BENER MERIAH |LINTASTIMOR.ID— Ada pertemuan yang berlangsung singkat, tetapi meninggalkan gema panjang. Di ruang kerja Bupati Bener Meriah, Selasa (1/9/2026), dua buku karya sastrawan Aceh, L K Ara, hadir membawa lebih dari sekadar halaman dan kata-kata: jejak sejarah, ingatan kolektif, serta wajah kebudayaan Gayo yang terus mencari ruang untuk dibaca kembali.
Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, menerima dua buku tersebut langsung dari L K Ara. Masing-masing berjudul Radio Rimba Raya dan Wasiat Reje Linge—dua karya yang menempatkan sejarah dan kebudayaan Gayo dalam bingkai sastra.
Pertemuan itu menjadi menarik karena nama Tagore Abubakar bukan hanya hadir sebagai penerima buku. Ia juga tercatat memberikan kata sambutan dalam kedua karya tersebut.
Ada semacam lingkaran yang bertemu di sana: penulis, kepala daerah, buku, dan sejarah. Sastra datang membawa ingatan, sementara seorang pemimpin daerah menerima kembali bagian dari perjalanan masa lalu yang pernah menjadi napas penting bagi masyarakatnya.
Radio Rimba Raya mengangkat jejak penting Radio Rimba Raya dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sementara Wasiat Reje Linge menyentuh sejarah serta warisan nilai-nilai kepemimpinan dan kebudayaan Negeri Linge.
Kedua buku itu karena itu tidak berhenti sebagai bacaan. Di dalamnya terdapat upaya untuk merawat sejarah melalui bahasa, sekaligus mendokumentasikan kebudayaan Gayo agar tidak terlepas dari ingatan generasi yang datang kemudian.
Bagi Bupati Tagore Abubakar, kehadiran kedua buku tersebut mendapat arti tersendiri. Terlebih, ia memiliki keterlibatan langsung melalui kata sambutan yang termuat dalam masing-masing buku.
Pertemuan itu pun membuka kemungkinan bagi sebuah percakapan yang lebih luas. Menurut rencana, Radio Rimba Raya dan Wasiat Reje Linge akan dibedah dalam kegiatan khusus dengan menghadirkan penulis, budayawan, sejarawan, serta para pemerhati sejarah dan kebudayaan Gayo.
Bedah buku tersebut diharapkan menjadi ruang dialog untuk melihat kembali sejarah Radio Rimba Raya dan Wasiat Reje Linge, sekaligus membicarakan kaitannya dengan identitas serta masa depan kebudayaan Gayo.
Di titik inilah sastra menemukan fungsi sosialnya. Ia tidak sekadar menyusun kalimat menjadi cerita, tetapi memberi kesempatan kepada sebuah masyarakat untuk bercermin pada masa lalu. Ketika sejarah ditulis kembali melalui karya sastra dan kemudian dibicarakan bersama, ingatan tidak lagi menjadi sesuatu yang diam di rak buku. Ia bergerak, diperdebatkan, dipahami, lalu diwariskan.
Bagi L K Ara, penyerahan buku kepada Tagore Abubakar juga bukan sekadar seremoni antara seorang sastrawan dan kepala daerah. Ada penghormatan yang lebih dalam terhadap sejarah dan kebudayaan—dua warisan yang, jika tidak terus dibaca dan diceritakan, perlahan dapat kehilangan tempat dalam ingatan generasi.
“Sejarah jangan hanya disimpan dalam arsip. Ia harus dibaca, dibicarakan, dan diwariskan.”
Kalimat itu seperti menjadi ruh dari pertemuan tersebut.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh apa yang terjadi hari ini. Ia juga tumbuh dari ingatan tentang siapa dirinya, dari kisah yang diwariskan, dan dari keberanian untuk membuka kembali halaman-halaman masa lalu.
Dan di antara dua buku yang berpindah tangan di ruang kerja Bupati Bener Meriah itu, sejarah Gayo seakan kembali mengetuk pintu masa kini—meminta agar tidak sekadar dikenang, tetapi terus dibaca, dirawat, dan diwariskan.


















