RINHAT |LINTASTIMOR.ID-— Ada sesuatu yang sederhana tetapi berarti di ruang Perpustakaan Daerah Kabupaten Malaka, Selasa (1/9/2026). Bukan hanya buku yang berpindah tangan, melainkan gagasan anak-anak sekolah yang mulai menemukan jalan panjangnya: dari halaman kelas menuju ruang baca masyarakat.
Sebanyak enam eksemplar buku karya siswa SMA Negeri Biuduk Foho diserahkan kepada Perpustakaan Daerah Kabupaten Malaka untuk menjadi bahan bacaan bagi masyarakat umum. Enam buku itu terdiri atas masing-masing dua eksemplar Hadiah untuk Bundaku Jilid 13, Kado untuk Ayahku Jilid 2, dan Mengeja Nama Menanam Doa.
Buku-buku tersebut lahir dari program literasi sekolah yang diterapkan di SMA Negeri Biuduk Foho. Dari kebiasaan membaca, anak-anak didorong untuk melangkah lebih jauh—menulis, menyusun pengalaman menjadi kata, lalu menjadikannya buku yang dapat dibaca orang lain.
Di balik proses itu ada Kepala SMA Negeri Biuduk Foho, Yulius Fabianus Manuk, S.Pd., serta guru pembimbing Yublina Fay, S.Pd.. Para siswa penulis hadir melalui perwakilan, salah satunya Noviari Oci Fio, yang membawa suara teman-temannya dalam sebuah langkah kecil yang kini memiliki ruang lebih luas.
Program tersebut juga menjadi tindak lanjut dari program Gubernur Nusa Tenggara Timur mengenai satu sekolah satu produk. Dalam konteks itu, buku bukan hanya produk sekolah. Ia menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak di daerah dapat tumbuh menjadi karya yang memiliki nilai pendidikan sekaligus dapat diwariskan kepada masyarakat.
“Ini sebuah nilai positif yang patut diapresiasi. Ada anak-anak daerah yang mampu menulis. Semoga karya ini menjadi nilai positif yang dapat memotivasi generasi muda lainnya.”
Apresiasi itu disampaikan Kepala Perpustakaan Daerah Kabupaten Malaka Folgentius Berek Fahik.
Baginya, penyerahan buku karya siswa tersebut bukan sekadar penambahan koleksi perpustakaan, tetapi juga tanda bahwa anak-anak daerah memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya dan menyumbangkan gagasan kepada publik.
Lebih jauh, Perpustakaan Daerah Kabupaten Malaka menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan SMA Negeri Biuduk Foho dalam agenda launching buku pada waktu mendatang. Pernyataan itu disampaikan sambil menunjukkan ruang bedah buku yang dimiliki perpustakaan daerah—sebuah ruang yang kelak dapat menjadi tempat karya-karya muda itu dibicarakan, dikritisi, dan dirayakan.
SMA Negeri Biuduk Foho selanjutnya akan terus berkoordinasi dengan perpustakaan daerah terkait agenda launching buku. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar karya siswa tidak berhenti sebagai dokumen di rak sekolah, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat dan menemukan pembacanya.
Dari membaca menuju keberanian menulis
Penyerahan enam buku itu menyimpan pesan yang lebih besar daripada jumlah eksemplarnya. Literasi tidak semestinya berhenti pada kemampuan membaca tulisan orang lain. Pada titik tertentu, seorang anak perlu diberi keberanian untuk mengatakan: “Saya juga punya cerita, dan cerita itu layak dibaca.”
Di tengah arus informasi yang begitu deras, keberanian menulis menjadi penting. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai konsumen pengetahuan, tetapi sebagai pencipta pengetahuan dan cerita dari lingkungan mereka sendiri. Ketika sekolah memberi ruang untuk membaca sekaligus menulis, perpustakaan kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan karya tersebut dengan masyarakat.
Enam eksemplar itu mungkin tampak kecil jika dihitung sebagai angka. Namun, bagi gerakan literasi, enam buku dapat menjadi enam pintu; dan di balik setiap pintu, selalu ada kemungkinan lahirnya pembaca baru, penulis baru, bahkan generasi baru yang berani mengabadikan dunianya melalui kata.
Sebab sebuah buku tidak pernah benar-benar selesai ketika dicetak.
Ia baru memulai perjalanan ketika seseorang membukanya, membaca halaman pertamanya, lalu menemukan dirinya sendiri di antara kata-kata yang ditulis oleh anak-anak dari Biuduk Foho.


















