ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID – Malam turun perlahan di Teluk Gurita, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Perbatasan RI – RDTL. Angin laut berembus lembut membawa aroma garam yang menyatu dengan harum dupa dan nyala ribuan lilin yang berkelip di kaki bukit wisata rohani Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa.
Sabtu malam, 30 Mei 2026, kawasan suci yang menghadap hamparan laut itu berubah menjadi lautan doa. Dari pelataran hingga puncak tempat pentakhtaan Bunda Maria Segala Bangsa, ribuan peziarah berjalan perlahan dalam perarakan Rosario yang khidmat.
Mereka datang dari berbagai penjuru. Ada umat Katolik dari Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Malaka, hingga peziarah dari negara tetangga Timor Leste. Dalam kesunyian malam yang diterangi cahaya lilin, setiap langkah seolah menjadi untaian doa yang dipersembahkan bagi dunia yang mendambakan kedamaian.
Di sepanjang jalan ziarah itu, gema Salam Maria mengalun bersahut-sahutan. Butiran rosario bergerak di jemari para peziarah, sementara tatapan mereka tertuju ke puncak bukit tempat Bunda Maria berdiri memandang laut dan perbatasan.
Malam itu bukan hanya perayaan iman. Ia menjadi perjumpaan batin ribuan orang yang datang membawa harapan, pergumulan, dan doa-doa yang tak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata.
Dalam sambutannya, Bupati Belu, Wilybrodus Lay, S.H menuturkan bahwa momentum Ave Maria Night tahun ini memiliki makna yang sangat istimewa karena bertepatan dengan seruan yang mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk mendoakan perdamaian dunia.
╔══════════════ ❀ ══════════════╗
“Pada malam Ave Maria Night ini, kita umat Katolik Kabupaten Belu, Kabupaten TTU, Kabupaten Malaka, dan negara tetangga Timor Leste bersama-sama melakukan doa Rosario untuk perdamaian dunia.”
“Sesuai dengan iman Katolik, Bunda Maria sebagai perantara doa kita akan menyampaikan doa-doa itu kepada Tuhan Yesus Kristus.”
— Willybrodus Lay
╚══════════════ ❀ ══════════════╝
Bupati Belu juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Uskup Keuskupan Atambua, Dominikus Saku, Pr atas dukungan yang diberikan sehingga kegiatan Ave Maria Night dapat terselenggara dengan baik.
Ucapan terima kasih yang sama disampaikan kepada para rohaniawan, para suster, komunitas Marriage Encounter (ME) Keuskupan Atambua, ASN, serta seluruh umat Katolik yang telah mengambil bagian dalam perayaan iman tersebut.
Sementara itu, salah seorang peserta, Maria Goreti N, mengaku sangat bersukacita mengikuti kegiatan Ave Maria Night yang menurutnya menjadi pengalaman rohani yang mendalam bagi umat Katolik Keuskupan Atambua.
╔══════════════ ❀ ══════════════╗
“Peristiwa hari ini sungguh menggembirakan bagi umat Katolik. Semoga di waktu yang akan datang kita semua dapat mengikuti teladan Bunda Maria sehingga kehidupan keluarga kita selalu dipenuhi damai.”
“Kegiatan ini luar biasa. Saya berharap umat Katolik terus datang ke tempat ini untuk berdoa kepada Bunda Maria Segala Bangsa.”
— Maria Goreti N
╚══════════════ ❀ ══════════════╝
Di tengah dunia yang masih dibayangi konflik, perpecahan sosial, dan berbagai krisis kemanusiaan, doa Rosario yang dipanjatkan ribuan umat di Teluk Gurita menjadi simbol bahwa perdamaian tidak selalu dimulai dari ruang-ruang diplomasi, melainkan juga dari hati manusia yang memilih untuk berdoa, mengampuni, dan membangun persaudaraan. Karena itulah, seruan doa yang menggema dari perbatasan Indonesia dan Timor Leste pada malam itu memiliki makna yang melampaui batas wilayah dan kebangsaan.
Malam semakin larut. Dari kejauhan terdengar nyanyian yang mengalun pelan, seakan menjadi persembahan cinta anak-anak kepada ibunya:
“Ina Maria, beta haksolok…”
“Ina Maria, beta haksolok…”
“Naran diak liu hotu…”
“Maria… Maria…”
Syair sederhana yang lahir dari tanah Lamaholot itu menyatu dengan desir angin laut Teluk Gurita, mengalir bersama doa-doa yang melintasi batas negara dan menembus langit malam.
Ketika lilin-lilin mulai padam satu per satu dan para peziarah kembali ke rumah masing-masing, yang tersisa bukan hanya jejak langkah di jalan ziarah. Yang tertinggal adalah keyakinan bahwa selama masih ada manusia yang berdoa untuk sesamanya, harapan akan perdamaian dunia tidak akan pernah benar-benar padam.


















