Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPeristiwa

Laut Panga Batang Mengembalikan Empat Nyawa

65
×

Laut Panga Batang Mengembalikan Empat Nyawa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAUMERE |LINTASTIMOR.ID — Laut Panga Batang pagi itu seperti menyimpan rahasia.

Di antara biru laut dan garis cakrawala yang seakan tak berujung, empat manusia pernah dinyatakan belum kembali dari kedalaman. Arus membawa mereka menjauh dari titik penyelaman, sementara keluarga, rekan seperjalanan, nelayan, dan tim penyelamat menunggu dalam kecemasan yang tak mudah diterjemahkan oleh kata-kata.

Example 300x600

Namun, Senin (5/10/2026) pagi, laut akhirnya mengembalikan mereka.

Tiga penyelam yang sempat hilang terseret arus ditemukan satu demi satu dalam keadaan selamat. Dua di antaranya merupakan warga negara Irlandia, sementara seorang lainnya adalah warga Indonesia yang bertugas sebagai dive guide.

Sehari sebelumnya, seorang penyelam asal Austria juga telah ditemukan dalam keadaan selamat di perairan antara Pulau Babi dan Nangahale.

Enam orang turun ke laut.

Enam orang akhirnya kembali.

Dan di antara gelombang yang bergerak tanpa suara, operasi pencarian yang semula dipenuhi kecemasan berakhir dengan kabar yang membawa kelegaan.

Ketika laut berubah menjadi ruang ketidakpastian

Minggu (4/10/2026), sekitar pukul 10.00 WITA, enam penyelam memulai aktivitas diving di sekitar perairan Pulau Panga Batang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Lokasi penyelaman berjarak sekitar 16,6 nautical mile dari Pelabuhan Wuring, Maumere.

Mereka terdiri atas dua dive guide lokal dan empat wisatawan mancanegara.

Semula semuanya berjalan sebagaimana aktivitas penyelaman pada umumnya.

Tetapi laut memiliki wataknya sendiri.

Arus di lokasi ternyata cukup kuat.

Di bawah permukaan yang tampak tenang dari kejauhan, kekuatan air memisahkan rombongan menjadi dua tim.

Tim pertama terdiri atas seorang dive guide WNI dan seorang penyelam asal Belanda. Keduanya berhasil kembali ke permukaan dalam keadaan selamat.

Tim kedua tidak seberuntung itu.

Di dalamnya terdapat seorang dive guide WNI serta tiga wisatawan mancanegara—masing-masing berasal dari Irlandia dan Austria.

Mereka belum kembali ke permukaan.

Waktu pun berubah menjadi sesuatu yang terasa panjang.

Laporan mengenai kondisi membahayakan manusia itu diterima Kantor SAR Maumere pada Minggu pukul 14.10 WITA dari Riana, tour guide.

Sejak saat itu, pencarian dimulai.

Satu ditemukan sebelum matahari tenggelam

Sore menjelang malam.

Sekitar pukul 16.30 WITA, harapan pertama datang dari arah laut.

Tim SAR Gabungan bersama nelayan berhasil menemukan Patricia Retter (42), penyelam asal Austria, di perairan antara Pulau Babi dan Nangahale.

Ia ditemukan dalam kondisi selamat.

Satu nama terhapus dari daftar pencarian.

Namun tiga lainnya masih menjadi tanda tanya.

Malam pun datang membawa kecemasan baru.

Di laut, jarak dan arus tidak pernah sekadar angka. Ia bisa menjadi batas antara ditemukan dan kehilangan.

Tetapi pencarian tidak berhenti.

Pagi kedua, laut kembali memberi jawaban

Senin (5/10/2026), operasi SAR memasuki hari kedua.

Sejumlah unsur dan alat utama sistem pencarian dan pertolongan dikerahkan. KN SAR Puntadewa 250 bergerak bersama Speed Polair KP Sukur, Sea Rider KN SAR Puntadewa, dan Rubber Boat Kantor SAR Maumere.

Nelayan turut menjadi bagian penting dari pencarian.

TNI dan Polri ikut menyisir kawasan.

Laut yang sehari sebelumnya menjadi ruang ketidakpastian kembali dipetakan, disusuri, dan dibaca oleh mereka yang terbiasa berhadapan dengan medan perairan.

Fathur menjelaskan bahwa pencarian hari kedua difokuskan pada tiga penyelam yang masih belum ditemukan.

“Operasi SAR hari ini merupakan hari kedua untuk mencari tiga orang penyelam yang masih dalam pencarian. Ketiga korban tersebut terdiri dari dua orang WNA asal Irlandia dan satu orang WNI yang merupakan tour guide.”

Menurut Fathur, pencarian dilakukan sejak pagi dengan mengerahkan KN SAR Puntadewa 250, Speed Polair KP Sukur, Sea Rider KN SAR Puntadewa, serta Rubber Boat Kantor SAR Maumere.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya ada laut yang harus disisir, koordinat yang harus dihitung, arus yang harus dibaca, dan harapan yang harus terus dipelihara.

Pukul 09.00 WITA

Pagi belum terlalu tinggi ketika kabar pertama datang.

Pukul 09.00 WITA, Tim SAR Gabungan menemukan dua penyelam asal Irlandia.

Mereka adalah Dervla Mulligan (28) dan Darragh Mc Kierna (27).

Keduanya ditemukan dalam keadaan selamat pada koordinat 08°32’23.83″ S – 122°26’04.114″ E, sekitar 3,17 nautical mile dari lokasi kejadian.

Seolah laut perlahan membuka kembali apa yang sebelumnya disembunyikannya.

Lalu lima menit kemudian, kabar kedua datang.

Pukul 09.05 WITA, Speed Polair KP Sukur menemukan Frederik Horimpun (39), warga Indonesia yang merupakan dive guide Maumere.

Ia ditemukan dalam keadaan selamat pada koordinat 08°33’37.61″ S – 122°26’10.13″ E, sekitar 4,21 nautical mile dari lokasi kejadian.

Tiga nama.

Tiga manusia.

Tiga jawaban.

Dan semuanya masih hidup.

Laut yang menyimpan kecemasan, sekaligus mengembalikan harapan

Dalam kisah-kisah masyarakat pesisir, laut tidak pernah hanya dipandang sebagai hamparan air.

Ia bisa menjadi sumber kehidupan.

Ia bisa menjadi jalan perjalanan.

Ia juga dapat berubah menjadi ruang yang penuh misteri ketika angin dan arus bergerak di luar perkiraan manusia.

Panga Batang pada dua hari itu memperlihatkan wajah laut yang demikian.

Tidak perlu menghadirkan cerita gaib untuk menyebutnya misterius. Cukup dengan melihat bagaimana manusia yang turun ke kedalaman dapat dibawa arus jauh dari titik semula, sementara orang-orang di permukaan hanya mampu menunggu dan mencari.

Di sanalah kekuatan manusia diuji.

Bukan hanya oleh alam, tetapi juga oleh kesabaran.

Tim SAR terus bergerak.

Nelayan membantu.

Unsur TNI dan Polri memperkuat pencarian.

Setiap perahu yang bergerak menjadi bagian dari harapan.

Setiap koordinat menjadi petunjuk.

Dan setiap kabar dari laut menjadi denyut yang menentukan arah operasi.

Enam turun, enam kembali

Dengan ditemukannya tiga penyelam pada Senin pagi, seluruh penyelam yang sebelumnya dilaporkan belum kembali ke permukaan akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat.

Mereka adalah satu WNA asal Austria, dua WNA asal Irlandia, dan satu WNI selaku dive guide.

Sementara dua anggota Tim 1 sebelumnya telah ditemukan dalam keadaan selamat.

Enam orang.

Enam keselamatan.

Tidak ada nama yang tertinggal di laut.

Tidak ada keluarga yang harus menerima kabar paling buruk.

Operasi SAR pun dinyatakan selesai dan ditutup.

Keberhasilan itu tidak berdiri sendiri.

Ia lahir dari kerja bersama banyak tangan: Basarnas, nelayan, TNI, Polri, Lanal Maumere, Ditpolair Polda NTT, dan Satpolair Polres Sikka.

Di laut, tidak ada satu orang yang bekerja sendirian.

Keselamatan sering kali lahir dari keberanian banyak orang yang bergerak dalam satu tujuan.

Enam nama yang kembali

Maria Rosa Hariana Djaa (25) — perempuan, WNI asal Maumere, tour guide Tim 1.

Bart Hazes (60) — laki-laki, WNA Belanda, penyelam Tim 1.

Patricia Retter (42) — perempuan, WNA Austria, penyelam Tim 2, ditemukan pada 4 Oktober 2026.

Dervla Mulligan (28) — perempuan, WNA Irlandia, penyelam Tim 2, ditemukan pada 5 Oktober 2026.

Darragh Mc Kierna (27) — laki-laki, WNA Irlandia, penyelam Tim 2, ditemukan pada 5 Oktober 2026.

Frederik Horimpun (39) — laki-laki, WNI asal Indonesia, dive guide Maumere sekaligus tour guide Tim 2, ditemukan pada 5 Oktober 2026.

Semua selamat.

Ketika laut akhirnya diam

Siang bergerak perlahan di atas perairan Panga Batang.

Perahu-perahu pencarian mulai meninggalkan wilayah operasi. Mesin yang sejak pagi bekerja keras perlahan menjauh. Gelombang tetap datang dan pergi seperti biasa.

Laut tidak memberi penjelasan.

Ia tidak mengatakan mengapa arus menjadi kuat.

Ia tidak menjelaskan ke mana tubuh-tubuh itu dibawa.

Ia hanya mengembalikan mereka.

Dan mungkin, bagi manusia pesisir, itu sudah menjadi jawaban yang paling penting.

Hari itu, Panga Batang tidak meninggalkan kisah tentang kehilangan.

Ia meninggalkan kisah tentang enam manusia yang berhadapan dengan kekuatan laut, dan enam manusia yang akhirnya kembali ke daratan.

Sebab pada akhirnya, di tengah laut yang luas dan misterius, harapan kadang hanya berupa satu hal sederhana:

Seseorang masih hidup dan sedang menunggu untuk ditemukan.

Example 300250