Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Dari Tanah Emas Papua Tengah, Produk Mimika Memikat Nusantara di PENAS XVII Gorontalo

25
×

Dari Tanah Emas Papua Tengah, Produk Mimika Memikat Nusantara di PENAS XVII Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

GORONTALO | LINTASTIMOR.ID – Di antara riuh langkah ribuan petani, nelayan, pelaku UMKM, dan peserta yang memadati arena Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, sebuah sudut pameran menghadirkan pesona yang berbeda. Bukan hanya karena warna-warni produk yang terpajang rapi, tetapi karena setiap karya yang ditampilkan membawa jejak budaya, kearifan, dan cerita panjang dari tanah Papua Tengah.

Stand Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika menjadi magnet yang tak pernah sepi. Sejak pembukaan resmi PENAS XVII oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada Sabtu (20/6/2026), arus pengunjung terus mengalir menuju stand yang memperkenalkan kekayaan kerajinan dan produk unggulan dari wilayah yang dikenal sebagai Kota Tembaga dan Emas.

Example 300x600

Mereka datang dengan rasa penasaran. Sebagian berhenti untuk mengamati, sebagian lagi bertanya, dan tidak sedikit yang akhirnya membawa pulang produk-produk khas Mimika sebagai buah tangan sekaligus pengalaman baru yang tak terlupakan.

Keunikan berbagai produk lokal yang dipamerkan seolah membuka jendela kecil menuju kehidupan masyarakat Papua Tengah. Dari noken rajutan daun melinjo, patung Mbitoro, kain printing Kamoro, kain ecoprint, hingga produk olahan tradisional, semuanya menghadirkan identitas budaya yang kuat dan autentik.

Salah satu pengunjung asal Kalimantan Tengah, Muksin Khodari, mengaku terkesan setelah melihat langsung berbagai produk yang selama ini hanya dikenalnya melalui media sosial.

“Stand Dekranasda Mimika cukup menyita perhatian. Produk-produk lokal yang dipamerkan sangat unik dan jarang kita lihat secara langsung. Selama ini hanya melihat di media sosial, tetapi pada pameran kali ini kami bisa melihat bahkan mengetahui langsung manfaat dari produk-produk tersebut,” ungkap Muksin dengan antusias.

Kekagumannya semakin bertambah ketika diperkenalkan dengan daun gatal dan sarang semut khas Mimika yang dikenal masyarakat setempat sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan turun-temurun.

“Yang membuat saya kagum tadi ada daun gatal yang digosok ke tubuh untuk membantu mengurangi pegal-pegal. Reaksinya cukup cepat. Selain itu ada juga minyak daun gatal. Memang saya belum mencoba minyaknya, tetapi setelah melihat langsung manfaat daun tersebut, saya langsung membeli beberapa produk untuk dibawa pulang,” tuturnya.

Di balik ramainya pengunjung yang datang silih berganti, tersimpan rasa syukur dari para pengurus dan perajin yang membawa nama Mimika ke panggung nasional. Ketua Harian Dekranasda Mimika, Nella Manggara, menyebut tingginya antusiasme masyarakat sebagai sinyal positif bahwa produk-produk lokal Mimika memiliki daya saing dan daya tarik yang kuat.

“Puji Tuhan, antusiasme pengunjung sangat luar biasa. Banyak peserta dari berbagai provinsi tertarik dengan produk-produk unggulan Mimika karena memiliki ciri khas dan nilai budaya yang kuat. Ini menjadi peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan kerajinan dan produk lokal Mimika kepada masyarakat Indonesia,” ujar Nella.

Menurutnya, kehadiran Dekranasda Mimika di PENAS XVII bukan sekadar mengikuti pameran, melainkan bagian dari strategi memperluas promosi produk UMKM dan kerajinan daerah agar semakin dikenal serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Kami berharap melalui PENAS XVII ini, produk-produk unggulan Mimika dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Dekranasda Mimika akan terus mendorong para perajin dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk sehingga mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” tambahnya.

Secara kontekstual, tingginya minat pengunjung terhadap produk-produk Mimika menunjukkan bahwa pasar nasional kini semakin terbuka terhadap produk berbasis budaya lokal. Di tengah arus globalisasi yang sering menyeragamkan selera, karya-karya yang lahir dari akar tradisi justru memiliki nilai tambah karena menawarkan keunikan, keaslian, dan cerita yang tidak dimiliki produk massal. Fenomena ini menjadi peluang strategis bagi UMKM Papua Tengah untuk memperluas pasar sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.

Untuk mengikuti rangkaian kegiatan PENAS XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Dekranasda Mimika mengirimkan 24 pengurus dan perajin. Mereka membawa beragam produk unggulan, mulai dari noken rajutan daun melinjo, patung Mbitoro, dompet kulit buaya, tas kulit buaya, kain printing Kamoro, kain ecoprint, minyak daun gatal, hingga berbagai produk olahan khas Mimika yang menjadi identitas budaya masyarakat Papua Tengah.

Lebih dari sekadar transaksi dan promosi, kehadiran stand Dekranasda Mimika menjadi ruang perjumpaan antara budaya, kreativitas, dan harapan. Di tengah keramaian PENAS XVII, setiap produk yang dipajang seakan bercerita bahwa dari ujung timur Indonesia, ada karya-karya yang terus mencari jalan untuk dikenal dunia—membawa nama Mimika melampaui batas geografis, menuju ruang yang lebih luas dalam ingatan dan kebanggaan bangsa.

Example 300250