PAPUA| LINTASTIMOR.ID – Di tanah yang dibingkai pegunungan megah, hutan hujan yang lebat, dan laut yang menyimpan ribuan cerita, sebuah babak baru sedang ditulis dengan tinta pengabdian. Kali ini, bukan sekadar pergantian jabatan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia, melainkan hadirnya simbol kepercayaan terhadap kapasitas perempuan Papua untuk berdiri di garis terdepan menjaga keamanan dan menegakkan hukum.
Tiga polisi wanita dipercaya memimpin tiga kepolisian resor di wilayah Papua. Mereka adalah Kompol Diaritsz Felle, S.I.K. di Polres Kepulauan Yapen, Kompol Dian N. Pietersz, S.I.K. di Polres Boven Digoel, dan Kompol Jubelina Wally di Polres Mamberamo Raya.
Penugasan tersebut menjadi catatan penting dalam perjalanan sejarah kepemimpinan Polwan di Tanah Papua. Amanah itu mencerminkan semakin terbukanya ruang kepemimpinan di institusi Polri bagi perempuan yang memiliki kompetensi, integritas, pengalaman, dan rekam jejak pengabdian yang teruji.
“Kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh integritas, kemampuan, dan keberanian mengabdi. Kepercayaan kepada tiga Polwan ini menjadi penanda bahwa kesempatan di tubuh Polri semakin berpihak pada profesionalisme.”
Langkah Kapolda Papua, Irjen Pol. Petrus Patrige Rudolf Renwarin, S.H., M.Si., yang memberikan ruang strategis kepada para Polwan mendapat apresiasi luas. Sejak memimpin Polda Papua pada 2024, Irjen Petrus Patrige Rudolf Renwarin dinilai menunjukkan komitmen dalam mendorong penguatan sumber daya manusia kepolisian melalui pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis kompetensi.
Di antara ketiga nama tersebut, Kompol Dian N. Pietersz, S.I.K. memiliki makna emosional yang kuat bagi masyarakat Papua Selatan. Ia memiliki garis keturunan dari sang nenek yang merupakan perempuan asli Marind dari Marga Samkakai, Kampung Domande, Kabupaten Merauke. Ikatan genealogis itu menghadirkan rasa kedekatan tersendiri bagi masyarakat adat yang melihat salah satu putrinya dipercaya memimpin institusi penegak hukum di wilayah perbatasan.
Lebih dari sekadar pencapaian karier, kehadiran Kompol Dian di Boven Digoel membawa pesan bahwa perempuan yang lahir dari akar budaya dan adat Papua mampu tampil sebagai pemimpin yang mengayomi masyarakat, menegakkan hukum, sekaligus merawat rasa aman di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Di balik seragam dan pangkat yang disandang, tersimpan harapan agar kehadiran para Polwan ini menjadi wajah kepolisian yang humanis, profesional, dan semakin dekat dengan masyarakat Papua.”
Secara kontekstual, penempatan tiga Polwan pada posisi Kapolres menunjukkan dinamika positif dalam sistem pembinaan karier di lingkungan Polri. Kebijakan tersebut tidak hanya memperluas representasi perempuan dalam jabatan strategis, tetapi juga memperkuat pesan bahwa profesionalisme, kompetensi, dan dedikasi menjadi tolok ukur utama dalam menentukan kepemimpinan, termasuk di wilayah Papua yang memiliki tantangan geografis, sosial, dan budaya yang khas.
Pada akhirnya, kisah tiga perempuan Papua ini bukan hanya tentang jabatan yang berhasil diraih. Ia adalah cerita mengenai kepercayaan yang dipikul, pengabdian yang diteruskan, dan harapan yang dititipkan kepada putri-putri terbaik Bumi Cenderawasih. Ketika keberanian bertemu kesempatan, sejarah tidak hanya dikenang—tetapi juga terus ditulis untuk menginspirasi generasi yang akan datang.


















