Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKabupaten MimikaKesehatanNasionalPolkam

Menyiapkan Dokter untuk Tanah Papua: Papua Tengah Petakan Kebutuhan, 35 Tenaga Medis Didorong ke Pendidikan Spesialis

96
×

Menyiapkan Dokter untuk Tanah Papua: Papua Tengah Petakan Kebutuhan, 35 Tenaga Medis Didorong ke Pendidikan Spesialis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di tengah bentangan hutan tropis, pesisir yang berjajar panjang, dan kampung-kampung yang masih harus ditempuh melalui sungai maupun jalur pegunungan, Papua Tengah sedang menata salah satu fondasi terpenting pembangunan manusia: pelayanan kesehatan yang merata dan berkeadilan.

Bukan sekadar menghitung jumlah tenaga medis, pemerintah kini mulai menyusun peta kebutuhan kesehatan secara lebih presisi. Dari ruang-ruang puskesmas di wilayah terpencil hingga rumah sakit rujukan, setiap data dikumpulkan untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan benar-benar hadir di tempat yang paling membutuhkan.

Example 300x600

Komitmen itu ditegaskan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Kristianus Tebai, M.Kes, usai kegiatan pendampingan penyusunan kebutuhan tenaga kesehatan di Hotel Horison Diana Timika, Rabu (17/6/2026).

Menurut Kristianus, Kabupaten Mimika menjadi salah satu daerah yang memiliki karakteristik pelayanan kesehatan yang kompleks karena mencakup wilayah pesisir hingga pegunungan. Kondisi tersebut menuntut adanya perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang akurat dan berbasis data.

“Kita harus punya data yang tepat mulai dari unit pelayanan terkecil sampai rumah sakit. Data itu menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terkait kebutuhan tenaga kesehatan,” kata Kristianus.

Baginya, data bukan sekadar angka yang tersusun dalam laporan. Data adalah kompas yang akan menentukan arah kebijakan kesehatan di masa depan, memastikan setiap tenaga medis ditempatkan sesuai kebutuhan masyarakat yang dilayani.

Kristianus menjelaskan, proses penyusunan kebutuhan tenaga kesehatan harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Kesehatan, hingga fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan cara itu, kekurangan tenaga kesehatan pada setiap unit layanan dapat diketahui secara pasti.

“Misalnya dari sembilan jenis tenaga kesehatan yang wajib ada di puskesmas, kita harus tahu mana yang masih kurang. Setelah dihitung, baru bisa diusulkan sehingga pemerataan tenaga kesehatan dapat terwujud,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Papua Tengah masih berada pada tahap pengumpulan dan verifikasi data sehingga belum dapat menyimpulkan secara pasti jumlah kekurangan tenaga kesehatan yang ada di seluruh wilayah provinsi tersebut.

Namun di balik proses perhitungan itu, pemerintah juga tengah menyiapkan langkah strategis yang lebih jauh. Papua Tengah tidak hanya ingin mengetahui kekurangan tenaga kesehatan, tetapi juga menyiapkan generasi tenaga medis yang akan mengisi kebutuhan tersebut di masa mendatang.

Melalui program peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan, pemerintah daerah membuka kesempatan bagi dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, hingga dokter subspesialis untuk melanjutkan pendidikan.

Program ini menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Papua Tengah guna menjawab kebutuhan tenaga medis, terutama di daerah pedalaman dan kawasan yang sulit dijangkau.

“Harapannya rumah sakit yang masih kekurangan dokter spesialis nantinya bisa diisi oleh putra-putri daerah yang telah menyelesaikan pendidikan mereka,” tutur Kristianus.

Pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Papua Tengah menargetkan sebanyak 35 tenaga dokter mengikuti pendidikan lanjutan. Jumlah tersebut terdiri atas 20 dokter umum dan dokter gigi, 10 dokter spesialis, serta 5 dokter subspesialis.

Lebih dari sekadar program pendidikan, langkah ini juga membawa semangat pemberdayaan masyarakat asli Papua. Kristianus menegaskan bahwa Orang Asli Papua (OAP) menjadi prioritas utama dalam program tersebut, terutama untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman maupun daerah yang memiliki tantangan keamanan.

“Anak-anak asli daerah harus menjadi bagian dari solusi. Ketika mereka kembali setelah menempuh pendidikan, diharapkan bisa mengabdi dan memperkuat pelayanan kesehatan di daerah asalnya,” ujarnya.

Secara kontekstual, kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan Papua Tengah tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik fasilitas kesehatan, tetapi juga pada investasi sumber daya manusia. Di daerah dengan bentang geografis yang luas dan tantangan akses yang tinggi, kehadiran tenaga medis lokal yang memahami kultur, bahasa, dan kondisi sosial masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang efektif dan berkelanjutan.

Di ujung setiap rencana, angka, dan kebijakan yang sedang disusun hari ini, tersimpan harapan tentang masa depan yang lebih sehat bagi Tanah Papua. Sebab ketika seorang anak Papua kelak kembali sebagai dokter spesialis untuk melayani kampung halamannya sendiri, yang pulang bukan hanya ilmu pengetahuan, melainkan juga harapan yang menemukan jalannya kembali ke rumah.

Example 300250