Oleh: Agustinus Bobe, S.H., M.H.
Pakar Hukum Pidana Pers Indonesia
Ada sebuah kecenderungan menarik dalam perkembangan media digital hari ini. Ketika sebuah berita tampil cepat, terstruktur, kaya konteks, dan memiliki gaya penulisan yang berbeda, sebagian orang justru sibuk mempertanyakan: “Apakah berita itu dibuat dengan AI?”
Pertanyaan tersebut sah. Namun, menjadi tidak relevan ketika teknologi dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan bermutu atau tidaknya sebuah karya jurnalistik.
Sebab, AI bukan wartawan. AI adalah alat.
Kamera bukan fotografer. Mikrofon bukan reporter. Komputer bukan editor. Mesin pencari bukan redaksi.
Begitu pula kecerdasan buatan tidak otomatis menjadi penulis berita.
Di balik sebuah berita yang bertanggung jawab, tetap harus ada manusia yang mencari informasi, memahami konteks, memeriksa fakta, memilih narasumber, menguji keterangan, menentukan sudut pandang, dan mempertanggungjawabkan apa yang dipublikasikan.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah:
“Apakah berita ini menggunakan AI?”
Melainkan:
“Apakah fakta di dalamnya benar?”
Apakah sumbernya jelas?
Apakah informasinya terverifikasi?
Apakah judulnya sesuai dengan isi?
Apakah narasumbernya relevan?
Apakah berita tersebut memberikan konteks yang cukup kepada pembaca?
Dan yang paling penting, apakah karya jurnalistik itu memenuhi prinsip-prinsip dasar pers yang bertanggung jawab?
Di situlah mutu sebuah berita seharusnya diuji.
Teknologi berubah, prinsip jurnalistik tidak
Dunia pers telah berkali-kali mengalami revolusi teknologi.
Dulu wartawan bekerja dengan mesin ketik. Kemudian hadir komputer. Kamera film berganti kamera digital. Rekaman suara berpindah dari kaset ke perangkat digital. Berita yang dahulu dikirim melalui telepon dan faksimile kini dapat dikirim dalam hitungan detik melalui jaringan internet.
Tidak ada yang kemudian mengatakan bahwa berita dari komputer otomatis tidak bermutu.
Mengapa?
Karena alat tidak pernah menjadi substansi utama jurnalistik.
Substansi jurnalistik adalah fakta.
Teknologi hanya mempercepat proses.
Hari ini AI hadir sebagai bagian dari perkembangan teknologi informasi. Ia dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki tata bahasa, merapikan struktur, menemukan kemungkinan angle, atau membantu editor mengembangkan sebuah naskah.
Tetapi keputusan akhir tetap berada pada manusia.
Dan justru di situlah profesionalisme seorang wartawan diuji.
Cepat bukan berarti dangkal
Dalam pers digital, kecepatan memang penting. Tetapi kecepatan tanpa verifikasi dapat menjadi bumerang.
Sebaliknya, tulisan yang cepat tetapi tetap akurat, kontekstual, dan enak dibaca merupakan bagian dari kompetensi jurnalistik modern.
Karena pembaca hari ini tidak hanya membutuhkan informasi tentang apa yang terjadi.
Mereka juga ingin memahami:
mengapa itu terjadi, siapa yang terlibat, apa konteksnya, dan apa arti peristiwa tersebut bagi masyarakat.
Itulah sebabnya sebuah berita dapat berkembang dari sekadar hard news menjadi tulisan yang memiliki kedalaman, konteks, bahkan sentuhan feature.
Dan ketika sebuah media mampu menghadirkan karakter tulisan yang berbeda, tidak semestinya perbedaan itu langsung dicurigai sebagai sesuatu yang negatif.
Pers justru hidup karena keberagaman gaya, perspektif, dan pendekatan jurnalistik.
Jangan menyerang alat ketika tidak setuju dengan karya
Kritik terhadap karya jurnalistik tentu diperlukan.
Jika ada kesalahan fakta, tunjukkan faktanya.
Jika ada kekeliruan data, koreksi datanya.
Jika ada sumber yang tidak akurat, pertanyakan sumbernya.
Jika ada pelanggaran kode etik, sampaikan dasar etiknya.
Itulah kritik yang sehat.
Namun, mengatakan sebuah berita “tidak bermutu hanya karena menggunakan AI” merupakan argumentasi yang terlalu sederhana.
Sebab mutu karya tidak dapat ditentukan hanya dari teknologi yang digunakan di belakang layar.
Sebuah tulisan yang dibuat sepenuhnya secara manual tetap dapat buruk apabila faktanya salah.
Sebaliknya, penggunaan teknologi tidak otomatis menghilangkan nilai jurnalistik apabila prosesnya tetap berada di bawah kendali, verifikasi, dan tanggung jawab seorang jurnalis.
Pers tidak perlu takut pada kompetisi
Di era digital, persaingan antar-media adalah sesuatu yang tidak terhindarkan.
Media berlomba menghadirkan berita lebih cepat.
Redaksi berlomba menghadirkan angle yang lebih menarik.
Wartawan berlomba melakukan peliputan yang lebih mendalam.
Dan pembaca pada akhirnya mempunyai hak untuk memilih media mana yang mereka percaya.
Karena itu, kompetisi terbaik bukanlah dengan menjatuhkan media lain, melainkan dengan menghasilkan karya yang lebih baik.
Jika sebuah berita dianggap buruk, buatlah berita yang lebih baik.
Jika sebuah angle dianggap dangkal, hadirkan analisis yang lebih dalam.
Jika gaya penulisannya dianggap biasa, tunjukkan gaya jurnalistik yang lebih kuat.
Biarkan kualitas karya berbicara.
Sebab dalam dunia pers, pembaca adalah hakim terakhir dari sebuah karya jurnalistik.
AI boleh berkembang, tetapi nurani jurnalistik jangan hilang
Teknologi boleh semakin canggih.
AI boleh semakin pintar.
Mesin boleh membantu manusia bekerja lebih cepat.
Tetapi satu hal yang tidak boleh diserahkan kepada mesin adalah tanggung jawab moral seorang jurnalis terhadap kebenaran.
Wartawan tetap harus mempunyai mata untuk melihat fakta, telinga untuk mendengar keterangan, akal untuk menguji informasi, keberanian untuk mengungkap fakta, dan nurani untuk tidak memanipulasi kenyataan.
Karena itu, masa depan pers bukanlah pertarungan antara wartawan melawan AI.
Masa depan pers adalah bagaimana wartawan menggunakan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia.
Maka, jika ada sebuah berita yang dianggap bermutu atau tidak bermutu, mari kita uji dengan ukuran yang lebih dewasa:
bukan siapa yang menulisnya, bukan alat apa yang digunakan, tetapi seberapa kuat fakta, verifikasi, konteks, dan tanggung jawab jurnalistik di dalamnya.
Pada akhirnya, AI hanyalah pena baru.
Yang menentukan apakah tulisan itu bernilai atau tidak tetap berada di tangan manusia yang memegang penanya.


















