TANGERANG | LINTASTIMOR.ID — Ada perjalanan yang dimulai dengan harapan, tetapi berhenti pada sebuah keheningan yang sulit dijelaskan. Bagi keluarga Maria Alisa Tereza, perjalanan perempuan asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, menuju tempat kerja justru berubah menjadi pencarian ketika jejaknya mendadak terputus di sebuah bandara di Tangerang, Jakarta, pada 1 Oktober 2026.
Hari itu seharusnya menjadi bagian lain dari perjalanan kerja yang telah disiapkan sejak jauh sebelumnya. Maria Alisa bersama seorang perempuan lain berangkat dari Kupang menuju Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru, Riau, setelah sebelumnya menjalani proses perekrutan dan pelatihan melalui sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja.
Namun, di tengah riuhnya bandara, komunikasi dengan Maria tiba-tiba berhenti.
Menurut penuturan Maria Katarina Soi, kepada Lintastimor.id ,Sabtu 3 Oktober 2026 malam, menyisahkan, keduanya tiba di bandara pada 1 Oktober 2026. Dalam perjalanan menuju Pekanbaru tersebut, mereka sempat masuk ke kamar mandi bandara.
Ketika Maria Katarina keluar, Maria Alisa sudah tidak berada di sekitar lokasi.
“Sampai di bandara kami masuk kamar mandi. Setelah saya masuk dan keluar, dia sudah tidak ada di sekitar kamar mandi. Saya pikir dia masih menunggu, tetapi setelah saya cari dan telepon, dia tidak menjawab,” tutur Maria Katarina.
Kalimat itu menyimpan jeda panjang. Sebab, beberapa saat sebelumnya, tidak ada tanda yang disebutkan menunjukkan bahwa Maria Alisa akan meninggalkan perjalanan mereka.
Maria Katarina mengaku sempat berusaha menghubungi Maria melalui telepon. Panggilan masih tersambung, tetapi tidak diangkat. Pesan yang dikirim bahkan sempat terbaca, namun tidak mendapat balasan.
“Saya masih sempat telepon. Teleponnya masih masuk, tetapi tidak diangkat. Saya chat juga masih dibaca, tetapi tidak dibalas. Setelah itu akhirnya saya diblokir,” kata Maria Katarina.
Sejak saat itulah perjalanan yang semula dirancang sebagai keberangkatan menuju tempat kerja berubah menjadi tanda tanya.
Dari Berkas, Wawancara, Hingga Perjalanan
Sebelum keberangkatan, proses tersebut disebut berlangsung melalui tahapan yang cukup panjang.
Maria Katarina menjelaskan, pihak perusahaan sebelumnya menerima berkas calon pekerja, kemudian melakukan proses wawancara. Setelah dinyatakan melanjutkan proses, mereka berangkat ke Kupang dan menjalani masa sekitar dua minggu di ibu kota Provinsi NTT tersebut.
Dari Kupang, keduanya kemudian diteruskan menuju kantor pusat perusahaan di Solo, Boyolali, Jawa Tengah.
Di sana, perjalanan kedua perempuan tersebut mulai mengambil arah berbeda.
Seorang perempuan yang menurut penuturan Maria Katarina telah mendapatkan majikan lebih dahulu langsung bekerja setelah tiba di Boyolali. Namun, pekerjaan itu hanya berlangsung sekitar 22 hari sebelum yang bersangkutan meninggalkan tempat kerja tanpa sepengetahuan keluarganya.
Sementara Maria Alisa menjalani masa pelatihan.
Selama kurang lebih satu bulan masa training, Maria Katarina menggambarkan Maria Alisa sebagai pribadi yang menjalani aktivitas sebagaimana mestinya. Ia bahkan disebut kerap berada di lingkungan kantor dan sesekali menggunakan sepeda motor milik kantor untuk keperluan aktivitas.
Tidak ada cerita tentang sebuah perjalanan yang akan berakhir secara tiba-tiba.
Ketika Pekanbaru Tinggal Selangkah
Setelah menyelesaikan masa pelatihan, Maria Alisa disebut telah memperoleh majikan di Pekanbaru.
Perjalanan menuju kota tujuan itu kemudian dilakukan bersama Maria Katarina pada 1 Oktober 2026.
Biaya perjalanan, menurut keterangan Maria Katarina, ditanggung oleh pihak perusahaan.
“Mereka datang dan semua biaya ditanggung PT. Kami mengikuti proses dari perusahaan, mulai dari berkas, interview, sampai perjalanan. Karena itu kami tidak menyangka kalau sesampainya di bandara justru dia tiba-tiba tidak ada,” ujar Maria Katarina.
Pekanbaru tinggal selangkah.
Namun, langkah itu tidak pernah sampai ke tujuan.
Di sebuah ruang transit yang dipenuhi lalu-lalang manusia, Maria Alisa justru menjadi sosok yang dicari.
Tidak diketahui secara pasti ke mana ia pergi setelah meninggalkan area sekitar kamar mandi. Keterangan mengenai apa yang terjadi setelah itu juga masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.
Keluarga Menunggu Jawaban
Dalam situasi seperti ini, satu pesan yang terbaca tetapi tidak dibalas dapat berubah menjadi kegelisahan. Satu panggilan yang masuk tanpa jawaban dapat menjadi pertanyaan yang terus berulang.
Bagi Maria Katarina dan keluarga Maria Alisa, persoalannya bukan sekadar kehilangan komunikasi.
Ada seorang perempuan yang seharusnya tiba di tempat kerja baru, tetapi justru tidak diketahui keberadaannya setelah berada di perjalanan.
Karena itu, informasi mengenai keberadaan Maria Alisa diharapkan dapat ditelusuri melalui berbagai pihak yang mengetahui perjalanan tersebut, termasuk perusahaan, keluarga, serta pihak berwenang.
Hilangnya komunikasi di tengah perjalanan juga menyisakan sejumlah pertanyaan yang belum memiliki jawaban: apakah Maria Alisa pergi atas kehendaknya sendiri, apakah ada pihak lain yang menjemput atau membawanya, atau apakah terdapat keadaan lain yang belum diketahui?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum dapat dijawab hanya berdasarkan keterangan yang ada.
Yang tersisa saat ini adalah sebuah nama, sebuah perjalanan yang belum selesai, dan keluarga yang menunggu kabar.
Maria Alisa Tereza, perempuan asal Belu itu, terakhir diketahui berada dalam perjalanan melalui bandara di wilayah Tangerang, Jakarta, pada 1 Oktober 2026.
Dan sejak saat itu, sebagaimana dituturkan Maria Katarina Soi, jejak komunikasinya perlahan berubah menjadi sunyi.
“Kami hanya berharap dia baik-baik saja dan bisa segera ditemukan. Kami ingin tahu dia sekarang berada di mana,” ungkap Maria Katarina.
Di antara suara pengumuman penerbangan, langkah kaki para penumpang, dan pintu-pintu keberangkatan yang terus terbuka dan tertutup, sebuah keluarga kini menunggu satu hal yang paling sederhana sekaligus paling berarti: kabar bahwa Maria Alisa masih dalam keadaan selamat.


















