TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di antara hiruk-pikuk pembangunan kota dan denyut kehidupan masyarakat yang terus bergerak, sebuah bangunan perlahan tumbuh di Jalan Baru, Kelurahan Kwamki Baru, Distrik Mimika Baru. Belum sempurna berdiri, namun garis-garis arsitekturnya sudah menyimpan sebuah mimpi besar: menghadirkan rumah ibadah yang bukan hanya menjadi tempat berdoa, tetapi juga simbol perjalanan iman, persatuan, dan harapan umat Katolik di Tanah Papua.
Di lokasi itulah Panitia Pembangunan Gereja Katolik Santo Simon Petrus terus berjuang menyelesaikan pembangunan gereja yang dirancang dengan konsep unik berbentuk perahu layar. Namun hingga saat ini, perjuangan tersebut masih menghadapi tantangan besar berupa kebutuhan anggaran yang tersisa lebih dari Rp23 miliar.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja Santo Simon Petrus, Elias Wanmang, mengatakan desain gereja yang dipilih bukanlah tanpa makna. Bentuk perahu layar sengaja dihadirkan sebagai simbol perjalanan hidup dan identitas masyarakat pesisir yang lekat dengan sejarah serta karakter wilayah Mimika.
╔════════════════════════════════════╗ ❝ Konsep bangunan gereja ini berbentuk perahu layar. Di Indonesia belum ada model seperti ini. Salah satu yang serupa ada di Eropa, dan yang akan dibangun di Timika ini diharapkan menjadi ikon baru bagi umat Katolik di Mimika. ❞ — Elias Wanmang ╚════════════════════════════════════╝
Menurut Elias, bentuk perahu layar juga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Timika. Simbol tersebut telah lama dikenal melalui ornamen yang berdiri di kawasan pintu masuk Bandara Mozes Kilangin, sehingga kehadirannya pada bangunan gereja diharapkan mampu menghadirkan identitas lokal yang kuat.
Di balik kemegahan konsep yang dirancang, panitia menyadari bahwa mewujudkan sebuah bangunan monumental membutuhkan dukungan yang tidak sedikit. Karena itu, setiap bantuan yang datang memiliki arti penting bagi kelangsungan pembangunan.
Salah satu dukungan yang mendapat apresiasi khusus datang dari Bupati Kabupaten Keerom, Piter Gusbager, yang menyerahkan bantuan sebesar Rp1 miliar untuk pembangunan gereja tersebut.
╔════════════════════════════════════╗ ❝ Atas nama panitia dan seluruh umat Katolik di Kabupaten Mimika, kami menyampaikan terima kasih kepada Bupati Keerom yang telah memberikan bantuan sebesar Rp1 miliar bagi pembangunan Gereja Santo Simon Petrus. ❞ — Elias Wanmang ╚════════════════════════════════════╝
Meski demikian, Elias mengaku menyimpan keprihatinan tersendiri. Ia menilai dukungan besar justru datang dari luar Kabupaten Mimika, sementara pembangunan rumah ibadah yang berdiri di tengah masyarakat Timika masih membutuhkan perhatian yang lebih luas dari berbagai pihak di daerah setempat.
Karena itu, panitia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika, PT Freeport Indonesia, para pemangku kepentingan, pelaku usaha, serta masyarakat dapat bersama-sama mengambil bagian dalam upaya penyelesaian pembangunan gereja tersebut.
Bagi panitia, Gereja Santo Simon Petrus bukan sekadar bangunan fisik yang terdiri dari beton, baja, dan atap yang menjulang. Lebih dari itu, gereja ini diharapkan menjadi ruang pelayanan umat, pusat pembinaan iman, sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Katolik di Kabupaten Mimika.
Secara kontekstual, pembangunan rumah ibadah dengan desain ikonik seperti Gereja Santo Simon Petrus memiliki nilai yang melampaui fungsi keagamaan semata. Di berbagai daerah Indonesia, bangunan gereja yang memiliki karakter arsitektur khas sering berkembang menjadi simbol identitas daerah, ruang dialog sosial, bahkan destinasi wisata religi yang memperkaya wajah budaya setempat. Karena itu, dukungan terhadap pembangunan gereja ini juga dapat dipandang sebagai investasi sosial dan budaya bagi generasi mendatang.
Panitia menargetkan pembangunan Gereja Katolik Santo Simon Petrus dapat berjalan sesuai rencana apabila kebutuhan anggaran yang masih tersisa lebih dari Rp23 miliar dapat terpenuhi pada waktu mendatang. Dengan demikian, bangunan yang dirancang menyerupai perahu layar itu dapat segera berdiri utuh sebagai ikon baru di Papua Tengah.
Pada akhirnya, setiap rumah ibadah selalu dibangun oleh dua kekuatan yang berjalan beriringan: batu yang disusun dengan tangan manusia dan harapan yang dipelihara dalam hati umat. Ketika keduanya bertemu, sebuah bangunan tidak hanya berdiri megah di atas tanah, tetapi juga hidup sebagai mercusuar iman yang menerangi perjalanan banyak generasi.


















