SENGKANG |LINTASTIMOR.ID— Malam itu, cahaya bukan hanya datang dari panggung.
Ia tumbuh dari tangan-tangan penonton yang terangkat, dari layar-layar ponsel yang menyala, dari mata yang tak ingin kehilangan satu detik pun penampilan seorang anak muda bernama Piche Kota.
Di panggung Festival Danau Tempe, Sengkang, Piche kembali menemukan ruang untuk berbicara dengan cara yang paling dikenalnya: melalui musik.
Sebuah fancam menangkap momen itu.
Gambar bergerak sederhana, tetapi menyimpan atmosfer yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Di hadapan panggung, lautan penonton berubah menjadi hamparan cahaya. Ribuan titik terang berkelip, seolah malam sedang menulis puisinya sendiri untuk seorang penyanyi yang tengah berdiri di hadapan mereka.
Piche menyanyi.
Penonton menjawab dengan cahaya.
Dan untuk beberapa saat, batas antara panggung dan penonton seperti menghilang.
Yang tersisa hanyalah musik.
Dan rasa.
Ketika panggung menjadi rumah
Bagi Piche Kota, panggung bukan sekadar tempat seseorang berdiri lalu bernyanyi.
Panggung adalah ruang perjumpaan.
Di sana, suara seorang penyanyi bertemu dengan ingatan penonton. Sebuah lagu bisa membawa seseorang kepada masa lalu, kepada seseorang yang dirindukan, atau bahkan kepada mimpi yang belum selesai diperjuangkan.
Piche memahami ruang itu dengan caranya sendiri.
Perjalanan yang membawanya dikenal luas setelah tampil di Indonesian Idol 2025 dan menembus jajaran Top 6, membuat namanya semakin dekat dengan publik.
Namun popularitas bukanlah akhir perjalanan.
Justru setelah sorotan televisi mereda, perjalanan seorang penyanyi sesungguhnya dimulai.
Ia harus membuktikan bahwa dirinya bukan hanya seorang kontestan yang pernah mencuri perhatian, melainkan seorang musisi yang mampu membangun hubungan panjang dengan pendengarnya.
Di situlah Piche terus berjalan.
Dari satu panggung ke panggung lainnya.
Dari satu kota ke kota berikutnya.
Dan setiap kali mikrofon berada di tangannya, ia kembali memperkenalkan dirinya melalui suara.
Danau Tempe menjadi saksi
Festival Danau Tempe memiliki atmosfernya sendiri.
Sengkang dan Danau Tempe bukan hanya latar geografis bagi sebuah pertunjukan. Kawasan itu menyimpan kehidupan, kebudayaan, dan denyut masyarakat yang membuat sebuah festival terasa lebih dari sekadar acara hiburan.
Ketika Piche tampil, suasana itu memperoleh warna lain.
Lampu panggung menerangi tubuhnya.
Namun cahaya terbesar justru datang dari bawah panggung.
Penonton menyalakan telepon genggam.
Satu.
Kemudian puluhan.
Lalu ratusan.
Malam seolah dipenuhi bintang-bintang kecil yang sengaja diturunkan ke bumi.
“Ada malam ketika seorang penyanyi tidak hanya menyanyikan lagu. Ia menyanyikan perasaan orang-orang yang berdiri di hadapannya.”
Begitulah kira-kira momen Piche di Festival Danau Tempe dapat dikenang.
Bukan hanya karena ia tampil.
Tetapi karena ada hubungan emosional yang tercipta antara suara dan pendengarnya.
Picheverse: ketika penggemar menjadi bagian perjalanan
Di belakang perjalanan seorang artis, selalu ada orang-orang yang tidak terlihat dari panggung.
Mereka yang menonton.
Mereka yang merekam.
Mereka yang membagikan potongan penampilan.
Mereka yang mengirimkan dukungan.
Dan mereka yang memilih tetap tinggal mengikuti perjalanan sang idola, bahkan ketika panggung telah gelap dan musik berhenti dimainkan.
Para pendukung Piche menyebut diri mereka Picheverse.
Nama itu bukan hanya identitas komunitas penggemar.
Ia menjadi semacam rumah emosional—tempat para penggemar berbagi kekaguman, menyimpan momen, dan mengikuti perjalanan Piche dari satu episode kehidupan ke episode berikutnya.
Fancam dari Sengkang menjadi salah satu kepingan kecil perjalanan itu.
Sebuah rekaman yang mungkin hanya berdurasi beberapa menit, tetapi menyimpan atmosfer sebuah malam yang tidak mudah diulang.
Dari Atambua menuju panggung yang lebih luas
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan Piche.
Ia datang dari Atambua, kota di wilayah perbatasan Indonesia–Timor-Leste.
Dari kota yang jauh dari hiruk-pikuk industri hiburan Jakarta, suara Piche perlahan menempuh perjalanan yang lebih panjang.
Ia kemudian berdiri di panggung nasional.
Kini, langkah itu terus melebar.
Setiap kota yang didatanginya seperti menambahkan satu halaman baru dalam biografinya.
Sengkang menjadi salah satunya.
Danau Tempe menjadi latarnya.
Penonton menjadi saksi.
Sementara kamera-kamera kecil di tangan para penggemar menjadi arsip perjalanan.
Begitulah seorang penyanyi tumbuh.
Bukan hanya melalui angka.
Bukan hanya melalui trending topic.
Tetapi melalui ingatan manusia yang pernah melihatnya tampil dan kemudian membawa pulang sesuatu dari panggung itu.
Cahaya yang tidak selesai ketika panggung padam
Malam akan selalu berakhir.
Lampu panggung akhirnya dipadamkan.
Penonton pulang.
Suara musik berhenti.
Tetapi ada cahaya yang tidak ikut padam.
Cahaya itu tinggal dalam video-video pendek yang dibagikan.
Dalam foto yang disimpan.
Dalam lagu yang kembali diputar keesokan harinya.
Dan dalam ingatan mereka yang malam itu berdiri di depan panggung.
Piche mungkin telah meninggalkan Sengkang.
Tetapi Sengkang telah meninggalkan sesuatu di dalam perjalanan Piche:
Sebuah malam ketika ribuan cahaya penonton menyatu dengan suara seorang penyanyi muda dari tanah Timor.
Dan mungkin, di situlah keindahan sebuah perjalanan musik.
Seorang penyanyi tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Di belakang setiap langkahnya selalu ada suara-suara yang mendukung.
Ada tangan-tangan yang bertepuk.
Ada mata yang menyaksikan.
Ada kamera yang merekam.
Dan ada hati yang diam-diam berkata:
Teruslah bernyanyi, Piche.
Sebab selama masih ada panggung dan pendengar yang percaya, perjalanan itu belum selesai.
—Picheverse—


















