Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalOtomotifPeristiwa

122 Korban Putiara Sentosa II Menembus Laut

41
×

122 Korban Putiara Sentosa II Menembus Laut

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | LINTASTIMOR.ID — Malam belum benar-benar selesai ketika satu per satu korban akhirnya menjejakkan kaki di daratan. Setelah melewati kepanikan dan ketidakpastian di tengah laut, sebanyak 122 korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II berhasil dievakuasi dan tiba di daratan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, serta Pelabuhan Kalianget, Sumenep, hingga Senin (3/8/2026) dini hari.

Di antara suara mesin kapal dan langkah kaki yang tergesa, daratan seolah menjadi ruang pertama untuk kembali bernapas. Wajah-wajah yang sebelumnya berhadapan dengan ketakutan perlahan menemukan tempat untuk beristirahat. Laut yang sempat menjadi batas antara hidup dan kecemasan, kini berada di belakang mereka.

Example 300x600

Kepala Kantor SAR Surabaya yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit PH, menjelaskan sebanyak 113 korban telah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak. Sementara sembilan korban lainnya dibawa menuju Pelabuhan Kalianget menggunakan KN SAR 249 Permadi.

“Sebanyak 122 korban telah berhasil dievakuasi dan tiba di daratan. Setelah keselamatan mereka dipastikan, langkah berikutnya adalah memastikan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing korban,” ujar Nanang.

Sebanyak 111 korban selamat sebelumnya diturunkan dari KM Meratus Pematang Siantar. Mereka kemudian diarahkan menuju Terminal Gapura Surya Nusantara untuk menjalani proses pendataan oleh tim gabungan.

Di terminal itu, operasi penyelamatan memasuki fase yang tak kalah penting. Para korban tidak hanya membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, tetapi juga membutuhkan kepastian tentang kondisi tubuh mereka setelah menghadapi situasi darurat di tengah laut.

Setibanya di pelabuhan, seluruh korban menjalani pemeriksaan kesehatan. Korban yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Secara kontekstual, evakuasi ini memperlihatkan bahwa keselamatan di laut bukan sekadar persoalan membawa korban keluar dari zona bahaya. Setelah kapal dan laut ditinggalkan, masih ada pekerjaan kemanusiaan yang harus diselesaikan: mendata, memeriksa kesehatan, memberikan pertolongan, dan memastikan setiap korban mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya. Dalam keadaan darurat, kecepatan koordinasi menjadi penentu penting antara kepanikan dan keselamatan.

Tetapi di balik angka 122, ada manusia dengan cerita yang tidak pernah sederhana. Ada keluarga yang menunggu dengan cemas, ada tubuh yang masih menyimpan lelah, dan ada ingatan tentang laut yang mungkin tidak mudah dilupakan.

Mereka akhirnya tiba di daratan.

Namun, bagi para korban dan keluarga mereka, perjalanan belum sepenuhnya berakhir. Sebab, setelah seseorang diselamatkan dari laut, tugas kemanusiaan berikutnya adalah membantu mereka menemukan kembali rasa aman.

Dan pada akhirnya, laut mungkin menyimpan banyak rahasia, tetapi malam itu ia juga mengajarkan satu hal: bahwa setiap nyawa yang berhasil kembali ke daratan adalah sebuah harapan yang menolak untuk karam.

Example 300250