JAKARTA |LINTASTIMOR.ID— Pagi belum sepenuhnya kehilangan embun ketika Lapangan PRIMA, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, berubah menjadi panggung besar pertahanan Indonesia.
Di bawah langit ibu kota, ribuan prajurit berdiri dalam formasi. Seragam tiga matra menyatu dalam satu warna pengabdian. Derap langkah, penghormatan pasukan, dan suara komando mengisi ruang upacara yang pagi itu tidak hanya merayakan 81 tahun perjalanan Tentara Nasional Indonesia.
Ada sesuatu yang lebih besar sedang ditandai.
Sebuah struktur pertahanan baru lahir.
Dan dari panggung itu, sebuah nama membawa mandat menuju tanah yang jauh di timur: Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua.
Pada Senin, 5 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 TNI, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi meresmikan Kodam XXVII/Sobe Sonbai sekaligus mengukuhkan Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua sebagai Pangdam.
Untuk Nusa Tenggara Timur, hari itu bukan hanya pergantian jabatan seorang perwira tinggi.
Ia menjadi penanda lahirnya satu babak baru dalam arsitektur pertahanan di wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara lain.
Presiden Prabowo meresmikan 204 satuan baru TNI pada momentum tersebut. Enam di antaranya merupakan Komando Daerah Militer baru, termasuk Kodam XXVII/Sobe Sonbai yang wilayah teritorialnya mencakup Nusa Tenggara Timur.
Di antara enam Pangdam baru yang dikukuhkan, Thevi berdiri membawa tongkat komando untuk sebuah wilayah yang secara geografis mungkin berada jauh dari pusat kekuasaan, tetapi secara strategis berada di salah satu beranda terdepan Republik Indonesia.
NTT.
Tanah yang membentang dari Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu hingga gugusan pulau-pulau kecilnya.
Tanah yang menghadap laut lepas.
Tanah yang bertetangga langsung dengan Timor-Leste dan Australia.
Tanah yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari wajah Indonesia di kawasan timur.
Kini, tanah itu memiliki komando daerah militernya sendiri.
Ketika nama Sobe Sonbai kembali ke panggung sejarah
Nama Sobe Sonbai bukan nama yang lahir tanpa akar.
Ia membawa jejak sejarah dan identitas Timor.
Dalam konteks pembentukan Kodam baru, nama tersebut bukan sekadar nomenklatur organisasi. Ia menyentuh ruang kebudayaan, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Karena itu, ketika nama Sobe Sonbai disebut dalam upacara kenegaraan di Cilangkap, gema simboliknya tidak berhenti di Jakarta.
Ia bergerak jauh ke timur.
Menyeberangi laut.
Menuju Timor.
Menuju Flores.
Menuju Sumba.
Menuju pulau-pulau yang selama ini menjadi halaman depan Indonesia di kawasan selatan.
Di sanalah Mayjen Thevi Zebua akan menjalankan mandat barunya.
Tongkat komando dan tanggung jawab yang mengikuti
Prosesi pengukuhan Pangdam bukan sekadar seremoni.
Di balik tongkat komando terdapat tanggung jawab yang jauh lebih panjang daripada durasi sebuah upacara.
Seorang Pangdam memimpin komando kewilayahan yang tidak hanya berhadapan dengan peta dan garis batas, tetapi juga dengan realitas masyarakat.
NTT memiliki karakter geografis yang khas.
Pulau-pulau yang dipisahkan laut. Wilayah perbatasan. Daerah terpencil. Mobilitas masyarakat lintas wilayah. Dinamika sosial. Hingga kebutuhan membangun hubungan yang erat antara pertahanan negara dan rakyat.
Karena itu, kehadiran Kodam XXVII/Sobe Sonbai membawa konsekuensi strategis: memperkuat struktur komando pertahanan sekaligus mendekatkan organisasi TNI dengan karakter wilayah yang dilayaninya.
Dalam struktur baru itu, Thevi tidak hanya menerima sebuah jabatan.
Ia menerima sebuah wilayah.
Dan bersama wilayah itu, sebuah kepercayaan.
Dari Cilangkap menuju timur Indonesia
Pemandangan di Lapangan PRIMA pagi itu memperlihatkan wajah lain dari perubahan struktur TNI.
Sebanyak 3.378 personel dari unsur TNI dan non-TNI terlibat dalam upacara tersebut, sementara 38 unit alat utama sistem persenjataan turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Presiden Prabowo memimpin langsung upacara.
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mendampingi rangkaian prosesi.
Di tengah kemegahan itu, enam nama Pangdam baru menerima mandat untuk wilayah masing-masing.
Salah satunya adalah Thevi.
Tongkat komando berpindah tangan.
Tetapi sesungguhnya yang berpindah bukan hanya tongkat.
Ada tanggung jawab yang ikut berpindah.
Ada harapan yang ikut diletakkan.
Dan ada sebuah pesan yang diam-diam berjalan bersama sang pemegang komando: bahwa pertahanan negara tidak berhenti pada kekuatan senjata, melainkan juga pada kemampuan menjaga kehadiran negara di tengah masyarakat.
NTT memasuki halaman baru
Bagi NTT, terbentuknya Kodam XXVII/Sobe Sonbai menambah satu bab penting dalam sejarah pertahanan daerah.
Presiden Prabowo meresmikan enam Kodam baru yang tersebar di sejumlah wilayah strategis, yakni Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, Nusa Tenggara Barat, serta wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan struktur organisasi TNI.
Namun di NTT, maknanya memiliki warna tersendiri.
Sebab provinsi ini bukan sekadar wilayah administratif di ujung selatan Indonesia.
NTT adalah perbatasan.
Ia adalah wajah Republik yang menghadap ke dunia luar.
Di sejumlah titik, garis batas negara bukan hanya terlihat pada peta, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, keberadaan Kodam XXVII/Sobe Sonbai akan selalu berkelindan dengan satu kata penting: kehadiran.
Kehadiran negara.
Kehadiran pertahanan.
Kehadiran prajurit.
Dan terutama, kehadiran negara bersama rakyatnya.
Thevi dan babak baru Sobe Sonbai
Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua kini berdiri di ambang babak baru itu.
Jakarta telah menyerahkan mandat.
Cilangkap telah menjadi saksi.
Sejarah telah mencatat tanggalnya: 5 Oktober 2026.
Selebihnya adalah perjalanan.
Perjalanan seorang Pangdam dengan wilayah yang tidak sederhana.
Perjalanan sebuah institusi baru untuk membangun sistem kerja.
Dan perjalanan masyarakat NTT menyaksikan bagaimana sebuah komando baru tumbuh di tanah mereka.
Kelak, mungkin yang paling dikenang bukan kemegahan upacara di Lapangan PRIMA.
Bukan pula derap ribuan prajurit yang memenuhi lapangan.
Melainkan bagaimana tongkat komando itu bekerja setelah upacara selesai.
Bagaimana TNI hadir di pulau-pulau kecil.
Bagaimana prajurit berdiri di wilayah perbatasan.
Bagaimana kemanunggalan dengan rakyat dirawat.
Dan bagaimana Kodam XXVII/Sobe Sonbai menemukan jati dirinya sebagai rumah pertahanan bagi Nusa Tenggara Timur.
Sebab pada akhirnya, komando bukanlah tentang siapa yang paling tinggi berdiri di atas podium.
Komando adalah tentang siapa yang bersedia berdiri paling depan ketika negara membutuhkan kehadiran.
Dari Cilangkap, mandat itu telah diberikan.
Kini, perjalanan Sobe Sonbai dimulai.
Dan di ufuk timur Indonesia, sebuah halaman baru telah dibuka.


















