Di tempat seperti itulah keluarga besar Partai Golkar Kabupaten Belu menemukan makna lain dari sebuah perayaan ulang tahun. Bukan tentang kemeriahan panggung, bukan pula tentang panjangnya seremoni, melainkan tentang keberanian hadir di tengah kehidupan anak-anak yang membutuhkan uluran kepedulian.
Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kabupaten Belu menggelar kunjungan kemanusiaan ke dua panti asuhan di wilayah Atambua. Rombongan dipimpin Wakil Ketua DPD Partai Golkar Belu, Manek Rofinus, yang sekaligus bertindak sebagai koordinator tim.
Dua tempat yang dikunjungi adalah Panti Asuhan Onoboi di Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat, pada Jumat (6/11/2026), pukul 10.00 WITA, serta Yayasan Mercy di kawasan Asuulun, Kecamatan Atambua Selatan, pada Sabtu (7/11/2026), pukul 10.00 WITA.
Dua panti, dua lingkungan pengasuhan, dan satu pesan yang sama: setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, serta kesempatan untuk membangun masa depannya.
Dua puluh anak, sejuta harapan di Onoboi
Di Panti Asuhan Onoboi, rombongan Golkar Belu berjumpa dengan 20 anak berkebutuhan khusus yang selama ini dirawat dan didampingi para suster pengelola yayasan.
Anak-anak tersebut menjalani terapi secara rutin sebagai bagian dari proses pendampingan dan pengembangan kemampuan mereka.
Di balik aktivitas itu, ada pengabdian yang tidak sederhana. Para suster harus mencurahkan perhatian, tenaga, kesabaran, dan ketulusan untuk mendampingi setiap anak dengan kebutuhan yang berbeda.
Tidak semua proses perkembangan berlangsung cepat. Tidak setiap usaha langsung memperlihatkan hasil. Ada tahapan yang harus dilalui, ada kesulitan yang harus dihadapi, dan ada kesabaran yang harus diperbarui setiap hari.
Berbicara kepada media ini, Minggu (8/11/2026), Manek Rofinus mengaku sangat menghargai dedikasi para pengelola Panti Asuhan Onoboi.
Menurutnya, mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab kemanusiaan yang membutuhkan perhatian luar biasa.
“Mengurus anak-anak berkebutuhan khusus adalah pekerjaan yang sangat berat. Dibutuhkan perhatian ekstra, kesabaran yang besar, dan karunia tersendiri. Para pengelola panti ini telah menunjukkan tindakan kemanusiaan yang nyata melalui pengabdian mereka.”
Bagi Manek, apa yang dilakukan para suster bukan sekadar pekerjaan pengasuhan. Ada nilai pengorbanan dan panggilan kemanusiaan yang patut dihormati.
Sebab, anak-anak tersebut tidak membutuhkan belas kasihan yang berhenti pada kata-kata. Mereka membutuhkan pendampingan nyata agar dapat mengembangkan potensi, memperoleh pelayanan yang layak, dan menjalani kehidupan dengan penuh martabat.
Yayasan Mercy, sekolah sebagai jalan masa depan
Perjalanan rombongan berlanjut ke Yayasan Mercy di kawasan Asuulun, Kecamatan Atambua Selatan.
Di tempat ini, perhatian diarahkan kepada anak-anak terlantar yang diasuh dan dibina agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang utuh, baik secara jasmani maupun rohani.
Pendidikan menjadi salah satu jalan penting yang diperjuangkan yayasan tersebut. Anak-anak diupayakan memperoleh akses sekolah agar memiliki kesempatan membangun pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan sebagai bekal menghadapi masa depan.
Di tengah keterbatasan yang mungkin mereka alami, pendidikan menjadi jembatan untuk membuka pintu kehidupan yang lebih luas.
Anak-anak itu mungkin tidak selalu memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak lain. Namun, keadaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merampas hak mereka atas masa depan.
Mereka tetap memiliki hak untuk bercita-cita, belajar, berkembang, dan kelak berdiri mandiri di tengah masyarakat.
Inilah makna pengasuhan yang sesungguhnya: bukan hanya menyediakan tempat untuk tinggal, tetapi juga menyiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupannya dengan bermartabat.
Lagu anak-anak yang mengubah suasana kunjungan
Ada satu momen yang memberikan kesan mendalam bagi rombongan Golkar Belu selama mengunjungi kedua yayasan tersebut.
Kehadiran mereka disambut dengan lagu-lagu yang dibawakan anak-anak panti. Nyanyian itu bukan sekadar hiburan untuk menyambut tamu, tetapi menjadi ungkapan kegembiraan dan kemampuan yang telah mereka latih.
Suara anak-anak memenuhi suasana kunjungan. Mereka bernyanyi dengan penuh semangat, sementara para tamu menyaksikan penampilan tersebut dengan perhatian.
Di balik setiap lantunan lagu, ada pesan yang tidak perlu diterjemahkan terlalu jauh. Anak-anak itu ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan, keinginan untuk berkembang, dan kerinduan untuk dihargai.
Mungkin bagi sebagian orang, sebuah lagu hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi anak-anak yang menyanyikannya, kesempatan tampil di hadapan orang lain bisa menjadi pengalaman berharga yang menumbuhkan rasa percaya diri.
Di sinilah kepedulian menemukan bentuknya yang paling sederhana: hadir, mendengarkan, memberikan ruang, dan menghargai kemampuan seorang anak.
Kepedulian politik harus menjelma tindakan sosial
Kunjungan kemanusiaan dalam rangka HUT ke-62 Partai Golkar tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan kebijakan ekonomi. Ada kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus agar tidak tertinggal dalam arus pembangunan.
Anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak terlantar merupakan bagian dari masyarakat yang hak-haknya harus dilindungi bersama.
Karena itu, kegiatan sosial semacam ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial yang berkelanjutan, bukan hanya agenda tahunan ketika sebuah organisasi memperingati hari jadinya.
Pemerintah Kabupaten Belu, lembaga politik, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat perlu membangun perhatian bersama terhadap keberlangsungan pelayanan panti asuhan.
Dukungan dapat diarahkan pada peningkatan fasilitas pengasuhan, akses kesehatan, terapi berkala, pemenuhan gizi, pendidikan, serta penguatan kapasitas para pengasuh.
Sebab, ketika sebuah panti asuhan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh anak-anak yang tinggal di dalamnya, tetapi juga oleh masa depan masyarakat secara keseluruhan.
Ketika kepedulian menjadi warisan kemanusiaan
Dua hari perjalanan rombongan Golkar Belu di Onoboi dan Yayasan Mercy akhirnya meninggalkan sebuah refleksi penting.
Ada anak-anak yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk belajar. Ada yang membutuhkan terapi dan pendampingan khusus. Ada pula yang sedang berjuang menemukan tempat aman untuk tumbuh dan merancang masa depan.
Namun, tidak satu pun dari mereka boleh kehilangan hak untuk bahagia.
Manek Rofinus bersama rombongan telah menyaksikan secara langsung bagaimana para pengasuh menjalankan tugas kemanusiaan dengan penuh kesabaran. Pengalaman itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kepedulian tidak boleh berhenti ketika kunjungan selesai.
Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan tamu yang datang membawa perhatian sesaat. Mereka membutuhkan lingkungan yang terus hadir, melindungi, mendampingi, dan memperjuangkan hak-hak mereka.
Pada akhirnya, kemuliaan sebuah perayaan bukan diukur dari seberapa meriah acara diselenggarakan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh sesama.
Di balik dinding panti asuhan, ada anak-anak yang sedang menunggu masa depan. Mereka mungkin tidak meminta kehidupan yang istimewa. Mereka hanya ingin diterima, disayangi, diberi kesempatan, dan tidak ditinggalkan oleh dunia yang seharusnya melindungi mereka.
Dan ketika suatu hari mereka mampu berdiri tegak, belajar mandiri, serta menemukan jalan hidupnya sendiri, setiap tetes kesabaran para pengasuh dan setiap uluran kepedulian yang pernah diberikan akan menjadi bagian dari sejarah kecil yang sangat berarti.
Karena sesungguhnya, membangun masa depan Belu bukan hanya tentang membangun jalan dan gedung, tetapi juga memastikan tidak ada satu pun anak yang kehilangan harapan untuk menjadi manusia seutuhnya.
LINTASTIMOR.ID — Suara Dari Perbatasan Untuk Dunia.


















