PUNCAK | LINTASTIMOR.ID – Di tengah bentang pegunungan Papua yang menyimpan tantangan pembangunan sekaligus harapan akan masa depan yang lebih baik, sebuah ruang belajar selama enam bulan dibuka bagi warga yang belum memiliki pekerjaan. Dari tempat itulah lahir optimisme bahwa keterampilan dapat menjadi jalan keluar dari pengangguran, sekaligus benteng untuk menekan kriminalitas di Kabupaten Puncak.
Harapan itu mendapat apresiasi dari Ketua DPRK Puncak, Thomas Tabuni, yang menilai langkah Pemerintah Kabupaten Puncak menyelenggarakan pelatihan operator alat berat merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.
Apresiasi tersebut ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Puncak, khususnya Bupati, Wakil Bupati, dan Kepala Dinas Sosial, yang dinilai telah membuka akses pelatihan keterampilan bagi masyarakat yang selama ini belum terserap di dunia kerja.
Menurut Thomas, persoalan pengangguran di wilayah pegunungan Papua tidak dapat diselesaikan hanya melalui bantuan sosial. Yang dibutuhkan adalah keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dan dunia usaha.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Puncak, khususnya Bupati, Wakil Bupati, dan Kepala Dinas Sosial, yang telah mengakomodasi masyarakat pengangguran untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan. Program ini merupakan salah satu cara mengurangi angka pengangguran sehingga berdampak pada penurunan angka kriminalitas,” kata Thomas Tabuni.
Ia menilai pelatihan operator alat berat menjadi langkah strategis karena membekali peserta dengan kompetensi yang dapat langsung diterapkan di lapangan. Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta diharapkan mampu mengoperasikan berbagai alat berat, termasuk ekskavator, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di sektor konstruksi, pembangunan infrastruktur, maupun pertambangan.
Kesempatan memperoleh pekerjaan, lanjut Thomas, tidak hanya meningkatkan kesejahteraan para peserta, tetapi juga membawa dampak positif bagi keluarga serta lingkungan sosial di sekitarnya.
“Dengan keterampilan yang mereka miliki, para pemuda ini dapat bekerja dan menafkahi keluarga mereka. Program seperti ini patut terus didukung karena memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Thomas berharap pelatihan berbasis keterampilan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi pemerintah kabupaten lain di Tanah Papua dalam menyiapkan tenaga kerja lokal yang kompeten, produktif, dan mampu bersaing di pasar kerja.
Ia juga mengingatkan para peserta agar memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh dengan penuh tanggung jawab, menjaga disiplin, meningkatkan profesionalisme, serta membuktikan kepercayaan pemerintah melalui kinerja yang baik di dunia kerja.
Di tengah upaya mempercepat pembangunan Papua, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi yang tidak dapat diabaikan. Program pelatihan berbasis kompetensi seperti operator alat berat menunjukkan bahwa investasi pada keterampilan memiliki efek ganda: membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi keluarga, sekaligus mengurangi potensi lahirnya persoalan sosial akibat pengangguran.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pelatihan tidak hanya diukur dari banyaknya sertifikat yang dibagikan, tetapi dari seberapa banyak harapan yang berubah menjadi pekerjaan, penghasilan, dan masa depan yang lebih bermartabat bagi masyarakat Papua.


















