RUTENG |LINTASTIMOR.ID — Dari ujung timur Pulau Timor, kepedulian bergerak menuju jantung Flores.
Selasa (8/9/2026), Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, datang ke Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Manggarai, Meldyanti Hagur, ia menyerahkan bantuan sembako kepada warga yang terdampak gempa bumi Flores.
Penyerahan berlangsung di Rumah Adat Gendang Leda, disaksikan Camat, Lurah, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Tidak ada jarak yang cukup jauh ketika sebuah bencana memanggil rasa kemanusiaan.
Bantuan dari Kabupaten Belu itu menjadi bagian dari solidaritas antardaerah di Nusa Tenggara Timur. Di tengah warga yang masih menghadapi dampak bencana, kehadiran pemerintah daerah lain membawa pesan bahwa penderitaan akibat bencana tidak harus ditanggung sendirian.
Bantuan mungkin kecil, kepedulian tak ternilai
Willy Lay menyadari bantuan yang dibawa dari Belu mungkin belum sebanding dengan kerusakan maupun kebutuhan masyarakat setelah bencana.
Namun, menurut dia, nilai sebuah bantuan tidak selalu terletak pada besarnya jumlah yang diberikan, melainkan pada kesediaan untuk datang dan berdiri bersama mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
“Kita datang menyerahkan bantuan tidak sebanding dengan kerusakan yang ada di sini, tetapi inilah kepedulian kami,” ujar Willy Lay.
Pernyataan itu menjadi gambaran sederhana tentang solidaritas kemanusiaan yang melampaui batas administratif.
Belu dan Manggarai memang berada di wilayah pemerintahan yang berbeda. Namun ketika bencana datang, batas kabupaten menjadi tidak berarti di hadapan rasa senasib sebagai sesama warga Nusa Tenggara Timur.
Willy Lay berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan pascabencana.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mendukung penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut.
Ketika daerah saling menguatkan
Bencana selalu meninggalkan persoalan yang lebih panjang daripada sekadar kerusakan fisik. Di balik rumah dan fasilitas yang terdampak, terdapat keluarga yang harus kembali menata kehidupan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta memulihkan rasa aman setelah mengalami guncangan.
Dalam konteks itu, bantuan antardaerah memiliki arti lebih luas. Ia bukan hanya distribusi sembako, tetapi juga pesan psikologis bahwa masyarakat terdampak tidak berjalan sendirian. Solidaritas pemerintah daerah dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan sosial dalam mempercepat proses pemulihan.
Kehadiran Bupati Belu di Manggarai memperlihatkan bahwa semangat gotong royong di NTT tidak berhenti pada batas wilayah. Ketika satu daerah terluka, daerah lain dapat datang membawa apa yang dimilikinya—meski sederhana—untuk ikut menguatkan.
Dan dari Rumah Adat Gendang Leda, pesan itu kembali menemukan maknanya: bantuan mungkin tidak mampu menghapus seluruh luka bencana, tetapi sebuah kepedulian dapat membuat mereka yang terdampak tahu bahwa mereka tidak sendirian.
Sebab pada akhirnya, Flores dan Timor bukan sekadar nama-nama di peta. Mereka adalah bagian dari satu rumah besar bernama Nusa Tenggara Timur, tempat kemanusiaan seharusnya selalu menemukan jalan untuk pulang.


















