KUPANG | LINTASTIMOR.ID – Langkah itu tampak tegar, tetapi mata seorang ayah menyimpan cerita yang sulit diucapkan. Di ruang keberangkatan Bandara Internasional El Tari Kupang, Kamis (16/7/2026), IPDA Makxi Disyon I. Ninu, Kapolsek Tasifeto Barat, Polres Belu, Polda NTT, kembali mengantar putranya, Yunior A. Ninu, menuju sebuah perjalanan baru. Kali ini bukan sekadar melepas kepergian, melainkan mengantarkan mimpi yang telah dipelihara dengan kesabaran selama bertahun-tahun: mengikuti pendidikan Bintara Polri di Jawa.
Bagi Makxi, momen tersebut menghadirkan kebahagiaan yang bercampur haru. Tempat yang sama pernah menjadi saksi ketika ia mengantar putranya merantau untuk menempuh pendidikan SMA. Kini, bandara itu kembali menjadi persimpangan takdir, tetapi dengan kisah yang jauh berbeda.
Menurut Makxi, kecintaan putranya terhadap profesi kepolisian tumbuh tanpa paksaan. Sejak memasuki usia remaja, Yunior justru membangun mimpinya sendiri dengan disiplin yang jarang terlihat.
“Anak berbaju putih itu, dalam diamnya ternyata mencintai profesi yang saya geluti. Sejak mulai beranjak remaja, ia berlatih sendiri tanpa diperintah, mencari tempat bimbingan belajar di Belu, membeli buku, dan belajar secara mandiri di rumah,” ungkap Makxi.
Ia mengenang, pada Agustus 2024, Yunior baru memulai pendidikan di bangku SMA. Saat itu, sang ayah kembali mengantarnya melalui Bandara El Tari untuk menempuh pendidikan. Tiga tahun kemudian, setelah menamatkan SMA pada 2026, Yunior mengikuti seleksi Bintara Polri.
Seleksi yang panjang dan kompetitif berhasil dilaluinya hingga akhirnya dinyatakan lulus sebagai calon siswa Bintara Polri.
Bagi Makxi, keberhasilan tersebut bukanlah hasil keberuntungan sesaat, melainkan buah dari ketekunan, disiplin, dan kesungguhan anaknya dalam merawat cita-cita sejak usia muda.
“Pagi ini dengan kisah yang berbeda, saya kembali sebagai orang tua mengantarnya ke bandara untuk mengikuti pendidikan di Jawa. Anakku, kami cukup bangga atas prestasi yang engkau raih. Jika selama tiga tahun kamu menggenggam mimpimu, maka sekarang saatnya kamu menggapai mimpimu,” tuturnya penuh haru.
Ia pun menyampaikan doa agar putranya senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan selama menjalani pendidikan yang dijadwalkan berlangsung selama lima bulan hingga penutupan pendidikan pada Desember 2026.
“Selamat menempuh pendidikan, Anakku Bot Jr. Lima bulan itu tidak lama. Teriring doa semoga engkau selalu sehat hingga menutup pendidikan pada Desember 2026,” ucapnya.
Di balik kisah seorang calon Bhayangkara, terselip pesan tentang pentingnya dukungan keluarga dalam membentuk karakter generasi muda. Keberhasilan seorang anak menembus seleksi institusi kepolisian tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan fisik, tetapi juga oleh disiplin, ketekunan, serta lingkungan keluarga yang memberi ruang bagi tumbuhnya cita-cita tanpa tekanan. Kisah Yunior menjadi potret bahwa mimpi yang dirawat dengan konsisten memiliki peluang untuk menjadi kenyataan.
Bandara El Tari pagi itu akhirnya bukan sekadar tempat keberangkatan. Ia menjadi ruang yang mempertemukan harapan, pengorbanan, dan doa seorang ayah. Sebab bagi setiap orang tua, keberhasilan anak bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar kepada bangsa dan negara.


















