TIMIKA|LINTASTIMOR.ID — Sebuah batu diletakkan di atas tanah pada Kamis, 1 Oktober 2026. Gerakannya sederhana, tetapi dari sanalah sebuah harapan mulai dibangun: agar pelayanan negara tidak berhenti di pusat kota, melainkan berjalan lebih jauh, menyentuh masyarakat yang membutuhkan di sudut-sudut Mimika.
Hari itu, pembangunan sejumlah fasilitas pendukung pelayanan Polri di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi dimulai.
Peletakan batu pertama dipusatkan di RS Bhayangkara Mimika, Mile 32, Timika. Pembangunan tersebut mencakup rumah dinas dokter RS Bhayangkara Mimika, Mako Polsek Kokonao, Polsek Agimuga, serta landscape pagar Polsek Bandara Mozes Kilangin.
Namun, bagi Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini, pembangunan itu tidak boleh berhenti pada urusan beton, dinding, pagar, atau bangunan yang kelak berdiri.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana fasilitas tersebut menjadi jalan bagi pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Sentuhan polisi yang paling nyata dan bisa dirasakan semua lapisan masyarakat adalah pelayanan rumah sakit dan kesehatan,” kata Jermias.
Kalimat itu menempatkan pembangunan dalam makna yang lebih luas.
Sebuah bangunan hanyalah sarana. Yang memberi kehidupan kepada bangunan itu adalah manusia yang bekerja di dalamnya dan masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Karena itu, ketika meninjau RS Bhayangkara Mimika, Jermias tidak hanya melihat apa yang sudah tersedia. Ia juga melihat bagian-bagian yang masih membutuhkan perhatian.
Beberapa bagian bangunan, termasuk atap atau dak, ditemukan mengalami kebocoran dan membutuhkan pembenahan.
Bagi Jermias, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan pelayanan kesehatan membutuhkan perhatian yang terus-menerus. Fasilitas harus dirawat, tenaga kesehatan diperkuat, dan cara pelayanan perlu disesuaikan dengan karakter masyarakat yang dilayani.
Ketika Pelayanan Harus Berjalan Mendatangi
Di Mimika, jarak bukan sekadar angka di peta.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kabupaten, perjalanan menuju fasilitas kesehatan dapat menjadi persoalan tersendiri. Karena itu, menurut Jermias, pelayanan kesehatan tidak selalu dapat menunggu masyarakat datang ke rumah sakit.
Pola pelayanan harus bergerak.
“Kita ubah modelnya. Kita yang datang door to door,” ujarnya.
Ia menyebut masyarakat Papua tidak selalu mudah datang ke rumah sakit ketika membutuhkan pelayanan. Karena itu, pendekatan langsung kepada masyarakat dinilai perlu dikembangkan.
Gagasan tersebut memperluas arti sebuah rumah sakit.
Rumah sakit bukan hanya tempat orang datang ketika sakit. Ia juga dapat menjadi bagian dari sistem pelayanan yang bergerak mencari mereka yang membutuhkan.
Di balik pendekatan itu ada satu pesan sederhana: pelayanan tidak boleh terlalu jauh dari manusia.
Sebab kesehatan menyentuh kehidupan paling dasar. Ketika seseorang sakit, yang dicari bukan hanya obat, tetapi juga pertolongan, perhatian, dan rasa bahwa dirinya tidak sendirian menghadapi keadaan.
Dalam konteks itulah pembangunan fasilitas kesehatan dan penguatan pelayanan Polri bertemu pada satu titik: kemanusiaan.
Membangun Rumah Sakit, Menyiapkan Manusianya
Jermias juga melihat bahwa masa depan RS Bhayangkara Mimika tidak hanya bergantung pada gedung dan fasilitas.
Sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Ia mendorong pengembangan pendidikan keperawatan di Timika agar kebutuhan tenaga kesehatan dapat dipenuhi dari waktu ke waktu, seiring dengan berkembangnya RS Bhayangkara Mimika.
“Kalau boleh, kita bikin sebuah akademi perawat yang bisa melahirkan tenaga perawat. Minimal perawat,” katanya.
Gagasan itu berbicara tentang masa depan.
Hari ini sebuah batu diletakkan.
Besok sebuah bangunan berdiri.
Namun, pelayanan kesehatan membutuhkan lebih dari sekadar bangunan. Ia membutuhkan orang-orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kepedulian, dan hati untuk melayani.
Karena itu, pendidikan tenaga kesehatan menjadi investasi yang panjang. Ia tidak selesai ketika sebuah proyek pembangunan selesai.
Justru dari sanalah pekerjaan berikutnya dimulai.
Mempersiapkan manusia yang kelak mengisi ruang-ruang pelayanan.
Dari Kokonao hingga Agimuga
Pembangunan yang dimulai hari itu juga membawa pesan tentang pemerataan pelayanan.
Mako Polsek Kokonao dan Polsek Agimuga menjadi bagian dari fasilitas yang dibangun. Keduanya berada di wilayah yang memiliki karakter geografis dan tantangan pelayanan tersendiri.
Sementara landscape pagar Polsek Bandara Mozes Kilangin menjadi bagian dari penataan fasilitas pendukung kepolisian di kawasan bandara.
Rangkaian pembangunan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan tidak hanya berada di satu titik.
Mimika terus berkembang, dan pertumbuhan itu menuntut kehadiran fasilitas publik yang mampu mengikuti dinamika masyarakat.
Peletakan batu pertama pun dihadiri sejumlah pejabat dan unsur terkait, di antaranya Bupati Mimika Johannes Rettob, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, Kapolres Mimika AKBP Alfredo Agustinus Rumbiak, Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Teuku Jozanda, serta pihak PUPR Cipta Karya Mimika.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari sebuah ikhtiar bersama bahwa pembangunan pelayanan publik membutuhkan kerja lintas lembaga.
Polisi memiliki tugasnya.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawabnya.
Tenaga kesehatan memiliki pengabdiannya.
Dan masyarakat menjadi tujuan akhirnya.
Batu Pertama dan Harapan yang Menyertainya
Ketika acara selesai, batu pertama itu telah menjadi penanda.
Ia menandai dimulainya pekerjaan fisik. Tetapi lebih dari itu, ia menjadi simbol dari harapan agar pelayanan publik di Mimika semakin dekat, semakin manusiawi, dan semakin mampu menjangkau mereka yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata.
Pembangunan adalah tentang kehidupan yang menjadi lebih baik setelah sebuah proyek selesai.
Tentang warga yang lebih mudah mendapatkan pelayanan.
Tentang tenaga kesehatan yang bekerja dalam fasilitas yang layak.
Tentang polisi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Dan tentang negara yang hadir bukan hanya melalui seragam dan gedung, tetapi melalui pelayanan yang dapat dirasakan.
Dari Mile 32, harapan itu mulai diletakkan.
Satu batu menjadi tanda.
Satu bangunan kelak menjadi tempat pengabdian.
Dan dari sana, pelayanan diharapkan bergerak lebih jauh—menyusuri jalan, mendatangi kampung, menembus jarak, hingga tiba di pintu rumah masyarakat yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, pembangunan menemukan maknanya bukan ketika bangunan selesai berdiri, melainkan ketika manusia yang dilayani benar-benar merasakan kehadiran negara.


















