikopter
yang membawa harapan.
Dan dengarkan Flores.
Jika suatu malam
angin melewati reruntuhan
dengan suara yang panjang,
mungkin itu bukan sekadar angin.
Mungkin bumi sedang berbisik:
“Jangan lupakan kami.”
Mungkin rumah-rumah yang runtuh
sedang berkata:
“Di sini pernah ada kehidupan.”
Mungkin tenda-tenda pengungsian
sedang berdoa:
“Tolong, jangan biarkan kami sendirian.”
Maka biarlah seluruh Indonesia
mendengar tangisan itu.
Dari Jakarta hingga Papua.
Dari Sumatra hingga Maluku.
Dari kota-kota besar
hingga kampung-kampung kecil
yang namanya mungkin belum pernah
terdengar di televisi.
Biarlah kita datang
bukan hanya dengan bantuan,
tetapi juga dengan hati.
Sebab ketika satu rumah di Flores runtuh,
sesungguhnya ada bagian
dari kemanusiaan kita
yang ikut retak.
Dan ketika satu anak Flores menangis,
sesungguhnya ada air mata
yang seharusnya mengalir
di seluruh negeri.
Hari ini,
operasi belum selesai.
Puing belum seluruhnya tersingkap.
Data belum seluruhnya final.
Pencarian masih berjalan.
Helikopter masih terbang.
Para petugas masih menyisir.
Dan di tenda-tenda,
orang-orang masih menunggu.
Menunggu kabar.
Menunggu pertolongan.
Menunggu rumah yang mungkin
tak akan pernah kembali.
Namun selama masih ada
satu tangan yang mengulurkan tangan,
satu helikopter yang terbang,
satu petugas yang menyisir,
satu dokter yang merawat,
dan satu manusia yang mau peduli,
Flores belum sendirian.
Sebab bencana boleh meruntuhkan rumah,
tetapi tidak boleh meruntuhkan
rasa kemanusiaan.
Bumi boleh mengguncang tanah,
tetapi jangan biarkan ia mengguncang
hati kita hingga menjadi dingin.
Dan jika suatu hari nanti
puing-puing telah dibersihkan,
tenda-tenda telah dibongkar,
rumah-rumah kembali dibangun,
dan luka mulai mengering,
semoga kita tidak melupakan
74 nama yang telah pergi.
Karena mereka bukan angka.
Mereka adalah seseorang.
Mereka pernah tertawa.
Pernah mencintai.
Pernah memanggil nama orang lain
dengan penuh kasih.
Pernah menjadi alasan
seseorang pulang ke rumah.
Dan kini,
nama mereka tinggal
di dalam doa.
Flores mungkin sedang berduka.
Tetapi di balik dukanya,
ada ribuan manusia
yang sedang membuktikan
bahwa cinta tidak selalu datang
dalam bentuk kata-kata.
Kadang cinta datang
dengan tangan yang mengangkat puing.
Kadang dengan kaki
yang berjalan menyusuri reruntuhan.
Kadang dengan baling-baling
yang membelah langit.
Kadang dengan sebungkus makanan.
Kadang dengan sebotol air.
Kadang hanya dengan duduk
di samping seseorang
yang sedang menangis
dan berkata:
“Kami di sini.
Kamu tidak sendirian.”
Dan mungkin,
itulah cara paling indah
manusia menjawab gempa:
bukan dengan melawan bumi,
melainkan dengan
memeluk sesamanya
lebih erat.
Puisi karya: Agustinus Bobe


















